Masa Lapang ingatlah Allah, Allah Akan Ingat di Waktu Sempit
Mengajari anak untuk mengenal Allah harus mempunyai banyak metode, tapi Nabi kita Muhammad saw. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, pernah berpesan kepada sahabat mulia Abdullah bin Abbas, saat itu Abdullah bin Abbas masih belia. Rasul membonceng Abdullah bin Abbas diatas kendaraannya sembari menyampaikan beberapa pesan. Salah satu pesan Rasulullah adalah;
تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ
“Kenali Allah saat lapang, niscaya Allah akan mengenalimu di waktu sempit”
Ini adalah wasiat penting nan berharga. Jika kita ingin Allah mengenali, dalam arti menjaga kita pada saat ujian dan kesusahan menimpa, maka konsukwensinya kita juga harus mengingat Allah pada saat kita berada dalam kondisi yang lapang.
Kata ar-Raha’ yang dimaksud dalam hadits adalah situasi dimana kita dalam keadaan aman, umur panjang, badan sehat dan masih dimampukan untuk melakukan berbagai macam keta’atan. Sedangkan as-Syiddah, maksudnya; kondisi sulit saat kita sudah hampir putus harapan karena kelemahan dan ketidakmampuan kita menyelesaikan problematika yang ada.
Sebagai seorang makhluk bernama manusia, fikiran kita tak akan bisa menjangkau masa depan yang belum terjadi. Termasuk memprediksi apakah esok kita dalam kondisi lapang dan bahagia atau sebaliknya, susah dan sengsara.
Tapi seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, masa depan kini bisa diprediksi. Dengan mengunakan teori atau alat-alat teknologi modern yang mutakhir, kita bisa berspekulasi tentang hari esok. Termasuk mencari penjelasan-penjelasan ilmiah yang mungkin bisa membuat kita sedikit lega.
Meski begitu, perlu kita sadari; masih terlalu banyak yang tidak kita tahu, terlalu kecil kita sebagai manusia untuk memasukkan begitu banyak rahasia dan keagungan dan kebesaran-kebesaran Allah ke dalam kepala kita. Sehebat apapun manusia berfikir bisa menjawab semua persoalan melalui sains dan teknologi, tetap masih banyak hal-hal yang tak bisa kita cerna dengan akal dan tak bisa kita buktikan dengan sains.
Seperti Covid-19 yang kita rasakan hari ini, virus yang menyebar ke hampir seluruh penjuru dunia ini kian hari kian jadi misteri, belum ada titik terang pasti kapan akan berakhir. Perdebatan di kalangan paramedis, politikus, aparatur negara dan para tokoh seakan belum bisa memberikan solusi dan dampak siginifikan. Akumulasi dari semua ini akhirnya membuat rakyat jelata bingung, paranoid, bosan, masa bodoh, bahkan putus asa. Yang perlu kita renungkan baik-baik, fenomena ini sebelumnya tak pernah ada yang memprediksi, bahkan terfikir saja mungkin tidak. Ini hanya salah satu contoh.
Karena itulah, karena ketidakmampuan rasio kita untuk memprediksi hal-hal yang terkait dengan masa depan, kita diminta untuk mempersiapkannya. Termasuk masa sulit yang bisa saja terjadi pada kita esok atau lusa.
Dalam hal ini kita dituntut untuk sujud bersimpuh kepada Allah, mengakui bahwa kita manusia yang lemah, fakir dan butuh petunjuk. Kita diminta untuk kembali kepada petunjuk yang telah ditetapkan, petunjuk yang kita yakini tak ada sedikitpun keraguan di dalamnya yakni al-Qur’an dan hadits Rasulullah.
al-Qur’an telah memberikan kita petunjuk agar umat Islam selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah kondisi sulit diluar prediksi. Pelajaran dari kisah Nabi Yunus yang Allah ceritakan dalam al-Qur’an adalah salah satunya. Ketika Nabi Yunus berada dalam kegelapan perut ikan Paus, beliau berdo’a;
لا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“ Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat dzalim” (al-Anbiya’: 87)
Setelah 40 hari dalam kegelapan dalam perut ikan Paus tersebut, Allah menyelamatkan Nabi Yunus, padahal secara logika normal manusia, Nabi Yunus tak mungkin bisa selamat dalam kondisi yang sudah demikian rupa.
Pertanyaannya, apakah kita berfikir bahwa selamatnya Nabi Yunus dari perut ikan Paus itu karena doa tersebut?, Ternyata bukan, itu bukan satu-satunya sebab. Terkait sebab terkabulnya dijelaskan Allah di ayat lain;
فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ، لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit” (as-Shaffat: 143-144)
Maknanya; kalau bukan karena tasbih, banyaknya do’a, dzikir dan keta’atan yang dilakukan Nabi Yunus pada saat lapangnya beliau tidak akan ditolong Allah pada masa sulit (syiddah-nya).
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi Rasulullah bersabda:
(مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ (رواه الترمذي
“Siapa yang ingin dikabulkan oleh Allah ketika tertimpa kesulitan dan kesusahan, hendaknya memperbanyak doa ketika senang.”
Tidak ada yang instant dalam hidup ini, semua ada persiapannya. Begitu juga dengan kehidupan yang dijalani oleh seorang muslim, kemampuannya dalam mengatasi krisis dan melewati masa-masa sulit sangat bargantung pada apa yang dia lakukan pada masa lapangnya.
Orang mukmin tidak sama dengan orang kafir dalam mengingat Allah. Idealnya orang mukmin ingat kepada Allah baik dalam kondisi susah maupun lapang. Tapi tidak demikian dengan orang kafir yang ingat kepada Allah pada masa sulit saja, sehingga Allah mengabaikan permohonannya.
Demikianlah yang terjadi pada Fir’aun saat jalan laut yang dilaluinya mengejar Nabi Musa kembali menutup menjadi lautan.
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun ketika hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS Yunus: 90).
Tapi permohonan Fir’aun ini diabaikan oleh Allah, apa sebab?, Allah berfirman di ayat selanjutnya;
آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (Surat Yunus: 91).
Maka, dari kisah Nabi Yunus dan Fir’aun, sesungguhnya kita bisa melihat bahwa perbuatan yang kita lakukan di masa lapang kita sangat berpengaruh pada keadaan pada masa sulit. Sebab Nabi Yunus di tolong Allah karena beliau selalu menjaga ketaatan kepada Allah di masa lapang.
Sedangkan sebab diabaikannya doa Fir’aun karena perbuatan buruk dan zalim yang dilakukan pada masa lapang. Padahal mereka berdua dalam kondisi sulit yang sama, sama-sama berpasrah dan mengiba pertolongan dari Allah. Yang membedakannya adalah perbuatan yang mereka lakukan jauh sebelum kesulitan itu hadir dalam kehidupan keduanya. Yang satu ditolong, yang satu lagi diabaikan oleh Allah.
Sumber : annursolo.com