Senin, 12 Oktober 2020

Masa Lapang ingatlah Allah, Allah Akan Ingat di Waktu Sempit

 Masa Lapang ingatlah Allah, Allah Akan Ingat di Waktu Sempit

Mengajari anak  untuk mengenal  Allah harus mempunyai banyak metode, tapi Nabi kita Muhammad saw. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, pernah berpesan kepada sahabat mulia Abdullah bin Abbas, saat itu Abdullah bin Abbas masih belia. Rasul membonceng Abdullah bin Abbas diatas kendaraannya sembari menyampaikan beberapa pesan. Salah satu pesan Rasulullah adalah;


تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ


“Kenali Allah saat lapang, niscaya Allah akan mengenalimu di waktu sempit”


Ini adalah wasiat penting nan berharga. Jika kita ingin Allah mengenali, dalam arti menjaga kita pada saat ujian dan kesusahan menimpa, maka konsukwensinya kita juga harus mengingat Allah pada saat kita berada dalam kondisi yang lapang.


Kata ar-Raha’ yang dimaksud dalam hadits adalah situasi dimana kita dalam keadaan aman, umur panjang, badan sehat dan masih dimampukan untuk melakukan berbagai macam keta’atan. Sedangkan as-Syiddah, maksudnya; kondisi sulit saat kita sudah hampir putus harapan karena kelemahan dan ketidakmampuan kita menyelesaikan problematika yang ada.


Sebagai seorang makhluk bernama manusia, fikiran kita tak akan bisa menjangkau masa depan yang belum terjadi. Termasuk memprediksi apakah esok kita dalam kondisi lapang dan bahagia atau sebaliknya, susah dan sengsara.


Tapi seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, masa depan kini bisa diprediksi. Dengan mengunakan teori atau alat-alat teknologi modern yang mutakhir, kita bisa berspekulasi tentang hari esok. Termasuk mencari penjelasan-penjelasan ilmiah yang mungkin bisa membuat kita sedikit lega.


Meski begitu, perlu kita sadari; masih terlalu banyak yang tidak kita tahu, terlalu kecil kita sebagai manusia untuk memasukkan begitu banyak rahasia dan keagungan dan kebesaran-kebesaran Allah ke dalam kepala kita. Sehebat apapun manusia berfikir bisa menjawab semua persoalan melalui sains dan teknologi, tetap masih banyak hal-hal yang tak bisa kita cerna dengan akal dan tak bisa kita buktikan dengan sains.


Seperti Covid-19 yang kita rasakan hari ini, virus yang menyebar ke hampir seluruh penjuru dunia ini kian hari kian jadi misteri, belum ada titik terang pasti kapan akan berakhir. Perdebatan di kalangan paramedis, politikus, aparatur negara dan para tokoh seakan belum bisa memberikan solusi dan dampak siginifikan. Akumulasi dari semua ini akhirnya membuat rakyat jelata bingung, paranoid, bosan, masa bodoh, bahkan putus asa. Yang perlu kita renungkan baik-baik, fenomena ini sebelumnya tak pernah ada yang memprediksi, bahkan terfikir saja mungkin tidak. Ini hanya salah satu contoh.


Karena itulah, karena ketidakmampuan rasio kita untuk memprediksi hal-hal yang terkait dengan masa depan, kita diminta untuk mempersiapkannya. Termasuk masa sulit yang bisa saja terjadi pada kita esok atau lusa.


Dalam hal ini kita dituntut untuk sujud bersimpuh kepada Allah, mengakui bahwa kita manusia yang lemah, fakir dan butuh petunjuk. Kita diminta untuk kembali kepada petunjuk yang telah ditetapkan, petunjuk yang kita yakini tak ada sedikitpun keraguan di dalamnya yakni al-Qur’an dan hadits Rasulullah.


al-Qur’an telah memberikan kita petunjuk agar umat Islam selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah kondisi sulit diluar prediksi. Pelajaran dari kisah Nabi Yunus yang Allah ceritakan dalam al-Qur’an adalah salah satunya. Ketika Nabi Yunus berada dalam kegelapan  perut ikan Paus, beliau berdo’a;


لا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ


“ Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat dzalim” (al-Anbiya’: 87)


Setelah 40 hari dalam kegelapan dalam perut ikan Paus tersebut, Allah menyelamatkan Nabi Yunus, padahal secara logika normal manusia, Nabi Yunus tak mungkin bisa selamat dalam kondisi yang sudah demikian rupa.


Pertanyaannya, apakah kita berfikir bahwa selamatnya Nabi Yunus dari perut ikan Paus itu karena doa tersebut?, Ternyata bukan, itu bukan satu-satunya sebab. Terkait sebab terkabulnya dijelaskan Allah di ayat lain;


فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ، لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ


“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit” (as-Shaffat: 143-144)


Maknanya; kalau bukan karena tasbih, banyaknya do’a, dzikir dan keta’atan yang dilakukan Nabi Yunus pada saat lapangnya beliau tidak akan ditolong Allah pada masa sulit (syiddah-nya).           


Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi Rasulullah bersabda:


(مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ (رواه الترمذي


“Siapa yang ingin dikabulkan oleh Allah ketika tertimpa kesulitan dan kesusahan, hendaknya memperbanyak doa ketika senang.”


Tidak ada yang instant dalam hidup ini, semua ada persiapannya. Begitu juga dengan kehidupan yang dijalani oleh seorang muslim, kemampuannya dalam mengatasi krisis dan melewati masa-masa sulit sangat bargantung pada apa yang dia lakukan pada masa lapangnya.


Orang mukmin tidak sama dengan orang kafir dalam mengingat Allah. Idealnya orang mukmin ingat kepada Allah baik dalam kondisi susah maupun lapang. Tapi tidak demikian dengan orang kafir yang ingat kepada Allah pada masa sulit saja, sehingga Allah mengabaikan permohonannya.


Demikianlah yang terjadi pada Fir’aun saat jalan laut yang dilaluinya mengejar Nabi Musa kembali menutup menjadi lautan.


وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ


“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun ketika hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS Yunus: 90).


Tapi permohonan Fir’aun ini diabaikan oleh Allah, apa sebab?, Allah berfirman di ayat selanjutnya;


آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ


“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (Surat Yunus: 91).


Maka, dari kisah Nabi Yunus dan Fir’aun, sesungguhnya kita bisa melihat bahwa perbuatan yang kita lakukan di masa lapang kita sangat berpengaruh pada keadaan pada masa sulit. Sebab Nabi Yunus di tolong Allah karena beliau selalu menjaga ketaatan kepada Allah di masa lapang.


Sedangkan sebab diabaikannya doa Fir’aun karena perbuatan buruk dan zalim yang dilakukan pada masa lapang. Padahal mereka berdua dalam kondisi sulit yang sama, sama-sama berpasrah dan mengiba pertolongan dari Allah. Yang membedakannya adalah perbuatan yang mereka lakukan jauh sebelum kesulitan itu hadir dalam kehidupan keduanya. Yang satu ditolong, yang satu lagi diabaikan oleh Allah.




Sumber : annursolo.com

Abdullah bin al-Mubarak

 Abdullah bin al-Mubarak

Sengaja saya ingin sampaikan, suri tauladan bagi kita semua,kisah ulama ternama, yaitu  Abdullah bin al-Mubarak. Diantaranya keteladanan proses mencari pasangan hidup, sehingga lahir seorang anak yang sholih. Bahkan akhirnya menjadi seorang ulama besar pada zamannya.

NAMA lengkapnya adalah Abdullah bin al-Mubarak bin Wadhih, Abu Abdurrahman al-Handzali. Beliau lebih dikenal dengan Ibn al-Mubarak.

Ayahnya berasal dari Turki dan ibunya berkebangsaan Arab. Beliau dilahirkan pada tahun 118 H.

Ayahnya, al-Mubarak, dulunya hanyalah seorang mawla (pelayan) dari seorang saudagar besar. Ia lama bekerja di perkebunan saudagar itu. Pada suatu hari, datanglah saudagar tersebut ke perkebunannya. Ia menyuruh al-Mubarak mengambilkan buah delima yang manis dari kebunnya. Al-Mubarak pun bergegas mencari pohon delima dan memetik buahnya, kemudian menyerahkan buah itu kepada tuannya.

Setelah tuannya membelah dan memakan delima itu, ternyata rasanya kecut. Tuannya kesal sambil berkata, “Aku minta yang manis. Kamu malah ngasih yang kecut. Ambilkan yang manis!”

Al-Mubarak segera bergegas kembali dan memetik delima dari pohon yang lain. Buah delima itu lalu diberikan kepada tuannya.

Namun, lagi-lagi buah itu rasanya kecut. Tuannya makin kesal kepada al-Mubarak. Hal itu berlangsung sampai tiga kali.

Akhirnya, tuannya bertanya, “Sekian lama kamu merawat kebun ini, kamu tidak bisa membedakan yang manis dan yang kecut?” Al-Mubarak menjawab, “Tidak, Tuan.”

Tuannya bertanya lagi, “Mengapa?” Al-Mubarak menjawab, “Karena saya belum pernah sekalipun mencoba mencicipi buah yang ada di kebun ini. ”Tuannya bertanya lagi, “Mengapa bisa begitu?”

Al-Mubarak menjawab, “Karena selama saya bekerja di sini, Tuan belum pernah mengizinkan saya untuk mencicipi buah di kebun ini.”

Mendengar jawaban itu, tuannya merasa takjub. Ia takjub atas sikap amanah al-Mubarak. Al-Mubarak pun mendapat tempat di hati tuannya. Tuannya lalu menikahkan al-Mubarak dengan putrinya.

Dari perkawinan keduanya lalu lahir seorang bayi laki-laki yang diberi nama Abdullah. Dialah yang kelak kemudian menjadi ulama besar: Abdullah ibn al-Mubarak.

(Lihat: Wafayat al-A’yan, 3/32).

*

Ibn al-Mubarak dijuluki dengan banyak julukan. Di antaranya: Al-Hafizh, Syaikh al-Islam, Fakhr al-Mujahidin, dan Pemimpin Para Ahli Zuhud. Masih banyak gelar lainnya.

Beliau menghabiskan usianya untuk melakukan banyak safar dalam rangka mencari ilmu, berhaji, berjihad, dan berdagang. Karena itu beliau dikenal dengan “As-Sâffar” (orang yang rajin melakukan perjalanan).

Adz-Dzahabi menuturkan, Ibnul Mubarak mulai mencari ilmu sejak umur 20 tahun di daerahnya, Marwa. Pada tahun 141 H ia melanjutkan perjalanannya ke wilayah lain dan berguru kepada para tâbi’in.

Beberapa wilayah Islam yang pernah ia kunjungi dalam rangka menuntut ilmu antara lain: Yaman, Mesir, Suriah, Bashrah, dan Kufah. Karena begitu banyaknya ulama yang beliau kunjungi untuk berguru menuntut ilmu.

Ibrahim bin Ishaq al-Bunani menuturkan bahwa Ibnul Mubarak pernah berkisah, “Aku telah belajar dari 4.000 guru dan meriwayatkan hadits dari 1.000 ulama.”

Al-Abbas bin Mush’ab juga berkata, “Aku pernah meneliti guru-gurunya dalam periwayatan hadits. Ternyata aku menjumpai gurunya ada 800 ahli hadits.”

*

Salah satu akhlak beliau yang menonjol adalah selalu berusaha menyembunyikan amal kebaikannya dari penglihatan manusia. Al-Marwazi berkata: Aku pernah mendengar Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal berkata, “Ibnu al-Mubarak tidak diangkat derajatnya oleh Allah kecuali karena dia telah banyak melakukan kebaikan yang tidak diketahui banyak orang.” (Ibn ‘Asakir, Târîkh Dimasyqi,38/240).

Terkait itu, Muhammad bin Isa berkata, suatu hari Ibnu al-Mubarak pernah berjumpa dengan seorang pemuda. Beliau lalu menyampaikan hadits. Setelah itu beliau pergi.

Setelah beberapa hari, Ibnu al-Mubarak hendak menjumpai pemuda itu untuk kedua kalinya. Namun, beliau sudah tidak melihat anak muda itu. Ibnu al-Mubarak bertanya perihal anak muda tersebut kepada seseorang. Orang itu berkata kepada beliau bahwa pemuda itu terlilit utang sebesar 10 ribu dirham (kira-kira Rp 700 juta).

Lalu Ibnu al-Mubarak meminta dipertemukan dengan orang yang telah memberi pinjaman kepada pemuda tersebut. Setelah bertemu, segera Ibnu al-Mubarak membayarkan utang pemuda tersebut sebesar 10 ribu dirham kepada orang tersebut. Beliau berpesan agar orang itu tidak perlu bercerita kepada siapapun tentang hal ini selama beliau masih hidup.

Setelah beberapa hari Ibnu al-Mubarak menemui anak muda itu dan bertanya kepada dia, “Anak muda, dari mana saja engkau? Beberapa hari ini aku tidak melihatmu?”

Dia menjawab, “Abu Abdurrahman, saya terlilit utang hingga saya dipenjara. Namun, seseorang telah datang membayarkan utangku hingga aku bebas dari penjara. Saya tidak tahu siapa orang itu.”

Al-Mubarak berkata,”Alhamdulillah.” Anak muda itu baru mengetahui orang yang telah membayar utangnya setelah Ibn al-Mubarak meninggal (Ibn’ Asakir, Târikh Dimasyqi, 38/350).

Ibn al-Mubarak juga terkenal karena kemuliaan akhlaknya. Hasan bin ‘Arafah pernah mendengar Ibnu al-Mubarak berkata, “Aku pernah meminjam sebuah pena dari penduduk Syam. Setelah selesai, aku bermaksud pergi ke Syam untuk mengembalikan pena tersebut kepada pemiliknya. Namun, saat aku sampai di Marwa, tiba-tiba orang yang aku pinjam penanya itu telah berada di sampingku. Aku tidak segera memberikan pena itu hingga ia kembali ke Syam. Setelah ia kembali ke Syam, aku pun segera pergi menyusul dia ke Syam untuk untuk mengembalikan pena itu.” (Ahmad bin Ali Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi, Târikh Baghdâd, 10/160).

Ibn al-Mubarak juga seorang yang wara’. Ali bin al-Hasan bin Syaqiq pernah mendengar Ibn al-Mubarak berkata, “Sesungguhnya mengembalikan satu dirham dari sesuatu yang syubhat lebih baik bagiku daripada aku bersedekah 100 ribu sampai 600 ribu dirham.” (Ahmad bin Ali Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 10/139).

Ibn al-Mubarak pun terkenal karena kedermawanannya. Fudhail bin Iyadh berkata, “Ibn al-Mubarak biasa berinfak kepada orang-orang fakir setiap tahun sebanyak 100.000 dirham (kira-kira Rp 7 miliar).”

Karena keagungan dan kemuliaan Ibn al-Mubarak, tidak aneh jika adz-Dzahabi pernah berkata, “Sungguh aku menyukai Ibnu al-Mubarak karena Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan mencintai dia karena Allah Subhanahu Wata’ala, aku berharap Allah Subhanahu Wata’ala juga memberi aku sebagian kebaikan yang telah diberikan kepada dia seperti ketakwaan, kerajinan dalam beribadah, keikhlasan, kegemaran untuk berjihad, mempunyai ilmu yang luas, kepandaian, kesederhanaan, bijak dalam memberikan fatwa dan sifat-sifat terpuji.” (Abu al-Hajaj, Tahdzîb al-Kamâl, 16/15-16).

Ibn al-Mubarak wafat pada bulan Ramadhan saat kembali dari medan perang pada tahun 181 H dalam usia 63 tahun. * Arief B. Iskandar

(Khadim Ma’had Wakaf Darun Nahdhah al-Islamiyah)

Hidayatullah.com

Kamis, 08 Oktober 2020

Pondok Pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang

Sejarah Pondok Pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang

Sejarah berdirinya pondok pesantren Al-Burhan Hidayatullah Semarang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang perkembangan pesantren Hidayatullah Nasional. Pada mulanya Hidayatullah didirikan pada tanggal 7 Januari 1973 bertepatan pada tanggal 2 Dzulhijah 1972 di Balikpapan dalam bentuk pesantren oleh ustadz Abdullah Said (almarhum). Pesantren ini kemudian berkembang ke berbagai daerah hingga mencapai 120 buah cabang pada tahun 2000

Pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang sendiri baru dirintis pada tahun 1991 oleh beberapa anak muda yang sebagian merupakan santri dari pesantren Hidayatullah Balikpapan dan Surabaya yang memang mendapatkan tugas untuk mendirikan cabang di Semarang. Achmad Basunie, Umar Tauchid, Abdul Muhaimin dan Kusnadi adalah empat serangkai yang dengan gigih merintis cikal bakal pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang.

Sebagai langkah awal untuk menangani kegiatan pesantren Al Burhan Hidayatullah, dibentuklah sebuah yayasan yang diberi nama yayasan al-Burhan . Yayasan al-Burhan merupakan amal usaha Hidayatullah yang menangani empat bidang kegiatan, meliputi bidang dakwah, pendidikan, sosial dan ekonomi.

Di bidang sosial, pesantren Al Burhan Hidayatullah telah mendirikan panti asuhan yang menampung anak-anak tidak mampu dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seluruh biaya hidup harian hingga biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh panti. Dengan demikian seluruh santri-santri pesantren Hidayatullah tidak dipungut biaya karena mereka memang berasal dari kalangan dhuafa.

Untuk menghidupi santri-santrinya kegiatan usaha yang mula-mula dirintis oleh pesantren Al Burhan Hidayatullah adalah mendistribusikan majalah suara Hidayatullah dan membuka toko kecil yang menjual aneka kebutuhan pokok yang pada awalnya dilakukan dengan sistem delivery service atau diantar langsung ke pelanggan.

Di bidang pendidikan,  disamping  melaksanakan model pendidikan non formal diniyah ala pesantren, Hidayatullah sejak tahun 1999 telah merintis jenjang pendidikan formal setingkat SLTA berupa Madrasah Aliyah. Kemudian pada tahun 2004 kembali dirintis jenjang pendidikan formal setingkat SLTP berupa Madrasah Tsanawiyah (MTs). Mayoritas siswa di dua jenjang pendidikan  formal tersebut  merupakan snatri-santri mukim pesantren Al Burhan Hidayatullah sedangkan sebagian kecil lainnya merupakan santri kalong atau santri yang tidak berasrama mengingat tempat tinggal mereka adalah disekitar lokasi pesantren.

Di bidang dakwah, pesantren Al Burhan Hidayatullah aktif berkecimpung dalam aktivitas pembinaan spiritual ummat. Dai-dai pesantren Al Burhan Hidayatullah yang terdiri dari para pengasuh, ustadz, bahkan santri seniornya sejak awal telah memberikan pelayanan dakwah di masjid-masjid sebagai khatib, di kampus perguruan tinggi, di majelis taklim maupun di berbagai instansi swasta atau pemerintah.

Perkembangan Fisik Pesantren Hidayatullah

Membicarakan pesantren Al Burhan Hidayatullah maka identik dengan membicarakan pesantren kontraktor  atau pesantren yang melakukan aktivitasnya dibangunan sewa atau kontrakan , bahkan dari kasus-kasus yang ada di berbagai daerah tidak jarang menggunakan tempat atau rumah pinjaman dari simpatisan. Demikian pula halnya dengan pesantren Al Burhan Hidayatullah di Semarang, aktivitas awalnya dilakukan di sebuah rumah kontrakan di daerah Genuk Kaligawe pada tahun 1990-an.

Hingga sampai tahun 1995 pesantren Al Burhan Hidayatullah masih menempatkan aktivitasnya di rumah kontrakan yang setiap saat kadang berpindah-pindah. Bermula dari daerah Genuk Kaligawe pada tahun 1991 pesantren Al Burhan  Hidayatullah memboyong santrinya ke sebuah rumah yang dekat dengan pusat kota di jl. Singosari Timur nomor 8. Kemudian pada tahun 1994 pesantren menyewa sebuah rumah di jl. Wonodri Baru nomor 35 yang dijadikan sebagai kantor atau secretariat pesantren, sementara asrama pesantren tetap di jalan Singosari Timur.

Pada tahun 1993 pesantren Al Burhan Hidayatullah berhasil membebaskan tanah seluas 3.000 meter persegi di kelurahan Gedawang Kecamatan Banyumanik yang merupakan cikal bakal kampus pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang. Kemudian mulai tahun 1994 sebagian santri mulai diboyong ke lokasi tanah baru tersebut dengan menempati barak seadanya. Mulai tahun itu pula mulai dibangun kantor, ruang belajar, dan asrama yang semuanya semi permanent di tanah yang belum lama dibebaskan tersebut.

Pada tahun 1995 pesantren Al Burhan Hidayatullah membebaskan sebuah rumah di jalan Wonodri Baru nomor 41 yang kemudian digunakan sebagai secretariat pesantren di Semarang bawah sekaligus sebagai tempat kegiatan ekonomi berupa toko kelontong. Dengan demikian aktivitas kesekertariatan yang semula di lakukan di jalan Wonodri Baru nomor 35 di pindahkan ke jalan Wonodri Baru nomor 41, jaraknya hanya sekitar 50 meter.

Pada tahun 1996 merupakan tahun yang sangat bersejarah karena pada tahun tersebut pesantren dengan dukungan umat Islam di Semarang yang menjadi simpatisannya, membangun sebuah masjid yang cukup representative di lokasi kampus Gedawang. Sejak tahun itu pula seluruh santri diboyong ke lokasi kampus pesantren di Gedawang. Demikian seterusnya hingga tahun 1997 pesantren Al Burhan Hidayatullah terus gencar melakukan proyek pembangunan fasilitas fisiknya berupa asrama anak asuh dan ustadz.

Hingga tahun 2006 berbagai fasilitas fisik pesantren telah berdiri di Gedawang walaupun relative masih sederhana bahkan dirasa kurang memadai untuk menampung seluruh kegiatan pesantren yang semakin meningkat. Fasilitas fisik dimaksud terdiri dari bangunan masjid, kantor pesantren, bangunan sekolah/kelas, asrama santri laki-laki, asrama santri perempuan, rumah pengasuh dan dapur umum. Karena fasilitas fisik tersebut masih jauh dari memadai, maka sampai saat ini pihak pesantren masih terus berupaya mencari dukungan ummat untuk membangun dan melengkapi fasilitas fisik yang dibutuhkan. 

Metode Pendidikan

Sekolah milik pesantren Al Burhan Hidayatullah tidak selalu harus menggunakan nama Hidayatullah . Tetapi kurikulum disamakan, dengan kurikulum yang bersifat integral. Istilah integral menunjukkan satu kesatuan dari seluruh unsur pendidikan yang ada, baik imtaq maupun iptek, sekolah dan masyarakat, formal dan non formal, dsb. Karena itu sekolah yang dikelola Hidayatullah Semarang baik yang SLTP maupun SLTA bersifat full day (pagi sampai sore) bahkan bersifat pengasrama-an.

Sebagaimana disebut di muka, sekolah milik pesantren Al Burhan Hidayatullah tidak selalu menggunakan embel-embel Hidayatullah, demikian pula dengan yang di Semarang dimana nama yang digunakan adalah sama dengan nama  yayasan al-Burhan, MTs dan MA al-Burhan.

Seluruh santri akan menghabiskan harinya dari pagi sampai sore dijenjang pendidikan formal, sementara sore hingga malam adalah saatnya pelajaran diniyah kepesantrenan dan belajar secara pribadi (belajar mandiri).

Kurikulum yang digunakan di jenjang pendidikan formal merupakan perpaduan dari kurikulum yang di tetapkan oleh Diknas, Depag, dan diperkaya dengan muatan local berupa diniyah kepesantrenan. Kurikulum diniyah yang menjadi prioritas adalah, untuk santri putra bagaimana mempunyai kompetensi lulusan yang mampu berdakwah di masyarakat dengan bekal agama yang mumpuni, menguasai bahasa arab dan materi diniyah yang aplikatif. Sedangkan untuk santri putri, diprioritaskan untuk menguasai bahasa arab dan program tahfidz al quran. Dengan demikian diharapkan seluruh santri akan memiliki basis keilmuan yang komprehensif, disamping mempelajari ilmu-ilmu umum juga secara mendalam memperoleh pelajaran agama yang memadai.

Khusus untuk santri yang menempuh pendidikan formal setingkat SLTA, maka setelah lulus mereka tidak langsung keluar begitu saja dari pesantren karena mereka masih terikat kontrak selama 1 tahun masa pengabdian. Masa pengabdian tersebut di gagas untuk lebih menggembleng mental dan bekal para santri yang baru lulus jenjang pendidikan SLTA agar pada saatnya nanti hidup bermasyarakat sudah memiliki kepercayan diri yang tinggi.

Karena itu selama masa pengabdian para santri diharapkan mampu menjalaninya dengan baik. Beberapa aktivitas selama masa pengabdian dirancang sepenuhnya oleh pesantren Al Burhan Hidayatullah untuk meng-up grade kualitas para santri yang baru lulus tingkat SLTA tersebut. Sebagian dari mereka ada yang ditugaskan sebagai staf pengasuh pesantren dan asrama, ada yang ditugaskan menghidupkan masjid-masjid, menjadi staf amal-amal usaha pesantren, bahkan ada pula yang di tugaskan di daerah perintisan pesantren yang baru.

Pada dasarnya keseluruhan model dan sistem pendidikan di pesantren Al Burhan Hidayatullah memang dirancang agar santri tidak sekedar menguasai ilmu agama, namun juga memiliki sikap mental yang tidak pantang menyerah, kreatif, sekaligus mampu memberikan kontribusi bagi proses pembangunan dan pemberdayaan umat Islam

Kegiatan Pemberdayaan Santri

Konsep pemberdayaan bagi pesantren Al Burhan Hidayatullah tidak semata-mata mengacu pada pengertian pemberdayan secara ekonomi, namun lebih jauh dari itu diarahkan kepada pemberdayaan yang lebih komprehensif, meliputi pemberdayaan intelektual, mental, dan material.

Keseluruhan model pemberdayaan tersebut pada dasarnya secara langsung maupun tidak langsung telah diperkenalkan bahkan di praktikkan langsung sejak seorang santri masih duduk dibangku SLTP, proses itu kemudian semakin berkembang dan matang  menginjak mereka duduk di bangku SLTA, dimana pada saat itu mereka mulai dilibatkan secara langsung untuk mengembangkan tiga program pemberdayaan tersebut.

Pemberdayaan intelektual salah satunya dilakukan dengan cara menjadikan fokus penguasaan dua bahasa (Arab dan Inggris) sebagai mainstream bahasa yang mewarnai komunikasi keseharian. Mereka dibudayakan untuk membiasakan menggunakan dua bahasa tersebut bukan hanya dalam percakapan lisan saja, tapi juga dalam bentuk bahasa-bahasa tulis lewat majalah dinding, papan-papan petunjuk, dan pidato maupun khotbah yang di berikan.

Sementara itu, proses pemberdayaan mental seluruh santri, Hidayatullah tidak main-main, karena boleh jadi keunikan dan ciri khas sistem pendidikan Hidayatullah justru terletak pada adanya proses tersebut. Santri dengan berbagai latar belakang yang beragam harus siap mendapatkan bimbingan mental yang ketat sebagai bagian dari proses pendidikan yang integral. Santri-santri yang notabennya berasal dari kaum dhuafa dibangkitkan semangat dan motivasi hidupnya, sehingga mereka memiliki pandangan akan masa depannya dengan penuh percaya diri. Bukan sekedar rasa percaya diri saja yang dikembangkan, namun juga perasaan rendah hati juga ditanamkan agar santri tidak over acting dalam perilaku keseharian.

Beragam aktivitas untuk menggelontor rasa sombong dan menumbuhkan rasa rendah hati diberikan kepada seluruh santri. Tidak hanya tugas belajar saja, seluruh santri juga mendapatkan tugas tambahan seperti tugas masak, tugas bersih-bersih, tugas jaga, tugas mengasuh adik-adik santri, atau tugas mencuci piring. Semua tugas tersebut diberikan di bawah control dan penilaian pengasuh.

Program pemberdayaan ekonomi santri juga mendapatkan porsi yang besar di pesantren Al Burhan Hidayatullah dan tetap merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dari dua program pemberdayaan sebelumnya. Disebut tidak terpisahkan karena ketiga program pemberdayaan tersebut merupakan satu kesatuan yang saling memberi daya dukung. Intelektual yang terbangun di tambah dengan sikap mental yang kuat akan memberikan daya dukung luar biasa bagi proses pengembangan pemberdayaan ekonomi atau kemandirian mereka kelak.

Program atau kegiatan pemberdayaan untuk santri di orientasikan kepada lebih memberikan jalan atau peluang dan pengetahuan kepada mereka, bukan memberikan ikan atau uang sebagai modal kerja. Dengan ilmu yang dimiliki ditambah sikap mental yang kuat dan positif, sebagian dari mereka menjadi agen majalah dan buku-buku Islam, mengajar les privat di keluarga-keluarga muslim, atau ikut terlibat menangani amal usaha pesantren yang lainnya. Tidak sedikit diantar mereka yang karena ketekunannya akhirnya memiliki sumber pendapatan yang cukup memadai untuk ukuran mereka. bahkan banyak diantara mereka mampu melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi.

Selasa, 06 Oktober 2020

Pilih Janji Allah SWT. atau Seruan Setan?

Pada hari ahad, tanggal 4 Oktober 2020 saya diminta untuk ngisi kajian habis subuh di Masjid An Nur Gedawang Pesona Asri. Maka saya ambilkan tema khotbah jumat di www.arrisalah.net yang sesuai dengan kebutuhan jamaah pada saat itu. Karena materi khotbah, maka saya rubah redaksinya, agar mudah dipahami sebagai bahasa tulisan.

Silahkan di baca !

Imam Hasan al-Bashri menyebutkan, sekitar sembilan puluh tempat di dalam al-Qur’an menegaskan bahwa Allah telah menetapkan kadar rezeki dan menjaminnya untuk makhluk-Nya. Dan hanya pada satu ayat Allah menyebutkan ancaman setan, “asy-syaithaanu ya’idukumul faqra, “Setan menjanjikanmu dengan kefakiran.”

Akan tetapi, betapa anehnya manusia, mereka takut dengan satu kali ancaman setan yang hobi berdusta, lalu melupakan 90 kali janji Allah yang Mahabenar dan tak mungkin dusta.

Rasa takut manusia terhadap ancaman setan tersebut diindikasikan dengan beberapa keadaan;

Pertama, ketika manusia takut miskin, kekhawatirannya yang berlebihan menyebabkan ia kurang selektif dalam mencari penghasilan. Berlaku korup, menipu, transaksi riba, pergi ke dukun dan cara lain yang diharamkan.

Seperti slogan yang populer kita dengar “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal!” Ia lupa bahwa justru dengan mencukupkan yang halal niscaya rezki menjadi mudah. Sebaliknya, perbuatan dosa menjadi penghalang datangnya rezki atau menghilangkan keberkahannya. Nabi ﷺ bersabda,


إنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ


“Sesungguhnya seseorang bisa terhalang dari rezeki dikarenakan dosa yang ia perbuat” (HR Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim)

Jikalau pun seseorang mendapatkan rezeki dengan kemaksiatan, keberkahan akan dicabut. Harta tak membuat hidupnya bahagia, bahkan menjerumuskan ia ke dalam penderitaan dan kesengsaraan yang datang tak terkira. Belum lagi efek tertampiknya doa, tertolaknya amal shalih dan hisab yang berat di akhirat.

Kedua, ketika seseorang mengkhawatirkan dirinya fakir, lalu ia tenggelam dengan kesibukan mencari penghasilan, hingga menelantarkan kewajiban dan ketaatan kepada Allah.

Ketika itu, berarti ia telah mentaati setan dan mempercayai ancaman setan. Padahal, karakter setan itu ‘kadzuub’, pendusta. Berapa banyak dari kita yang menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memikirkan dan memburu harta. Di hari-hari biasa mereka sibuk belajar ilmu duniawi, yang lain lagi hanya fokus dengan bisnis duniawi, sementara hari libur dipergunakan untuk rekreasi. Lantas kapan mereka sempatkan belajar ilmu syar’I, kapan pula mereka pikirkan nasib ukhrawi. Bagaimana masuk akal ketika seseorang menyiapkan bekal untuk hidup selama 60 atau 70 tahun dengan bekerja seharian, namun mereka siapkan bekal untuk akhirat yang lamanya tak berujung justru hanya dengan waktu sisa dan tenaga sisa?

Padahal, rejeki itu mutlak dalam kekuasaan Allah. Dia memberi atau menahan rejeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan mencegah siapapun yang Dia kehendaki. Meski dengan ‘cash flow’ yang meyakinkan, rencana yang jitu, peluang yang menjanjikan, tetap saja Allah yang menjadi Penentu,


أَمَّنْ هَـٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ بَل لَّجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ ﴿٢١﴾


“Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?” (QS. al-Mulk: 21)

Bagaimana seseorang akan mendapatkan bagian cukup dari karunia-Nya, sementara ia berpaling dari ketaatan kepada-Nya? Logika yang sehat justru menunjukkan, bahwa dengan amal shalih, menjalankan ketaatan, menjauhi maksiat dan mendatangkan keridhaan Allah akan mengundang hadirnya kemurahan Allah. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,


إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِى أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ


“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Anak Adam, luangkanlah olehmu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan, dan aku tutup kefakiranmu. Jika tidak, niscaya Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan tidak Aku tutup kefakiranmu.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan “shahih”)

Tanda ketiga, bahwa seseorang telah terkena hasutan setan yang menakut-nakuti dengan kefakiran adalah tatkala manusia bakhil dan enggan berbagi.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan firman Allah,


الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّـهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٦٨﴾


“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui” (QS. al-Baqarah: 268)

Yakni setan menakut-nakutimu dengan membisikkan, “Jika kamu menginfakkan hartamu, kamu akan menjadi fakir” dan menyuruhmu berbuat fahsya’ yakni bakhil. Muqatil dan al-Kulabi mengatakan, “Semua kata fahsya’ dalam al-Qur’an maknanya adalah zina kecuali pada ayat ini, makna fahsya’ di sini adalah bakhil.”

Orang yang termakan oleh hasutan setan, pada akhirnya hanya mengenal hitungan matematis belaka. Bahwa uang akan berkurang nilainya ketika sebagian disedekahkan. Harta juga akan berkurang kadarnya jika dizakatkan sebagiannya. Mereka lupa bahwa harta yang di tangan mereka adalah pemberian dari Allah. Dan Allah menghendaki penambahan nikmat itu dengan cara sedekah, dan tercabutnya nikmat itu dengan maksiat dan menolak sedekah. Bahkan setiap datang pagi hari, dua malaikat turun untuk berdoa. Satu malaikat berdoa,


اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا


“Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) bagi yang bersedekah” (HR Bukhari)


Sedangkan malaikat satunya berdoa,


اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا


“Ya Allah, berilah kebangkrutan bagi orang yang menahan sedekah.” (HR Bukhari)


Lantas dimanakah letak cerdasnya akal bagi orang yang memilih doa kebangkrutan? Dimanakah pula keimanan seseorang yang lebih percaya satu kali janji setan pendusta katimbang 90 kali janji Allah SWT.? Adapun seorang mukmin, sepenuhnya yakin meski diingatkan dengan satu ayat saja,


وَاللَّـهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ


“Sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (QS al-Baqarah 268)


Kalimat Syahadat Adalah Kalimat Yang Paling Agung

Seiring dengan perjalanan sejarah, masih terlintas dibenak kita sebuah peristiwa memilukan hati dan sangat mengguncangkan jiwa. Peristiwa yang syarat dengan kesedihan dan kegundahan mendalam yang menuntut ketegaran sang pengemban risalah, bahkan eksistensinya ikut dipertaruhkan. Inilah peristiwa yang menimpa Rasululullah Saw, Tepatnya pada bulan Rajab tahun kesepuluh dari keNabian, ketika beliau mendatangi Pamannya Abu Tholib, dipenghujung hayatnya. Sementara itu Abu Jahal sudah berada disisinya.

Kemudian beliau berkata,

يَا عَمْ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا الَله كَلِمَةٌ أَشْهَدٌ لَكَ بِهَا عِنْد الله


“Paman, katakan la ilaha illallah, suatu kalimat yang dapat saya jadikan sebagai hujah disisi Allah. Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Mutholib? “keduanya terus berbicara kepada Abu Thalib, sehingga pada akhirnya Abu Thalib mengucapkan bahwa dia berada diatas agama Abdul Muthalib. Kemudian Nabi Saw berkata, “Aku akan memohonkan ampunan untuk anda selama tidak dilarang.” (Mutafaqun ‘alaihi). Lalu, turunlah ayat yang menegur beliau, “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahim. (QS. 9:113)


Termaktub di dalam kisah di atas, harapan dan usaha yang maksimal dari Rasulullah meyakinkan pamannya, supaya mengucapkan kalimat syahadat tauhid la ilahaillallah. Meskipun akhirnya pamannya meninggal dalam kekafiran dan berujung dengan kesedihan. Ada dua faktor yang melatar-belakangi kesedihan beliau. Pertama: Pamannya adalah satu-satunya orang yang mampu melindungi, membela Rasulullah saw, ikut berpatisipasi memajukan dakwahnya dan telah memberi kontribusi yang sangat bernilai bagi keberlangsungan dakwahnya ketika itu. Kedua: Ketika dipenghujung hayatnya, pamannya enggan mengucapkan kalimat syahadat la ilaha illallah. Dan faktor kedua inilah yang sangat disayangkan oleh beliau dan yang membuat beliau sedih dengan kesedihan yang mendalam.

Sekarang timbul pertanyaan yang mengganjal dibenak kita. Mengapa Rasulullah sangat sedih, lantaran pamannya meninggal tanpa mengikrarkan syahadat la ilaha illallah? Apa sebenarnya muatan hikmah yang tersirat didalamnya? Hal inilah yang melatarbelakangi pembahasan ini.

Kisah di atas merupakan contoh yang riil, yang dicontohkan baginda Nabi saw.  akan pentingnya syahadat. Beliau telah berusaha dengan sekuat tenaga mendakwahkan kalimat syahadat ini, meninggikan dan memegangnya dengan erat serta konsisten diatas jalannya. Bahkan tidak ada seorang pun, yang dapat menggoyahkan prinsip dan pendirian beliau. Kemudian setelah diamati dan ditelaah dari literatur yang ada, ternyata ada beberapa hikmah atau rahasia yang termuat didalamnya yaitu; Syahadat merupakan asas dari aqidah islam, hal ini dilihat dari esensi syahadatain. Disaat seseorang mengikrarkannya dua kalimat syahadat berarti ia berjanji, bersumpah dan siap untuk hanya beribadah kepada Allah saja, tunduk, taat dan patuh kepadanya, serta ada kesanggupan dari hati untuk menjauhi dan meninggalkan segala bentuk kekafiran dan kemusyrikin. Kemudian ia berjanji, bersumpah dan siap hanya meneladani Muhamad saw. dalam beribadah kepada Allah SWT, serta ada kesanggupan hati pula untuk menjauhi dan meninggalkan segala bentuk kebid’ahan. Ahlus Sunnah wal Jamaah telah sepakat bahwa mengucapkan syahadatain merupakan syarat syahnya iman seseorang. Rasulullah bersabda;


أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَه وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى الله 


“Aku disuruh supaya memerangi manusia sehingga mereka bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, beriman kepadaku dan kepada apa yang aku bawa. Jika mereka telah melakukan semua itu, maka darah dan harta mereka telah terjaga dariku kecuali dengan haknya, dan hisab mereka terserah kepada Allah.”(Diriwayatkan oleh Muslim).


Imam Nawawi berkata, “Hadits diatas menjelaskan tentang syarat syah diterimanya iman yaitu dengan mengikrarkan syahadatain dan meyakininya dengan sepenuh hati. Dan dia juga harus mengimani segala sesuatu yang dibawa oleh Rasululullah saw. Kemudian, syahadat merupakan syarat keislaman seseorang, hal ini sebagaimana telah diungkapkan Syaikhul ibnu Taimiyah, beliau berkata, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang belum mengucapkan syahadat, maka dia kafir. Padahal ia mampu mengucapkannya, tapi tidak mengikrarkannya. Dan pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Rajab Al-hambali, beliau berkata, “barangsiapa yang meninggalkan syahadatain, maka dia telah keluar dari dienul islam”.

Dari pemaparan para ulama diatas menjadi jelaslah bahwa syahadat merupakan inti bahkan asas dari aqidah islamiyah. Dengannya manusia terpilah menjadi muslim atau kafir. Ringkasnya, Jika seseorang tidak mengikrarkannya, tidak meyakininya dan tidak melaksanakan tuntutan yang ada didalamnya, maka tidak dikatagorikan sebagai seorang muslim bahkan dilarang untuk memberikan loyalitas kepadanya sampai hari kiamat.

Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda,”

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

“Dzikir yang paling utama (diucapkan oleh seseorang) adalah lailahaillallah.”(Diriwayatkan oleh Thirmidzi, hadits hasan shahih). 

Kalimat tauhid merupakan kalimat yang paling utama untuk diucapkan, karena didalamnya mengandung penetapan pada keEsaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penafian (peniadaan) dari segala bentuk kemusyrikan. Kalimat tersebut juga merupakan kalimat yang paling utama diucapkan oleh para Nabi, karenanya mereka diutus, dibawah panjinya mereka berperang, dengan menegakkannya mereka mendapatkan kesyahidan, dan kalimat tersebut adalah kunci pembuka syurga serta penyelamat dari neraka. Didalam tafsir Al-jami’liahkaml qur’an juga dijelaskan bahwa, kalimat Lailahaillallah lebih afdhol dari pada kalimat al-hamdu. Karena didalamnya mengandung pencegahan terhadap segala bentuk kekufuran dan kesyirikan, dan karenanya manusia diperangi. Dan pendapat inilah yang diambil oleh Ibnu ‘Atiyah dan Al-Hakim mereka berdalil dengan hadist;


أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُوْنَ مِنْ قَبْلِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ


“Kalimat yang utama saya ucapkan dan para Nabi sebelum saya, adalah la ilahaillallah wahdah laasyarikalah (tiada tuhan yang berhak  disembah kecuali Allah,  yang tiada sekutu baginya).

Selasa, 29 September 2020

Hidayah Datang Berkat Do'a Anak - Anak

 Hidayah datang berkat do'a anak anak

Tangis bahagia tak dapat disembunyikan oleh keluarga besar Bapak Tomy Prasetyo, Gedawang permai ll. 

Ungkapan rasa syukur yang teramat dalam  berkali kali terucap dari bibir bibir mereka, tangisan haru dan bahagia serta doa doa tulus dan iklas.

SEMOGA ALLAH SWT MENERIMA TAUBATNYA DAN RIDHO ATAS HIJRAHNYA BAPAK DONY SUSILO MENJADI SEORANG MUSLIM, SEMOGA BELIAU SEGERA BISA MENJALANKAN SYARIAT ISLAM DENGAN TULUS DAN KAFAH  doa dari Jamaah MADINA ( PESANTREN LANSIA MADINA) dan semua yang hadir tadi malam menghantarkan Bapak Dony Susilo memasuki gerbang sakral menjadi muslim, mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai MUALAF.

Selasa 29 September 2020 pukul 19.30 setelah sholat isya' saat hujan mengguyur dibumi Gedawang Semarang sejak jelang magrib hingga terhenti saat dua kalimat SYAHADAT selesai terucap dari lisan Bapak Dony (77) th.

Sebelum mualaf beliau adalah pemeluk Katolik yang taat. 

Diusia senjanya Ia menemukan hidayah dan Anugerah yang  tak pernah dirasakan nikmatnya.

Nikmat dan anugrah besar  yang tak pernah dirasakan selama hidupnya.

Prosesi ucapan Bacaan DUA KALIMAH SYAHADAT dilakukan dikediaman keluarga Bapak Tomy Prasetya, dipimpin oleh "Ustadz Masrukin Ali Syafi’I, S.Ag" Pengasuh Pesantren Lansia MADINA.

Alhamdulillah acara berjalan khusuk, lancar dan khidmad.

Semoga menambah kuatnya syi'ar Islam di Gedawang khususnya.

Dan menjadikan kita yang sudah berIslam terlebih dulu lebih meningkat Iman dan Taqwa kita kepada Allah SWT. dan Cinta kepada Sunah Rasulullah SAW.



PESANTREN LANSIA MADINA

Jalan menggapai Mardhotilah.

YAYASAN AN-NABA' AL-AMIN INDONESIA

Membangun Insan Mutmainah.


Barakallah.

Humas.081327967899

Senin, 17 Agustus 2020

DZIKIR TABATTUL

  

            Allah SWT. dengan kasih sayangNya kepada makhlukNya, terutama manusia, Ia turunkan al Quran kepada manusia pilihan, Nabi Muhammad saw. untuk menjadi pedoman hidup selama hidup di dunia fana. Agar manusia selamat hingga akhirat kelak. Sehingga ketika akan membahas tentang dzikir tabattul maka rujukan utamanya adalah al Quran dan hadits.

Alquran menyebut dzikir beberapa kali dalam berbagai surah. Di antaranya adalah surah an-Nisa ayat 103 ("Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, di waktu berbaring..."). Kemudian, surah ar-Ra'd ayat 28 ("Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram).

Secara harfiah, dzikir berarti menyebut, menuturkan, mengingat, atau mengerti perbuatan baik. Menurut istilah, sebagaimana disebutkan dalam Ensiklopedi Islamdzikir adalah ucapan lisan, gerakan raga maupun getaran hati sesuai dengan cara-cara yang diajarkan agama, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dzikir juga dimaknai sebagai upaya untuk menyingkirkan keadaan lupa dan lalai kepada Allah. Caranya dengan selalu ingat kepada-Nya. Dzikir mengeluarkan seorang mukmin dari suasana lupa, untuk kemudian masuk dalam suasana musyahadan (saling menyaksikan) dengan mata hati. Hal ini disebabkan adanya dorongan rasa cinta yang mendalam kepada Allah SWT.

Dalam kitab Tauhid jilid 2,  Rasulallah saw.  bersabda, “tidak ada bagian manusia yang tidak hancur kecuali satu tulang, yaitu ‘ajbudz dzanab (tulang yang berada di sulbi/rusuk yang paling bawah), darinya makhluk itu di susun kembali pada hari kiamat. (HR. Muslim IV/2270-2271)

‘Ajbudz dzanab diartikan pula dengan tulang ekor. Di dalam tulang ekor, sebagian kalangan yang menekuni dunia spiritual meyakini sebagai tempat pusat energi pencerahan. Maka penting bagi kita agar selama hidup di dunia, selalu tercerahkan. Apabila manusia telah tercerahkan, hidupnya insyaallah akan selalu mendapatkan bimbingan dari Allah Swt. Kita berusaha sungguh-sungguh berjuang untuk mencari keridhoan Allah Swt, dengan jalan senantiasa bertaqwa kepadaNya. Yakinlah,  Allah akan menunjukkan jalan petunjuk yang benar. Sebagaimana firmanNya :

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Ankabut : 69)

Salah satu cara untuk membangkitkan energi pencerahan tersebut adalah dengan mengamalkan dzikir tabattul, yaitu berdzikir dengan konsentrasi penuh kepada Allah Swt. Allah Swt berfirman,

وَٱذْكُرِ ٱسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (al Muzzammil : 8)

Dalam kitab tafsirnya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di menjelaskan, ”Sebutlah nama Rabbmu,”  mencakup berbagai macam dzikir, “dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan,” yakni konsentrasi padaNya, sebab konsentrasi dan kembali kepada Allah Swt. adalah terputusnya hati dari seluruh makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah Swt. serta segala sesuatu yang bisa mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya.

Kebangkitan spiritual hanya bisa dimunculkan ketika manusia dengan segenap hatinya menfokuskan dirinya pada Allah Swt. Ia adalah sandaran hakiki. Sumber energi atau kekuatan yang sangat kuat dan tidak pernah habis. Ia juga pemelihara dan pelindung terhadap seluruh makhlukNya, tanpa kecuali. Nabi Muhammad saw. pada suatu ketika diancam  dengan pedang terhunus oleh seorang pembunuh bayaran. Si Pembunuh yang telah meletakkan pedang di leher Nabi dengan nada mengancam,” Siapa yang dapat menyelamatkanmu dari pedangku?.” Dengan penuh percaya diri dan keyakinan yang mantap Nabi menjawab, “Allah!” Spontan pedang si Pembunuh terpental, dan Nabi mengancam balik, “Sekarang siapa yang bisa menyelamatkanmu?” “tidak ada,” kata si Pembunuh,” hanya belas kasihmu yang bisa menyelamatkan saya.”

Di lain kesempatan, Nabi pernah menasehati seorang anak muda yang kemudian menjadi pakar tafsir terbesar, Abdullah Ibnu Abbas -lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Abbas-   tentang bagaimana Allah adalah sumber energi, sumber kekuatan dan sumber pemelihara. Jika orang dengan sepenuhnya menggantungkan dirinya kepada Allah, maka ia berada dalam pemeliharaanNya sehingga tidak ada kekuatan apapun yang mampu mencelakakannya. Ketika seseorang butuh bantuanNya segera Dia memberikan bantuan tanpa menunggu. Karena itulah Nabi mengingatkan,” Peliharalah Allah, niscaya Dia memeliharamu, peliharalah Allah, niscaya kamu mendapatiNya selalu di hadapanmu. Apabila kamu memohon, maka memohonlah kepada Allah. Apabila kamu meminta bantuan, maka mintalah bantuan kepada Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya seandainya ummat berkumpul untuk memberi sesuatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberimu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan apabila mereka  berkumpul untuk menjatuhkan mudarat (kecelakaan) kepadamu, mereka tidak akan mampu menjatuhkannya kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu. Pena- pena telah diangkat dan lembaran telah ditutup. (HR. Turmudzi)   

Perhatikan firman Allah Swt. berikut, “karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu[Maksudnya: aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu.], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al Baqarah : 152). Dengan mengingat Tuhan sebanyak-banyaknya, dan istiqomah menyatakan Allah Swt adalah Tuhannya, bahkan sudah menjadi napas kehidupannya, maka Dia yang akan menjadi pelindung sejati. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.(QS. Fishshilat:30-31).

Maka setelah kita mengetahui tentang dzikir tabattul dan manfaatnya ini, seyogyanya kita mengamalkan setiap saat agar kita bahagia dunia hingga di akhirat. Semoga Allah Swt. menjadikan diri kita termasuk golongan yang khusnul khotimah di akhir kehidupannya. Sehingga selama hidup di dunia selalu berkhusnudzon (berbaik sangka) kepada Allah Swt.

Daftar Pustaka

Terjemah al quran al karim, Depag RI

Tafsir as Sa’di Surat al Muzzammil

Kitab Tauhid jilid II, tim Ahli Ilmu Tauhid

https://republika.co.id/berita/q7tr8z458/tiga-macam-zikir-menurut-ibnu-athaillah