Senin, 17 Agustus 2020

DZIKIR TABATTUL

  

            Allah SWT. dengan kasih sayangNya kepada makhlukNya, terutama manusia, Ia turunkan al Quran kepada manusia pilihan, Nabi Muhammad saw. untuk menjadi pedoman hidup selama hidup di dunia fana. Agar manusia selamat hingga akhirat kelak. Sehingga ketika akan membahas tentang dzikir tabattul maka rujukan utamanya adalah al Quran dan hadits.

Alquran menyebut dzikir beberapa kali dalam berbagai surah. Di antaranya adalah surah an-Nisa ayat 103 ("Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, di waktu berbaring..."). Kemudian, surah ar-Ra'd ayat 28 ("Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram).

Secara harfiah, dzikir berarti menyebut, menuturkan, mengingat, atau mengerti perbuatan baik. Menurut istilah, sebagaimana disebutkan dalam Ensiklopedi Islamdzikir adalah ucapan lisan, gerakan raga maupun getaran hati sesuai dengan cara-cara yang diajarkan agama, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dzikir juga dimaknai sebagai upaya untuk menyingkirkan keadaan lupa dan lalai kepada Allah. Caranya dengan selalu ingat kepada-Nya. Dzikir mengeluarkan seorang mukmin dari suasana lupa, untuk kemudian masuk dalam suasana musyahadan (saling menyaksikan) dengan mata hati. Hal ini disebabkan adanya dorongan rasa cinta yang mendalam kepada Allah SWT.

Dalam kitab Tauhid jilid 2,  Rasulallah saw.  bersabda, “tidak ada bagian manusia yang tidak hancur kecuali satu tulang, yaitu ‘ajbudz dzanab (tulang yang berada di sulbi/rusuk yang paling bawah), darinya makhluk itu di susun kembali pada hari kiamat. (HR. Muslim IV/2270-2271)

‘Ajbudz dzanab diartikan pula dengan tulang ekor. Di dalam tulang ekor, sebagian kalangan yang menekuni dunia spiritual meyakini sebagai tempat pusat energi pencerahan. Maka penting bagi kita agar selama hidup di dunia, selalu tercerahkan. Apabila manusia telah tercerahkan, hidupnya insyaallah akan selalu mendapatkan bimbingan dari Allah Swt. Kita berusaha sungguh-sungguh berjuang untuk mencari keridhoan Allah Swt, dengan jalan senantiasa bertaqwa kepadaNya. Yakinlah,  Allah akan menunjukkan jalan petunjuk yang benar. Sebagaimana firmanNya :

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Ankabut : 69)

Salah satu cara untuk membangkitkan energi pencerahan tersebut adalah dengan mengamalkan dzikir tabattul, yaitu berdzikir dengan konsentrasi penuh kepada Allah Swt. Allah Swt berfirman,

وَٱذْكُرِ ٱسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (al Muzzammil : 8)

Dalam kitab tafsirnya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di menjelaskan, ”Sebutlah nama Rabbmu,”  mencakup berbagai macam dzikir, “dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan,” yakni konsentrasi padaNya, sebab konsentrasi dan kembali kepada Allah Swt. adalah terputusnya hati dari seluruh makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah Swt. serta segala sesuatu yang bisa mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya.

Kebangkitan spiritual hanya bisa dimunculkan ketika manusia dengan segenap hatinya menfokuskan dirinya pada Allah Swt. Ia adalah sandaran hakiki. Sumber energi atau kekuatan yang sangat kuat dan tidak pernah habis. Ia juga pemelihara dan pelindung terhadap seluruh makhlukNya, tanpa kecuali. Nabi Muhammad saw. pada suatu ketika diancam  dengan pedang terhunus oleh seorang pembunuh bayaran. Si Pembunuh yang telah meletakkan pedang di leher Nabi dengan nada mengancam,” Siapa yang dapat menyelamatkanmu dari pedangku?.” Dengan penuh percaya diri dan keyakinan yang mantap Nabi menjawab, “Allah!” Spontan pedang si Pembunuh terpental, dan Nabi mengancam balik, “Sekarang siapa yang bisa menyelamatkanmu?” “tidak ada,” kata si Pembunuh,” hanya belas kasihmu yang bisa menyelamatkan saya.”

Di lain kesempatan, Nabi pernah menasehati seorang anak muda yang kemudian menjadi pakar tafsir terbesar, Abdullah Ibnu Abbas -lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Abbas-   tentang bagaimana Allah adalah sumber energi, sumber kekuatan dan sumber pemelihara. Jika orang dengan sepenuhnya menggantungkan dirinya kepada Allah, maka ia berada dalam pemeliharaanNya sehingga tidak ada kekuatan apapun yang mampu mencelakakannya. Ketika seseorang butuh bantuanNya segera Dia memberikan bantuan tanpa menunggu. Karena itulah Nabi mengingatkan,” Peliharalah Allah, niscaya Dia memeliharamu, peliharalah Allah, niscaya kamu mendapatiNya selalu di hadapanmu. Apabila kamu memohon, maka memohonlah kepada Allah. Apabila kamu meminta bantuan, maka mintalah bantuan kepada Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya seandainya ummat berkumpul untuk memberi sesuatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberimu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan apabila mereka  berkumpul untuk menjatuhkan mudarat (kecelakaan) kepadamu, mereka tidak akan mampu menjatuhkannya kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu. Pena- pena telah diangkat dan lembaran telah ditutup. (HR. Turmudzi)   

Perhatikan firman Allah Swt. berikut, “karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu[Maksudnya: aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu.], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al Baqarah : 152). Dengan mengingat Tuhan sebanyak-banyaknya, dan istiqomah menyatakan Allah Swt adalah Tuhannya, bahkan sudah menjadi napas kehidupannya, maka Dia yang akan menjadi pelindung sejati. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.(QS. Fishshilat:30-31).

Maka setelah kita mengetahui tentang dzikir tabattul dan manfaatnya ini, seyogyanya kita mengamalkan setiap saat agar kita bahagia dunia hingga di akhirat. Semoga Allah Swt. menjadikan diri kita termasuk golongan yang khusnul khotimah di akhir kehidupannya. Sehingga selama hidup di dunia selalu berkhusnudzon (berbaik sangka) kepada Allah Swt.

Daftar Pustaka

Terjemah al quran al karim, Depag RI

Tafsir as Sa’di Surat al Muzzammil

Kitab Tauhid jilid II, tim Ahli Ilmu Tauhid

https://republika.co.id/berita/q7tr8z458/tiga-macam-zikir-menurut-ibnu-athaillah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar