Sejarah Pondok Pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang
Sejarah berdirinya pondok pesantren Al-Burhan Hidayatullah Semarang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang perkembangan pesantren Hidayatullah Nasional. Pada mulanya Hidayatullah didirikan pada tanggal 7 Januari 1973 bertepatan pada tanggal 2 Dzulhijah 1972 di Balikpapan dalam bentuk pesantren oleh ustadz Abdullah Said (almarhum). Pesantren ini kemudian berkembang ke berbagai daerah hingga mencapai 120 buah cabang pada tahun 2000
Pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang sendiri baru dirintis pada tahun 1991 oleh beberapa anak muda yang sebagian merupakan santri dari pesantren Hidayatullah Balikpapan dan Surabaya yang memang mendapatkan tugas untuk mendirikan cabang di Semarang. Achmad Basunie, Umar Tauchid, Abdul Muhaimin dan Kusnadi adalah empat serangkai yang dengan gigih merintis cikal bakal pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang.
Sebagai langkah awal untuk menangani kegiatan pesantren Al Burhan Hidayatullah, dibentuklah sebuah yayasan yang diberi nama yayasan al-Burhan . Yayasan al-Burhan merupakan amal usaha Hidayatullah yang menangani empat bidang kegiatan, meliputi bidang dakwah, pendidikan, sosial dan ekonomi.
Di bidang sosial, pesantren Al Burhan Hidayatullah telah mendirikan panti asuhan yang menampung anak-anak tidak mampu dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seluruh biaya hidup harian hingga biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh panti. Dengan demikian seluruh santri-santri pesantren Hidayatullah tidak dipungut biaya karena mereka memang berasal dari kalangan dhuafa.
Untuk menghidupi santri-santrinya kegiatan usaha yang mula-mula dirintis oleh pesantren Al Burhan Hidayatullah adalah mendistribusikan majalah suara Hidayatullah dan membuka toko kecil yang menjual aneka kebutuhan pokok yang pada awalnya dilakukan dengan sistem delivery service atau diantar langsung ke pelanggan.
Di bidang pendidikan, disamping melaksanakan model pendidikan non formal diniyah ala pesantren, Hidayatullah sejak tahun 1999 telah merintis jenjang pendidikan formal setingkat SLTA berupa Madrasah Aliyah. Kemudian pada tahun 2004 kembali dirintis jenjang pendidikan formal setingkat SLTP berupa Madrasah Tsanawiyah (MTs). Mayoritas siswa di dua jenjang pendidikan formal tersebut merupakan snatri-santri mukim pesantren Al Burhan Hidayatullah sedangkan sebagian kecil lainnya merupakan santri kalong atau santri yang tidak berasrama mengingat tempat tinggal mereka adalah disekitar lokasi pesantren.
Di bidang dakwah, pesantren Al Burhan Hidayatullah aktif berkecimpung dalam aktivitas pembinaan spiritual ummat. Dai-dai pesantren Al Burhan Hidayatullah yang terdiri dari para pengasuh, ustadz, bahkan santri seniornya sejak awal telah memberikan pelayanan dakwah di masjid-masjid sebagai khatib, di kampus perguruan tinggi, di majelis taklim maupun di berbagai instansi swasta atau pemerintah.
Perkembangan Fisik Pesantren Hidayatullah
Membicarakan pesantren Al Burhan Hidayatullah maka identik dengan membicarakan pesantren kontraktor atau pesantren yang melakukan aktivitasnya dibangunan sewa atau kontrakan , bahkan dari kasus-kasus yang ada di berbagai daerah tidak jarang menggunakan tempat atau rumah pinjaman dari simpatisan. Demikian pula halnya dengan pesantren Al Burhan Hidayatullah di Semarang, aktivitas awalnya dilakukan di sebuah rumah kontrakan di daerah Genuk Kaligawe pada tahun 1990-an.
Hingga sampai tahun 1995 pesantren Al Burhan Hidayatullah masih menempatkan aktivitasnya di rumah kontrakan yang setiap saat kadang berpindah-pindah. Bermula dari daerah Genuk Kaligawe pada tahun 1991 pesantren Al Burhan Hidayatullah memboyong santrinya ke sebuah rumah yang dekat dengan pusat kota di jl. Singosari Timur nomor 8. Kemudian pada tahun 1994 pesantren menyewa sebuah rumah di jl. Wonodri Baru nomor 35 yang dijadikan sebagai kantor atau secretariat pesantren, sementara asrama pesantren tetap di jalan Singosari Timur.
Pada tahun 1993 pesantren Al Burhan Hidayatullah berhasil membebaskan tanah seluas 3.000 meter persegi di kelurahan Gedawang Kecamatan Banyumanik yang merupakan cikal bakal kampus pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang. Kemudian mulai tahun 1994 sebagian santri mulai diboyong ke lokasi tanah baru tersebut dengan menempati barak seadanya. Mulai tahun itu pula mulai dibangun kantor, ruang belajar, dan asrama yang semuanya semi permanent di tanah yang belum lama dibebaskan tersebut.
Pada tahun 1995 pesantren Al Burhan Hidayatullah membebaskan sebuah rumah di jalan Wonodri Baru nomor 41 yang kemudian digunakan sebagai secretariat pesantren di Semarang bawah sekaligus sebagai tempat kegiatan ekonomi berupa toko kelontong. Dengan demikian aktivitas kesekertariatan yang semula di lakukan di jalan Wonodri Baru nomor 35 di pindahkan ke jalan Wonodri Baru nomor 41, jaraknya hanya sekitar 50 meter.
Pada tahun 1996 merupakan tahun yang sangat bersejarah karena pada tahun tersebut pesantren dengan dukungan umat Islam di Semarang yang menjadi simpatisannya, membangun sebuah masjid yang cukup representative di lokasi kampus Gedawang. Sejak tahun itu pula seluruh santri diboyong ke lokasi kampus pesantren di Gedawang. Demikian seterusnya hingga tahun 1997 pesantren Al Burhan Hidayatullah terus gencar melakukan proyek pembangunan fasilitas fisiknya berupa asrama anak asuh dan ustadz.
Hingga tahun 2006 berbagai fasilitas fisik pesantren telah berdiri di Gedawang walaupun relative masih sederhana bahkan dirasa kurang memadai untuk menampung seluruh kegiatan pesantren yang semakin meningkat. Fasilitas fisik dimaksud terdiri dari bangunan masjid, kantor pesantren, bangunan sekolah/kelas, asrama santri laki-laki, asrama santri perempuan, rumah pengasuh dan dapur umum. Karena fasilitas fisik tersebut masih jauh dari memadai, maka sampai saat ini pihak pesantren masih terus berupaya mencari dukungan ummat untuk membangun dan melengkapi fasilitas fisik yang dibutuhkan.
Metode Pendidikan
Sekolah milik pesantren Al Burhan Hidayatullah tidak selalu harus menggunakan nama Hidayatullah . Tetapi kurikulum disamakan, dengan kurikulum yang bersifat integral. Istilah integral menunjukkan satu kesatuan dari seluruh unsur pendidikan yang ada, baik imtaq maupun iptek, sekolah dan masyarakat, formal dan non formal, dsb. Karena itu sekolah yang dikelola Hidayatullah Semarang baik yang SLTP maupun SLTA bersifat full day (pagi sampai sore) bahkan bersifat pengasrama-an.
Sebagaimana disebut di muka, sekolah milik pesantren Al Burhan Hidayatullah tidak selalu menggunakan embel-embel Hidayatullah, demikian pula dengan yang di Semarang dimana nama yang digunakan adalah sama dengan nama yayasan al-Burhan, MTs dan MA al-Burhan.
Seluruh santri akan menghabiskan harinya dari pagi sampai sore dijenjang pendidikan formal, sementara sore hingga malam adalah saatnya pelajaran diniyah kepesantrenan dan belajar secara pribadi (belajar mandiri).
Kurikulum yang digunakan di jenjang pendidikan formal merupakan perpaduan dari kurikulum yang di tetapkan oleh Diknas, Depag, dan diperkaya dengan muatan local berupa diniyah kepesantrenan. Kurikulum diniyah yang menjadi prioritas adalah, untuk santri putra bagaimana mempunyai kompetensi lulusan yang mampu berdakwah di masyarakat dengan bekal agama yang mumpuni, menguasai bahasa arab dan materi diniyah yang aplikatif. Sedangkan untuk santri putri, diprioritaskan untuk menguasai bahasa arab dan program tahfidz al quran. Dengan demikian diharapkan seluruh santri akan memiliki basis keilmuan yang komprehensif, disamping mempelajari ilmu-ilmu umum juga secara mendalam memperoleh pelajaran agama yang memadai.
Khusus untuk santri yang menempuh pendidikan formal setingkat SLTA, maka setelah lulus mereka tidak langsung keluar begitu saja dari pesantren karena mereka masih terikat kontrak selama 1 tahun masa pengabdian. Masa pengabdian tersebut di gagas untuk lebih menggembleng mental dan bekal para santri yang baru lulus jenjang pendidikan SLTA agar pada saatnya nanti hidup bermasyarakat sudah memiliki kepercayan diri yang tinggi.
Karena itu selama masa pengabdian para santri diharapkan mampu menjalaninya dengan baik. Beberapa aktivitas selama masa pengabdian dirancang sepenuhnya oleh pesantren Al Burhan Hidayatullah untuk meng-up grade kualitas para santri yang baru lulus tingkat SLTA tersebut. Sebagian dari mereka ada yang ditugaskan sebagai staf pengasuh pesantren dan asrama, ada yang ditugaskan menghidupkan masjid-masjid, menjadi staf amal-amal usaha pesantren, bahkan ada pula yang di tugaskan di daerah perintisan pesantren yang baru.
Pada dasarnya keseluruhan model dan sistem pendidikan di pesantren Al Burhan Hidayatullah memang dirancang agar santri tidak sekedar menguasai ilmu agama, namun juga memiliki sikap mental yang tidak pantang menyerah, kreatif, sekaligus mampu memberikan kontribusi bagi proses pembangunan dan pemberdayaan umat Islam
Kegiatan Pemberdayaan Santri
Konsep pemberdayaan bagi pesantren Al Burhan Hidayatullah tidak semata-mata mengacu pada pengertian pemberdayan secara ekonomi, namun lebih jauh dari itu diarahkan kepada pemberdayaan yang lebih komprehensif, meliputi pemberdayaan intelektual, mental, dan material.
Keseluruhan model pemberdayaan tersebut pada dasarnya secara langsung maupun tidak langsung telah diperkenalkan bahkan di praktikkan langsung sejak seorang santri masih duduk dibangku SLTP, proses itu kemudian semakin berkembang dan matang menginjak mereka duduk di bangku SLTA, dimana pada saat itu mereka mulai dilibatkan secara langsung untuk mengembangkan tiga program pemberdayaan tersebut.
Pemberdayaan intelektual salah satunya dilakukan dengan cara menjadikan fokus penguasaan dua bahasa (Arab dan Inggris) sebagai mainstream bahasa yang mewarnai komunikasi keseharian. Mereka dibudayakan untuk membiasakan menggunakan dua bahasa tersebut bukan hanya dalam percakapan lisan saja, tapi juga dalam bentuk bahasa-bahasa tulis lewat majalah dinding, papan-papan petunjuk, dan pidato maupun khotbah yang di berikan.
Sementara itu, proses pemberdayaan mental seluruh santri, Hidayatullah tidak main-main, karena boleh jadi keunikan dan ciri khas sistem pendidikan Hidayatullah justru terletak pada adanya proses tersebut. Santri dengan berbagai latar belakang yang beragam harus siap mendapatkan bimbingan mental yang ketat sebagai bagian dari proses pendidikan yang integral. Santri-santri yang notabennya berasal dari kaum dhuafa dibangkitkan semangat dan motivasi hidupnya, sehingga mereka memiliki pandangan akan masa depannya dengan penuh percaya diri. Bukan sekedar rasa percaya diri saja yang dikembangkan, namun juga perasaan rendah hati juga ditanamkan agar santri tidak over acting dalam perilaku keseharian.
Beragam aktivitas untuk menggelontor rasa sombong dan menumbuhkan rasa rendah hati diberikan kepada seluruh santri. Tidak hanya tugas belajar saja, seluruh santri juga mendapatkan tugas tambahan seperti tugas masak, tugas bersih-bersih, tugas jaga, tugas mengasuh adik-adik santri, atau tugas mencuci piring. Semua tugas tersebut diberikan di bawah control dan penilaian pengasuh.
Program pemberdayaan ekonomi santri juga mendapatkan porsi yang besar di pesantren Al Burhan Hidayatullah dan tetap merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dari dua program pemberdayaan sebelumnya. Disebut tidak terpisahkan karena ketiga program pemberdayaan tersebut merupakan satu kesatuan yang saling memberi daya dukung. Intelektual yang terbangun di tambah dengan sikap mental yang kuat akan memberikan daya dukung luar biasa bagi proses pengembangan pemberdayaan ekonomi atau kemandirian mereka kelak.
Program atau kegiatan pemberdayaan untuk santri di orientasikan kepada lebih memberikan jalan atau peluang dan pengetahuan kepada mereka, bukan memberikan ikan atau uang sebagai modal kerja. Dengan ilmu yang dimiliki ditambah sikap mental yang kuat dan positif, sebagian dari mereka menjadi agen majalah dan buku-buku Islam, mengajar les privat di keluarga-keluarga muslim, atau ikut terlibat menangani amal usaha pesantren yang lainnya. Tidak sedikit diantar mereka yang karena ketekunannya akhirnya memiliki sumber pendapatan yang cukup memadai untuk ukuran mereka. bahkan banyak diantara mereka mampu melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi.
0 komentar:
Posting Komentar