Selasa, 06 Oktober 2020

Kalimat Syahadat Adalah Kalimat Yang Paling Agung

Seiring dengan perjalanan sejarah, masih terlintas dibenak kita sebuah peristiwa memilukan hati dan sangat mengguncangkan jiwa. Peristiwa yang syarat dengan kesedihan dan kegundahan mendalam yang menuntut ketegaran sang pengemban risalah, bahkan eksistensinya ikut dipertaruhkan. Inilah peristiwa yang menimpa Rasululullah Saw, Tepatnya pada bulan Rajab tahun kesepuluh dari keNabian, ketika beliau mendatangi Pamannya Abu Tholib, dipenghujung hayatnya. Sementara itu Abu Jahal sudah berada disisinya.

Kemudian beliau berkata,

يَا عَمْ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا الَله كَلِمَةٌ أَشْهَدٌ لَكَ بِهَا عِنْد الله


“Paman, katakan la ilaha illallah, suatu kalimat yang dapat saya jadikan sebagai hujah disisi Allah. Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Mutholib? “keduanya terus berbicara kepada Abu Thalib, sehingga pada akhirnya Abu Thalib mengucapkan bahwa dia berada diatas agama Abdul Muthalib. Kemudian Nabi Saw berkata, “Aku akan memohonkan ampunan untuk anda selama tidak dilarang.” (Mutafaqun ‘alaihi). Lalu, turunlah ayat yang menegur beliau, “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahim. (QS. 9:113)


Termaktub di dalam kisah di atas, harapan dan usaha yang maksimal dari Rasulullah meyakinkan pamannya, supaya mengucapkan kalimat syahadat tauhid la ilahaillallah. Meskipun akhirnya pamannya meninggal dalam kekafiran dan berujung dengan kesedihan. Ada dua faktor yang melatar-belakangi kesedihan beliau. Pertama: Pamannya adalah satu-satunya orang yang mampu melindungi, membela Rasulullah saw, ikut berpatisipasi memajukan dakwahnya dan telah memberi kontribusi yang sangat bernilai bagi keberlangsungan dakwahnya ketika itu. Kedua: Ketika dipenghujung hayatnya, pamannya enggan mengucapkan kalimat syahadat la ilaha illallah. Dan faktor kedua inilah yang sangat disayangkan oleh beliau dan yang membuat beliau sedih dengan kesedihan yang mendalam.

Sekarang timbul pertanyaan yang mengganjal dibenak kita. Mengapa Rasulullah sangat sedih, lantaran pamannya meninggal tanpa mengikrarkan syahadat la ilaha illallah? Apa sebenarnya muatan hikmah yang tersirat didalamnya? Hal inilah yang melatarbelakangi pembahasan ini.

Kisah di atas merupakan contoh yang riil, yang dicontohkan baginda Nabi saw.  akan pentingnya syahadat. Beliau telah berusaha dengan sekuat tenaga mendakwahkan kalimat syahadat ini, meninggikan dan memegangnya dengan erat serta konsisten diatas jalannya. Bahkan tidak ada seorang pun, yang dapat menggoyahkan prinsip dan pendirian beliau. Kemudian setelah diamati dan ditelaah dari literatur yang ada, ternyata ada beberapa hikmah atau rahasia yang termuat didalamnya yaitu; Syahadat merupakan asas dari aqidah islam, hal ini dilihat dari esensi syahadatain. Disaat seseorang mengikrarkannya dua kalimat syahadat berarti ia berjanji, bersumpah dan siap untuk hanya beribadah kepada Allah saja, tunduk, taat dan patuh kepadanya, serta ada kesanggupan dari hati untuk menjauhi dan meninggalkan segala bentuk kekafiran dan kemusyrikin. Kemudian ia berjanji, bersumpah dan siap hanya meneladani Muhamad saw. dalam beribadah kepada Allah SWT, serta ada kesanggupan hati pula untuk menjauhi dan meninggalkan segala bentuk kebid’ahan. Ahlus Sunnah wal Jamaah telah sepakat bahwa mengucapkan syahadatain merupakan syarat syahnya iman seseorang. Rasulullah bersabda;


أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَه وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى الله 


“Aku disuruh supaya memerangi manusia sehingga mereka bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, beriman kepadaku dan kepada apa yang aku bawa. Jika mereka telah melakukan semua itu, maka darah dan harta mereka telah terjaga dariku kecuali dengan haknya, dan hisab mereka terserah kepada Allah.”(Diriwayatkan oleh Muslim).


Imam Nawawi berkata, “Hadits diatas menjelaskan tentang syarat syah diterimanya iman yaitu dengan mengikrarkan syahadatain dan meyakininya dengan sepenuh hati. Dan dia juga harus mengimani segala sesuatu yang dibawa oleh Rasululullah saw. Kemudian, syahadat merupakan syarat keislaman seseorang, hal ini sebagaimana telah diungkapkan Syaikhul ibnu Taimiyah, beliau berkata, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang belum mengucapkan syahadat, maka dia kafir. Padahal ia mampu mengucapkannya, tapi tidak mengikrarkannya. Dan pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Rajab Al-hambali, beliau berkata, “barangsiapa yang meninggalkan syahadatain, maka dia telah keluar dari dienul islam”.

Dari pemaparan para ulama diatas menjadi jelaslah bahwa syahadat merupakan inti bahkan asas dari aqidah islamiyah. Dengannya manusia terpilah menjadi muslim atau kafir. Ringkasnya, Jika seseorang tidak mengikrarkannya, tidak meyakininya dan tidak melaksanakan tuntutan yang ada didalamnya, maka tidak dikatagorikan sebagai seorang muslim bahkan dilarang untuk memberikan loyalitas kepadanya sampai hari kiamat.

Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda,”

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

“Dzikir yang paling utama (diucapkan oleh seseorang) adalah lailahaillallah.”(Diriwayatkan oleh Thirmidzi, hadits hasan shahih). 

Kalimat tauhid merupakan kalimat yang paling utama untuk diucapkan, karena didalamnya mengandung penetapan pada keEsaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penafian (peniadaan) dari segala bentuk kemusyrikan. Kalimat tersebut juga merupakan kalimat yang paling utama diucapkan oleh para Nabi, karenanya mereka diutus, dibawah panjinya mereka berperang, dengan menegakkannya mereka mendapatkan kesyahidan, dan kalimat tersebut adalah kunci pembuka syurga serta penyelamat dari neraka. Didalam tafsir Al-jami’liahkaml qur’an juga dijelaskan bahwa, kalimat Lailahaillallah lebih afdhol dari pada kalimat al-hamdu. Karena didalamnya mengandung pencegahan terhadap segala bentuk kekufuran dan kesyirikan, dan karenanya manusia diperangi. Dan pendapat inilah yang diambil oleh Ibnu ‘Atiyah dan Al-Hakim mereka berdalil dengan hadist;


أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُوْنَ مِنْ قَبْلِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ


“Kalimat yang utama saya ucapkan dan para Nabi sebelum saya, adalah la ilahaillallah wahdah laasyarikalah (tiada tuhan yang berhak  disembah kecuali Allah,  yang tiada sekutu baginya).

0 komentar:

Posting Komentar