Biografi Penulis

 

            Masrukin, dilahirkan di Grobogan, 21 oktober 1975 telah meninggalkan tempat kelahirannya setelah dari MTs Fathul Ulum, Gabus, untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan  diatasnya. Jatuh pilihannya di Magelang, kota yang terkenal dengan keamanan dan kerapiannya, karena di kota ini terdapat AKMIL (Akademi Militer), lembaga yang telah melahirkan tokoh – tokoh bangsa ini. Mulai tahun 1990 sampai tahun 1993, bapak lima anak ini belajar di MAN Magelang dengan bertempat tinggal di Perumahan AKMIL Panca Arga I. Lingkungan yang serba disiplin membuat penulis selalu mengisi kegiatan belajar tambahan selesai pendidikan formalnya. Ia datangi guru bahasa arabnya untuk mendapatkan bimbingan ilmu dasar bahasa arab.

            Setelah lulus dari MAN Magelang, pria yang mengajar di MTs-MA Al Burhan Semarang ini, melanjutkan studinya di IAIN Walisongo Semarang Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Hadits. Tepat tahun 2000 penulis menyelesaikan pendidikan S1 nya. Karena merasa masih kurang dalam penguasaan bahasa arab, bapak yang berkaca mata minus ini melanjutkan studinya di Pesantren Al Irsyad, Tengaran, kabupaten Semarang.

            Selain menekuni dunia pendidikan, pria yang tinggal di Gedawang Rt 02 Rw 02, Banyumanik, Semarang ini, juga aktif berdakwah di berbagai kalangan masyarakat kota Semarang dan sekitarnya.  Sehingga diapun diamanahi sebagai ketua II Forum Komunikasi Ulama Semarang  ( FOKUS  ) periode 2009 -  2014. Ditengah kesibukannya, beliaupun masih meluangkan waktunya untuk menghadirkan buku perdana karyanya sebagai wujud pengabdian kepada ummat dalam memberikan pencerahan spiritual dengan metode Sistematika Wahyu (SW), terangkum dalam Tujuh Tahap Kesempurnaan Hidup, yang telah diterbitkan oleh PT. Rizki Putra Semarang.

            Aktivitas berikutnya, penulis yang berkaca mata minus ini mendakwahkan Islam melalui Terapi Ruqyah Syar’iyyah. Untuk mendapatkan sanad keilmuan di bidang Ruqyah Syar’iyyah, tepat pada tanggal 03 Maret 2020 di Gedung PWNU Jawa Tengah telah mengikuti Pelatihan Ruqyah Aswaja selama satu hari, dan selanjutnya mendapatkan ijazah dari Ketua Dewan Pembina Yayasan Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (JRA), Alamah A’laudin Shiddiqiy, M.Pd.I.

            Dengan telah mendapatkah Ijazah tersebut, penulis mendapatkan restu dan izin untuk membantu masyarakat dalam terapi Ruqyah Syar’iyyah di kota Semarang dan sekitarnya. Motto yang selalu disyiarkan adalah Al-Qur'an sebagai obat pertama dan utama bagi makhluk (manusia/hewan/jin) yang sakit, dan visinya adalah terlaksananya dakwah Al-Qur'an bir-ruqyah yang rahmatan lil Alamin.

 

 

0 komentar:

Posting Komentar