Allah SWT. dengan kasih sayangNya
kepada makhlukNya, terutama manusia, Ia turunkan al Quran kepada manusia
pilihan, Nabi Muhammad saw. untuk menjadi pedoman hidup selama hidup di dunia fana.
Agar manusia selamat hingga akhirat kelak. Sehingga ketika akan membahas
tentang dzikir tabattul maka rujukan utamanya adalah al Quran dan
hadits.
Alquran menyebut dzikir beberapa
kali dalam berbagai surah. Di antaranya adalah surah an-Nisa ayat 103
("Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah di waktu
berdiri, di waktu duduk, di waktu berbaring..."). Kemudian, surah ar-Ra'd
ayat 28 ("Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi
tenteram).
Secara harfiah, dzikir berarti
menyebut, menuturkan, mengingat, atau mengerti perbuatan baik. Menurut istilah,
sebagaimana disebutkan dalam Ensiklopedi Islam, dzikir adalah
ucapan lisan, gerakan raga maupun getaran hati sesuai dengan cara-cara yang diajarkan
agama, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dzikir juga dimaknai sebagai upaya untuk menyingkirkan keadaan
lupa dan lalai kepada Allah. Caranya dengan selalu ingat kepada-Nya. Dzikir
mengeluarkan seorang mukmin dari suasana lupa, untuk kemudian masuk dalam
suasana musyahadan (saling
menyaksikan) dengan mata hati. Hal ini disebabkan adanya dorongan rasa cinta
yang mendalam kepada Allah SWT.
Dalam kitab Tauhid jilid 2, Rasulallah saw. bersabda, “tidak ada bagian manusia yang
tidak hancur kecuali satu tulang, yaitu ‘ajbudz dzanab (tulang yang berada di
sulbi/rusuk yang paling bawah), darinya makhluk itu di susun kembali pada hari
kiamat. (HR. Muslim IV/2270-2271)
‘Ajbudz dzanab diartikan pula dengan
tulang ekor. Di dalam tulang ekor, sebagian kalangan yang menekuni dunia
spiritual meyakini sebagai tempat pusat energi pencerahan. Maka penting bagi
kita agar selama hidup di dunia, selalu tercerahkan. Apabila manusia telah
tercerahkan, hidupnya insyaallah akan selalu mendapatkan bimbingan dari Allah
Swt. Kita berusaha sungguh-sungguh berjuang untuk mencari keridhoan Allah Swt,
dengan jalan senantiasa bertaqwa kepadaNya. Yakinlah, Allah akan menunjukkan jalan petunjuk yang
benar. Sebagaimana firmanNya :
وَٱلَّذِينَ
جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang
berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan
kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta
orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Ankabut : 69)
Salah satu cara untuk
membangkitkan energi pencerahan tersebut adalah dengan mengamalkan dzikir
tabattul, yaitu berdzikir dengan konsentrasi penuh kepada Allah Swt. Allah Swt
berfirman,
وَٱذْكُرِ ٱسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا
sebutlah nama Tuhanmu,
dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (al Muzzammil : 8)
Dalam kitab tafsirnya
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di menjelaskan, ”Sebutlah nama Rabbmu,” mencakup berbagai macam dzikir, “dan beribadahlah
kepadaNya dengan penuh ketekunan,” yakni konsentrasi padaNya, sebab
konsentrasi dan kembali kepada Allah Swt. adalah terputusnya hati dari seluruh
makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah Swt. serta segala sesuatu yang bisa
mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya.
Kebangkitan spiritual
hanya bisa dimunculkan ketika manusia dengan segenap hatinya menfokuskan
dirinya pada Allah Swt. Ia adalah sandaran hakiki. Sumber energi atau kekuatan
yang sangat kuat dan tidak pernah habis. Ia juga pemelihara dan pelindung
terhadap seluruh makhlukNya, tanpa kecuali. Nabi Muhammad saw. pada suatu
ketika diancam dengan pedang terhunus
oleh seorang pembunuh bayaran. Si Pembunuh yang telah meletakkan pedang di
leher Nabi dengan nada mengancam,” Siapa yang dapat menyelamatkanmu dari
pedangku?.” Dengan penuh percaya diri dan keyakinan yang mantap Nabi menjawab,
“Allah!” Spontan pedang si Pembunuh terpental, dan Nabi mengancam balik,
“Sekarang siapa yang bisa menyelamatkanmu?” “tidak ada,” kata si Pembunuh,”
hanya belas kasihmu yang bisa menyelamatkan saya.”
Di lain kesempatan, Nabi
pernah menasehati seorang anak muda yang kemudian menjadi pakar tafsir
terbesar, Abdullah Ibnu Abbas -lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Abbas- tentang bagaimana Allah adalah sumber
energi, sumber kekuatan dan sumber pemelihara. Jika orang dengan sepenuhnya
menggantungkan dirinya kepada Allah, maka ia berada dalam pemeliharaanNya
sehingga tidak ada kekuatan apapun yang mampu mencelakakannya. Ketika seseorang
butuh bantuanNya segera Dia memberikan bantuan tanpa menunggu. Karena itulah
Nabi mengingatkan,” Peliharalah Allah, niscaya Dia memeliharamu, peliharalah
Allah, niscaya kamu mendapatiNya selalu di hadapanmu. Apabila kamu memohon,
maka memohonlah kepada Allah. Apabila kamu meminta bantuan, maka mintalah
bantuan kepada Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya seandainya ummat berkumpul
untuk memberi sesuatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberimu
kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan apabila mereka berkumpul untuk menjatuhkan mudarat
(kecelakaan) kepadamu, mereka tidak akan mampu menjatuhkannya kepadamu kecuali
sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu. Pena- pena telah diangkat dan
lembaran telah ditutup. (HR. Turmudzi)
Perhatikan firman Allah
Swt. berikut, “karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula)
kepadamu[Maksudnya: aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu.], dan
bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al
Baqarah : 152). Dengan mengingat Tuhan sebanyak-banyaknya, dan istiqomah
menyatakan Allah Swt adalah Tuhannya, bahkan sudah menjadi napas kehidupannya,
maka Dia yang akan menjadi pelindung sejati. Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:
"Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka
dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah
pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu
memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang
kamu minta.(QS. Fishshilat:30-31).
Maka setelah kita
mengetahui tentang dzikir tabattul dan manfaatnya ini, seyogyanya kita
mengamalkan setiap saat agar kita bahagia dunia hingga di akhirat. Semoga Allah
Swt. menjadikan diri kita termasuk golongan yang khusnul khotimah di akhir
kehidupannya. Sehingga selama hidup di dunia selalu berkhusnudzon (berbaik
sangka) kepada Allah Swt.
Daftar Pustaka
Terjemah al quran al karim, Depag RI
Tafsir as Sa’di Surat al Muzzammil
Kitab Tauhid jilid II, tim Ahli Ilmu Tauhid
https://republika.co.id/berita/q7tr8z458/tiga-macam-zikir-menurut-ibnu-athaillah





0 komentar:
Posting Komentar