Kamis, 22 Oktober 2020

Tafsir Surah At Taubah Ayat 128 - 129

 



Hari ahad subuh dinihari , tanggal 18 oktober 2020 penulis di minta takmir Masjid Jabal Nur, Perumahan Gedawang Permai 3 untuk menyampaikan materi tafsir. Karena bulan ini bertepatan juga dengan bulan rabi’ul awwal, dimana kita mengenang kembali lahirnya manusia mulia, suri tauladan ummat sepanjang zaman, Nabi Muhammad saw. Maka materi kajian yang penulis sampaikan adalah tafsir surat at-Taubah ayat 128-129 berdasar pada ringkasan tafsir Ibnu Katsir.


“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keamanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka Berpaling (dari keimanan) maka katakanlah ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arasy yang agung.’” (At-Taubah ayat 128-129)

Allah Swt. menyebutkan limpahan nikmat yang telah diberikan-Nya kepada orang-orang mukmin melalui seorang rasul yang diutus olehNya dari kalangan mereka sendiri, yakni dari bangsa mereka dan sebahasa dengan mereka. Hal ini telah didoakan oleh Nabi Ibrahim a.s., seperti yang disitir oleh firman-Nya:

{رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ}

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri. (Al-Baqarah: 129)

Dan firman Allah Swt.:

{لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ}

Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri. (Ali Imran: 164)

Adapun firman Allah Swt.:

{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ}

Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. (At-Taubah: 128)

Yakni dari kalangan kalian sendiri dan sebahasa dengan kalian. Ja’far ibnu Abu Talib r.a. berkata kepada Raja Najasyi, dan Al-Mugirah ibnu Syu’bah berkata kepada Kaisar Romawi, “Sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kami seorang rasul dari kalangan kami sendiri. Kami mengenal nasab (keturunan)nya, sifatnya, tempat keluar dan tempat masuknya, serta kebenaran (kejujuran) dan amanatnya, hingga akhir hadis.”

Sufyan ibnu Uyaynah telah meriwayatkan dari Ja’far ibnu Muhammad, dari ayahnya, sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. (At-Taubah: 128) Bahwa tiada sesuatu pun dari perkawinan Jahiliah yang menyentuhnya.

Nabi Saw. pernah bersabda:

“خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ، وَلَمْ أَخْرُجْ مِنْ سِفاح”.

Aku dilahirkan dari hasil pernikahan, dan bukan dilahirkan dari sifah(perkawinan ala Jahiliah).

Melalui jalur lain secara mausul disebutkan oleh Al-Hafiz Abu Muhammad Al-Hasan ibnu Abdur Rahman Ar-Ramharmuzi di dalam kitabnya yang berjudul Al-Fasil Bainar Rawi wal Wa’i. Disebutkan bahwa:telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Yusuf ibnu Harun ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far ibnu Muhammad yang mengatakan bahwa ia bersumpah bahwa ayahnya pernah menceritakan hadis berikut dari kakeknya, dari Ali yang mengatakan, “Rasulullah Saw. pernah bersabda: ‘Aku dilahirkan dari hasil pernikahan dan bukan dilahirkan dari sifah, sejak Adam hingga ayah dan ibuku melahirkan diriku. Dan tiada sesuatupun dari sifat Jahiliah yang menyentuhku’.”

*******

Firman Allah Swt.:

{عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ}

berat terasa olehnya penderitaan kalian. (At-Taubah: 128)

Yakni terasa berat olehnya sesuatu yang membuat umatnya menderita karenanya. Karena itu, di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur disebutkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:

“بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ”

Aku diutus dengan membawa agama Islam yang hanif lagi penuh dengan toleransi.

Di dalam hadis sahih disebutkan:

“إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ” وَشَرِيعَتَهُ كُلَّهَا سَهْلَةٌ سَمْحَةٌ كَامِلَةٌ، يَسِيرَةٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهَا اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ.

Sesungguhnya agama ini mudah, semua syariatnya mudah, penuh dengan toleransi lagi sempurna. Ia mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah dalam mengerjakannya.

*******

Firman Allah Swt.:

{حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ}

sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian. (At-Taubah: 128)

Artinya, sangat menginginkan kalian beroleh hidayah dan menghantarkan manfaat dunia dan akhirat buat kalian.

قَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ المقرئ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ فِطْر، عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ. تَرَكَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلَّا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا -قَالَ: وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقرب مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لكم”.

Imam Tabrani mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Hadrami, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Qutn, dari Abut Tufail, dari Abu Zar yang mengatakan, “Rasulullah Saw. meninggalkan kami tanpa ada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di langit melainkan beliau menyebutkan kepada kami ilmu mengenainya.” Rasulullah Saw. telah bersabda: Tiada sesuatu pun yang tersisa dari apa yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, melainkan semuanya telah dijelaskan kepada kalian.

وقال الإمام أحمد: حدثنا [أبو] فَطَن، حدثنا السعودي، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَبْدَةَ النَّهدي، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن اللَّهَ لَمْ يُحَرِّمْ حُرمة إِلَّا وَقَدْ عَلِمَ أَنَّهُ سَيَطَّلِعُهَا مِنْكُمْ مُطَّلَع، أَلَا وَإِنِّي آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ أَنْ تَهَافَتُوا فِي النَّارِ، كَتَهَافُتِ الْفِرَاشِ، أَوِ الذُّبَابِ”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qatn, telah menceritakan kepada kami Al-Mas’udi, dari Al-Hasan ibnu Sa’d, dari Abdah Al-Huzali, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali mengharamkan sesuatu melainkan Dia telah mengetahui bahwa kelak akan ada dari kalian yang melanggarnya. Ingatlah, sesungguhnya akulah yang menghalang-halangi kalian agar jangan sampai kalian berhamburan terjun ke neraka sebagaimana berhamburannya laron atau lalat.

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid ibnu Jad’an, dari Yusuf ibnu Mahran, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW dalam mimpinya kedatangan dua malaikat, salah seorangnya duduk di dekat kedua kakinya, sedangkan yang lain duduk di dekat kepalanya. Maka malaikat yang ada di dekat kedua kakinya berkata kepada malaikat yang ada di dekat kepalanya, “Buatlah perumpamaan orang ini dan perumpamaan umatnya.” Malaikat yang satunya lagi menjawab, “Sesungguhnya perumpamaan dia dan perumpamaan umatnya sama dengan suatu kaum yang musafir, lalu mereka sampai di tepi Padang Sahara. Saat itu mereka tidak mempunyai bekal lagi untuk menempuh Padang Sahara di hadapan mereka, tidak pula memiliki bekal untuk pulang. Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah kepada mereka seorang lelaki yang memakai pakaian kain Hibarah, lalu ia berkata, ‘Bagaimanakah pendapat kalian jika aku bawa kalian ke taman yang subur dan telaga yang berlimpah airnya serta menyegarkan. Apakah kalian mau mengikutiku?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Maka lelaki itu berangkat bersama mereka hingga membawa mereka sampai di taman yang subur dan telaga yang berlimpah airnya lagi menyegarkan. Lalu mereka makan dan minum hingga menjadi gemuk. Kemudian lelaki itu berkata kepada mereka, ‘Bukankah aku menjumpai kalian dalam keadaan yang sengsara, lalu kalian berserah diri kepadaku; bahwa jika aku membawa kalian ke taman yang subur dan telaga yang berlimpah airnya, maka kalian akan mengikutiku?’ Mereka menjawab, ‘Memang benar.’ Lelaki itu berkata, ‘Sesungguhnya di hadapan kalian terdapat taman lain yang lebih subur daripada taman ini, dan terdapat pula telaga yang lebih berlimpah airnya daripada ini. Maka mengikutlah kalian kepadaku.’ Segolongan dari mereka berkata, ‘Demi Allah, lelaki ini berkata benar, kami sungguh akan mengikutinya.’ Golongan yang lainnya mengatakan, ‘Kami rela dengan orang ini dan kami akan tetap mengikutinya’.

Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Salamah ibnu Syabib dan Ahmad ibnu Mansur. Keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Hakam ibnu Aban, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Ikrimah, dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa pernah seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah Saw. untuk meminta tolong kepadanya tentang sesuatu yang menyangkut masalah diat (kata Ikrimah). Maka Rasulullah Saw. memberinya sesuatu seraya bersabda, “Aku berbuat baik kepadamu.” Tetapi lelaki Badui itu menjawab, “Tidak, engkau belum berbuat baik.” Maka sebagian dari kalangan kaum muslim yang ada pada waktu itu marah dan hampir bangkit menghajar lelaki Badui itu, tetapi Rasulullah Saw. memberikan isyarat kepada mereka untuk menahan dirinya. Ketika Rasulullah Saw. bangkit meninggalkan majelisnya dan sampai di rumahnya, maka beliau mengundang lelaki Badui itu untuk datang ke rumahnya. Lalu beliau bersabda (kepada lelaki Badui itu).”Sesungguhnya engkau datang kepada kami hanyalah untuk meminta dari kami, lalu kami memberimu, tetapi engkau mengatakan apa yang telah engkau katakan tadi.” Lalu Rasulullah Saw. memberi tambahan pemberian kepada lelaki Badui itu seraya bersabda, “Bukankah aku telah berbuat baik kepadamu?” Lelaki Badui itu menjawab, “Ya, semoga Allah memberikan balasan yang baik kepadamu atas perbuatan baikmu kepada ahli dan famili(mu).” Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya engkau datang kepada kami, lalu kami memberimu dan engkau mengatakan apa yang telah engkau katakan tadi, maka karena perkataanmu itu dalam diri sahabat-sahabatku terdapat ganjalan terhadap dirimu. Karena itu, apabila engkau menemui mereka, katakanlah di hadapan mereka apa yang tadi baru kamu katakan, agar ganjalan itu lenyap dari dada mereka.” Lelaki Badui itu menjawab, “Ya.” Setelah lelaki Badui itu datang, maka Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya teman kalian ini pada awal mulanya datang kepada kita. lalu ia meminta kepada kita dan kita memberinya, tetapi ia mengatakan apa yang telah dikatakannya tadi. Lalu aku memanggilnya dan aku beri lagi dia, dan ternyata dia mengungkapkan pengakuannya bahwa dirinya telah puas dengan pemberian itu. Bukankah demikian, hai orang Badui?” Lelaki Badui itu menjawab, “Ya, semoga Allah membalasmu atas kebaikanmu kepada ahli dan famili(mu) dengan balasan yang baik.” Maka Nabi Saw. bersabda: Sesungguhnya perumpamaanku dengan orang Arab Badui ini sama dengan perumpamaan seorang lelaki yang memiliki seekor unta, lalu untanya itu larat dan kabur. Kemudian orang-orang mengejarnya, tetapi unta itu justru makin bertambah larat. Maka lelaki pemilik unta itu berkata kepada mereka, “Biarkanlah aku sendirian dengan unta itu, karena aku lebih sayang kepadanya dan lebih mengenalnya.” Maka lelaki itu menuju ke arah untanya dan mengambil rerumputan tanah untuknya serta memanggilnya, hingga akhirnya unta itu datang dan memenuhi seruan tuannya, lalu si lelaki itu mengikatkan pelananya di atas punggung untanya itu. Dan sesungguhnya aku jika menuruti kemauan kalian karena apa yang telah dikatakannya tadi, niscaya dia akan masuk neraka.

Hadis ini merupakan riwayat Al-Bazzar, kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa ia tidak mengetahui si perawi meriwayatkan hadis ini melainkan hanya dari jalur tersebut.

Menurut kami, hadis ini daif karena keadaan Ibrahim ibnul Hakam ibnu Aban.

Firman Allah Swt.:

{بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ}

amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (At-Taubah: 128)

Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ. فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ. وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ}

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu. maka katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian kerjakan.” Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.(Asy-Syu’ara: 215-217)

Hal yang sama diperintahkan oleh Allah dalam ayat yang mulia ini, yaitu firman-Nya:

{فَإِنْ تَوَلَّوْا}

Jika mereka berpaling. (At-Taubah: 129)

Maksudnya, berpaling dari apa yang engkau sampaikan kepada mereka, yakni dari syariat yang agung, suci, sempurna lagi global yang engkau datangkan kepada mereka.

{فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ}

maka katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia.(At-Taubah: 129)

Yakni Allah-lah yang memberikan kecukupan kepadaku. Tidak ada Tuhan selain Dia, dan hanya kepada-Nya aku bertawakal.

{رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلا}

(Dialah) Tuhan masyriq dan magrib, tidak ada Tuhan melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. (Al-Muzzammil:9)

Adapun firman Allah Swt.:

{وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ}

Dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arasy yang agung.” (At-Taubah: 129)

Dialah yang memiliki segala sesuatu, dan Dia pulalah yang menciptakannya, karena Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arasy yang agung yang merupakan atap dari semua makhluk. Semua makhluk —mulai dari langit, bumi, dan segala sesuatu yang ada pada keduanya serta segala sesuatu yang ada di antara keduanya— berada di bawah ‘Arasy dan tunduk patuh di bawah kekuasaan Allah Swt. Pengetahuan (ilmu) Allah meliputi segala sesuatu, kekuasaan-Nya menjangkau segala sesuatu, dan Dialah yang melindungi segala sesuatu.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Ali ibnu Zaid, dari Yusuf ibnu Mahran, dari Ibnu Abbas r.a., dari Ubay ibnu Ka’b yang mengatakan bahwa ayat Al-Qur’an yang paling akhir penurunannya ialah firman Allah Swt.: Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. (At-Taubah: 128), hingga akhir surat.

Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Abdul Mu’min, telah menceritakan kepada kami Umar ibny Syaqiq, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ar-Razi, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka’b r.a., bahwa mereka menghimpunkan Al-Qur’an di dalam mushaf-mushaf di masa pemerintahan Abu Bakar r.a. Dan tersebutlah orang-orang menulisnya, sedangkan yang mengimlakannya kepada mereka adalah Ubay ibnu Ka’b. Ketika tulisan mereka sampai pada ayat surat At-Taubah ini, yaitu firman-Nya: Sesudah itu mereka pun pergi, Allah telah memalingkan hati mereka (At-Taubah: 127), hingga akhir ayat. Maka mereka menduga bahwa ayat ini merupakan ayat yang paling akhir penurunannya. Maka Ubay ibnu Ka’b berkata kepada mereka, “Sesungguhnya sesudah ayat ini Rasulullah Saw. membacakan dua ayat lainnya kepadaku,” yaitu firman Allah Swt.:Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. (At-Taubah: 128), hingga akhir ayat berikutnya. Lalu Ubay ibnu Ka’b berkata bahwa ayat Al-Qur’an inilah yang paling akhir penurunannya, kemudian dia mengakhirinya dengan apa yang biasa dipakai sebagai pembukaan oleh Allah Swt., yaitu dengan firman-Nya:

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ}

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku.” (Al-Anbiya: 25)

Hadist ini berpredikat garib pula.

Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Bahr, :eiah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad ibnu Salamah, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Yahya ibnu Abbad, dari ayahnya (yaitu Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair) yang menceritakan bahwa Al-Haris ibnu Khuzaimah datang kepada Khalifah Umar ibnul Khattab dengan membawa kedua ayat dari surat At-Taubah ini, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. (At-Taubah: 128) Maka Umar ibnul Khattab berkata, “Siapakah yang menemanimu membawakan ayat ini?” Al-Haris menjawab, “Saya tidak tahu. Demi Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwa aku benar-benar mendengarnya dari Rasulullah, lalu aku resapi dan aku hafalkan dengan baik.” Umar berkata, “Aku bersaksi, aku sendiri benar-benar mendengarnya dari Rasulullah Saw.” Selanjutnya Umar berkata, “Seandainya semuanya ada tiga ayat, niscaya aku akan menjadikannya dalam suatu surat tersendiri. Maka perhatikanlah oleh kalian surat Al-Qur’an mana yang pantas untuknya, lalu letakkanlah ia padanya.” Dan mereka meletakkannya di akhir surat At-Taubah.

Dalam-pembahasan terdahulu telah disebutkan bahwa Umar ibnul Khattablah yang memberikan saran kepada Abu Bakar As-Siddiq r.a. untuk menghimpun Al-Qur’an. Lalu Khalifah Abu Bakar memerintahkan kepada Zaid ibnu Sabit untuk menghimpunnya, sedangkan Umar saat itu ikut hadir bersama mereka di saat mereka menulis hal tersebut.

Di dalam asar yang sahih disebutkan bahwa Zaid berkata, “Maka aku menjumpai akhir surat Bara’ah berada pada Khuzaimah ibnu Sabit atau Abu Khuzaimah.”

Dalam pembahasan terdahulu disebutkan bahwa sejumlah sahabat ingat akan hal tersebut di saat mereka berada di hadapan Rasulullah Saw., yakni seperti yang dikatakan oleh Khuzaimah ibnu Sabit di saat ia mengutarakan ayat-ayat itu kepada mereka.

Abu Daud telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Muhammad ibnu Abdur Razza ibnu Umar (salah seorang yang siqah lagi ahli ibadah), dari Mudrik ibnu Sa’d yang mengatakan bahwa Yazid seorang syekh yang siqah telah meriwayatkan dari Yunus ibnu Maisarah. dari Ummu Darda, dari Abu Darda yang mengatakan, “Barang siapa yang mengucapkan kalimat berikut di saat pagi dan petang hari sebanyak tujuh kali, niscaya Allah akan memberinya kecukupan dari apa yang menyusahkannya,” yaitu: Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arasy yang agung.

Ibnu Asakir di dalam biografi Abdur Razzaq telah meriwayatkannya dari Umar melalui riwayat Abu Zar’ah Ad-Dimasyqi, dari Abdur Razzaq, dari Abu Sa’d Mudrik ibnu Abu Sa’d Al-Fazzari, dari Yunus ibnu Maisarah ibnu Hulais, dari Ummu Darda; ia pernah mendengar Abu Darda berkata bahwa tidak sekali-kali seorang hamba mengucapkan: Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arasy yang agung. sebanyak tujuh kali —baik ia membenarkannya ataupun berdusta— melainkan Allah memberinya kecukupan dari apa yang menyusahkannya. Tambahan ini dinilai gharib.

Kemudian ia meriwayatkannya pula dalam biografi Abdur Razzaq (yakni Abu Muhammad), dari Ahmad ibnu Abdullah ibnu Abdur Razzaq. dari kakeknya (yaitu Abdur Razzaq ibnu Umar) berikut sanadnya sehingga menjadi marfu’, lalu ia menyebutkan hal yang semisal berikut tambahannya. Tetapi riwayat ini berpredikat mung-kar.

Demikianlah akhir tafsir surat Bara’ah (At-Taubah). Segala puji dan anugerah hanyalah milik Allah.

Kamis, 15 Oktober 2020

Muraqabah benteng dari Maksiat, Pemicu Taat

 Muraqabah benteng dari Maksiat, Pemicu Taat

Persiapan ngisi materi kajian habis subuh, perlu kiranya saya tulis disini materi yang sesuai dengan kondisi saat ini. Saya awali dari kisah sahabat Abdullah bin Dinar namanya,a pernah menceritakan, “Kami keluar bersama Umar bin Khaththab menuju Makkah, kami melewati suatu jalan, lalu berpapasan dengan seorang penggembala yang baru turun dari perbukitan, Umar menyapanya, “Wahai penggembala, juallah seekor kambingmu kepada kami!” Penggembala itu menjawab bahwa dia hanyalah seorang budak yang menggembalakan kambing majikannya. Umar berkata (menguji), “Katakan saja kepada majikanmu bahwa kambing itu telah dimakan srigala!” Dengan spontan sang penggembala menjawab, “(Kalau demikian) lantas di manakah Allah?” Sungguh jawaban yang cerdas. Jawaban yang muncul dari ketulusan jiwa dan kepekaannya akan pengawasan Allah. Seandainya dia mau berbohong, mungkin saja majikannya percaya dengan laporan palsunya, tetapi Allah Mahatahu. Jawaban ini membuat Umar trenyuh hingga beliau meneteskan air matanya. Keesokan harinya beliau mendatangi majikan budak tersebut untuk membelinya dan memerdekakannya.

Hari ini berita tentang perselingkuhan dan perzinaan berjejal begitu banyak. Korupsi dan kolusi merajalela di setiap lini dan tempat kerja. Koruptor pun santai saja selagi petugas audit tak mencium bau busuknya. Padahal bisa saja mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tak akan mampu bersembunyi dari Allah.


 َ يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّـهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّـهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا﴿١٠٨﴾ 


“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka.” (QS. an-Nisa’: 108)


Maksiat terjadi karena adanya kemauan atau terbukanya peluang melakukannya. Namun, keduanya bisa dicegah dengan muraqabatullah, merasa diawasi oleh Allah. Muraqabatullah menjadikan seseorang sadar bahwa setiap gerak-gerik dan kerlingan matanya selalu diawasi oleh Dzat yang akan memberikan sangsi kepadanya ketika berdosa. Tak ada tempat dan kesempatan yang memungkinkan seseorang berbuat dosa tanpa sepengetahuan-Nya. Dengan begitu hilanglah kemauannya untuk berbuat dosa, meskipun tak ada orang lain bersamanya.

Muraqabah juga menumbuhkan rasa malu untuk berbuat dosa. Manusia yang ber-muraqabah menyadari bahwa Allah yang memberikan segala nikmat kepadanya, juga memantau setiap gerak-geriknya. Tak ada tempat bersembunyi dari-Nya agar dia bebas berbuat dosa. Malaikat yang menjaga di setiap bumi yang dia pijak akan menjadi saksi atas segala yang dilakukannya. Maka bagaimana dia akan durhaka kepadaNya di hadapan pengawasan-Nya.

Yang dia lakukan bahkan sebaliknya, dia ingin agar Dzat yang memberikan nikmat kepadanya melihat dirinya selalu dalam ketaatan kepada-Nya, sehingga Dia akan merasa ridha. Untuk itulah Ibnu Atha’ berkata: “Sebaik-baik ketaatan adalah muraqabatullah, merasa diawasi oleh Allah di setiap waktu.” Kesempurnaan muraqabatullah diraih manakala seseorang juga menyadari bahwa setiap gerak, nafas dan detik perbuatannya direkam dalam catatan malaikat. Kelak catatan itu akan diperlihatkan kepadanya. Terbuktilah bahwa tak ada yang terlewat dari perbuatannya, semua tercatat detail di dalamnya. Tidakkah kita malu jika catatan perbuatan kita dibuka di hari Kiamat sementara di sana terdapat rekaman dosa yang kita kerjakan di saat sembunyi?

Muraqabatullah membuat orang tidak hanya semangat berbuat baik di saat ramai namun loyo di saat sepi. Ia menyadari bahwa Dzat yang mengawasinya selalu memantau dirinya di saat ia berada di tengah banyak orang maupun saat sendirian.


أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّـهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ﴿٧٧﴾


“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka lakukan dengan terang-terangan?” (QS. al-Baqarah: 77)

Dia juga sadar bahwa malaikat yang mencatatnya takkan pernah pula bosan untuk menyertai dan mencatat perbuatannya: 

إِذْ يَتَلَقَّى ٱلْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ ٱلْيَمِينِ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ قَعِيدٌ

“(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf: 17)

Catatan yang terdapat dalam kitab itupun detail tak ada sedikitpun yang tercecer, hingga orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka akan berkata:


وَوُضِعَ ٱلْكِتَٰبُ فَتَرَى ٱلْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَٰوَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلْكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحْصَىٰهَا ۚ وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا


“Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.” (QS. al-Kahfi: 49)

Muraqabatullah menyebabkan seseorang beramal ketika sendirian sama bagusnya dengan apa yang dia lakukan ketika bersama banyak orang. Alangkah bagusnya seorang muslim tatkala menyendiri, lalu dia merasakan bahwa malaikat tidak akan berpisah darinya, diutus untuk menulis kebaikannya. Maka dia berkata kepada malaikat, “Tulislah (kebaikanku wahai malaikat), semoga Allah merahmati anda”, sehingga dia memenuhi lembaran kitabnya dengan kebaikan dan apa-apa yang bisa memperberat timbangannya: “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya, ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh,” (QS. Ali Imran : 30).

Untuk itu, para ulama tak membedakan amal antara yang lahir dan yang batin. Amalan tersembunyi mereka tidak menyelisihi apa yang mereka kerjakan secara terang-terangan, seperti Hasan al-Bashri yang disifatkan seorang tetangga sekaligus muridnya ‘amalan beliau di saat sendiri sama dengan amal beliau ketika di tengah orang banyak.’ Sebagian ada yang taqarrub mereka kepada Allah tatkala sendirian lebih banyak porsinya dari pada ketika terang-terangan karena khawatir timbul riya’ dan sum’ah. Seperti Ali bin Husain bin Ali, setiap kali kegelapan telah merayap, beliau mengusung sekarung gandum di punggungnya untuk diberikan kepada fakir miskin di Madinah, beliau mengetuk pintu, meletakkan gandum tersebut lalu pergi tanpa diketahui oleh orang yang beruntung mendapatkan bantuannya.

Sudah selayaknya hamba yang cerdas tidak coba-coba menjamah wilayah dosa yang dilarang sang Pencipta karena Allah takkan sedikitpun terlena dalam mengawasinya. Setiap saat tenggelamkan diri kita di dalam pengawasan Allah SWT.  Dan inilah yang di sebut dengan muraqabatullah. Apabila  sifat ini sudah terpatri pada diri pribadi kita , bahagialah kita insyaAllah.

.


HIMPUNAN AYAT RUQYAH

 HIMPUNAN AYAT RUQYAH

I. AYAT SESUAI SPESIALISASI KEBUTUHAN

1. MENGHIDUPKAN

a. QS: Al-Baqarah: 164


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.


b. QS: ARRUM  AYAT 19


يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ


Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)


c. QS: AZZUKHRUF AYAT 11


وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚكَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ


Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).

 

2. MENORMALKAN / MENSTABILKAN


a. QS: YASIN 40


لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ, وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ 


Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.


b. QS: AL’AN’AM AYAT 13


وَمَا لِيَ لا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakankudan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan


c. QS: YASIN AYAT 36 SD 40


سُبْحَنَ الَّذِئ خَلَقَ اْلَازْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ اْلَاْرضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ وَءَايَةٌ لَهُمُ الَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُظْلِمُوْنَ وَالشَّمْسُ تَجْرِئ لِمُسْتَقَرٍّلَهَا ذَلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ اْلعَلِيْمِ وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَهُ مَنَازِلَ حَتَّئ عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِئ لَهَا اَنْ تُدْرِكَ اْلقَمَرَ وَلاَ الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِئ فَلَكِ يَسْبَحُوْنَ


Maha Suci Zat yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang tidak mereka ketahui. Dan suatu tanda bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu,"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.Demikianlah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua."Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan," dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya."


3. STROK/GELISAH/TAKUT


Al-Anbiya’ ayat 30


 أَوَلَمْ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ


Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (Al-Anbiya 21:30)


4. GANGGUAN MENSTRUASI

Al-Fathir ayat 41


إِنَّ الَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا ۚوَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ۚإِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا


Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Hud ayat 44


وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ 

Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim". 


5.  KETENANGAN

a. Attaubah ayat 36


ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ 


Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang 


AL-Fath ayat 4-5


هُوَ الَّذِي أَنزلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (4) لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَكَانَ ذَلِكَ عِنْدَ اللَّهِ فَوْزًا عَظِيمًا (5(


Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah


6.  ANAK NAKAL


QS: HUD AYAT 56


إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلاَّ هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ


Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus".


QS: Ali Imran ayat 83


أَفَغَيْرَ دِينِ ٱللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُۥٓ أَسْلَمَ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.


7.  BATU GINJAL/KENCING BATU/ MEMBANTU MELAHIRKAN


Al-Insyiqaq ayat  1 SD 5


إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ (١) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (٢) وَإِذَا الأرْضُ مُدَّتْ (٣) وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ (٤) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ  (٥(

1.  Apabila langit terbelah,

2. dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh

3. dan apabila bumi diratakan

4. dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong


8.  AYAT GURAH

 

a. Mata


QS: Qaf ayat 22


لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

 

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam


QS: Yusuf  ayat 96;


فَلَمَّآ أَن جَآءَ ٱلْبَشِيرُ أَلْقَىٰهُ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ فَٱرْتَدَّ بَصِيرًا قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya”.


b. Hidung


QS: Ayat Assaba’ ayat 10


وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُدَ مِنَّا فَضْلا يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ


Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari kami (Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud,” dan Kami telah melunakkan besi untuknya


c. Telinga


اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah! Selamatkan tubuhku (dari penyakit dan yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan penglihatanku, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau.” (Dibaca tiga kali di waktu pagi dan petang). 


9. NAFAS SESAK


QS: Insyirah ayat 1-2


أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ (1) وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ (2 ) 


“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,(1) Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu,(2) 


QS: Al-‘Araf ayat 43;


وَنزعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ 


Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka, mengalir di bawah mereka sungai-sungai, dan mereka berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk 


10.  PERUT


QS: AZZALZALAH AYAT 1-2


إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2 (


“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,


QS: Assoffat ayat 47

لَا فِيۡهَا غَوۡلٌ وَّلَا هُمۡ عَنۡهَا يُنۡزَفُوۡنَ

Tidak ada di dalamnya (unsur) yang memabukkan dan mereka tidak mabuk karenanya.


11.  GATAL


ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ كِتَٰبًا مُّتَشَٰبِهًا مَّثَانِىَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.


12. MOTIVASI


Motivasi selayaknya menjurus pada hal hal yang baik, tidak sesuai jika mencari motivasi untuk hal yang tidak di ridhoi Allah, karena motivasi berarti “bergerak”, gerakan tersebut harus berupa perbaikan diri dan mencapai kualitas yang lebih baik sebagai hamba Allah.

Allah senantiasa dekat dengan para hamba Nya, Allah memberi petunjuk bagi hamba Nya yang beriman pada Nya, Allah juga memerintahkan hamba Nya untuk senantiasa yakin dalam menjalani hidup dan yakin akan kehdupan di akherat nanti, berikut 17 Ayat Al Qur’an tentang motivasi :

1. QS At Taubah : 40


لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ


”Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita””. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah selalu bersama kita”. Ketika menghadapi suatu ujian, tak perlu bersedih hati, kebahagiaan dan kesedihan kadang datang silih berganti tergantung bagaimana kita menghadapinya dan mengambil pelajaran darinya. Kembalikan segalanya pada sang pencipta bahwa segala yang terjadi adalah ketetapan yang terbaik dari Nya.

2. QS Al Baqarah : 155 – 156

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)


'‘Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,”(Al-Baqarah [2]: 155-156)

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

3. QS Yusuf : 87

وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ 

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus dari rahmat Allah melainkan orang orang yang kufur”.  Harapan selalu ada bagi orang yang percaya, hadapi setiap tantangan dalam hidup dengan niat mencari ridho Nya, lakukan usaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan disertai dengan doa. bahaya putus asa dalam islam sudah jelas di dalam Al Quran, berarti ia bukan termasuk golongan orang beriman.

5. QS Al Mukmin : 60


 وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Berdoalah kepada ku pastilah aku kabulkan untukmu”. Setiap kali memiliki hajat atau menginginkan sesuatu hendaknya mengusahakan dengan sungguh sungguh dan meminta pada Allah untuk mengabulkan hajat anda. Allah senang pada hamba Nya yang senantiasa berdoa, karena doa menghubungkan langsung antara seorang hamba dengan Allah.

6. QS Al Imran : 139

وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (١٣٩) إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (١٤٠)

“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman”. 

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa

Tidak diperkenankan senantiasa memandang diri sebagai orang yang buruk atau penuh kekurangan, setiap manusia mendapat anugrah dari Allah berupa kelebihan dan kelemahan masing masing. Berfikir negatif terhadap diri sendiri menandakan kurang nya rasa syukur. Maksimalkan kelebihan yang anda punya untuk kebaikan dan jadikan kekurangan sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas diri.

8. QS Al Baqarah : 286

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya”. Jelas sekali dalam firmah tersebut Allah senantiasa mengasihi hamba Nya, tidak akan diberikan ujian jika hamba Nya tidak sanggup melewati. Karena itu tidak selayaknya kita berputus asa dalam menghadapi segala tantangan hidup.

9. QS. Al Imraan : 200

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bersabarlah kamu dan kuatkkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu menang”. Allah memerintahkan kepada orang orang beriman untuk senantiasa berusaha dalam kesabaran dan keyakinan. keutamaan sabar dalam islam memang sangat dianjurkan.

11. QS. Ath Thalaq : 3

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (۳) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah ﷻ maka Dia ﷻ akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak tidak disangka-sangka” (Q.S Ats\h-Thalaq 2-3).

“Sesungguhnya Allah bebas melaksanakan kehendak Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu menurut takarannya”. Kembali lagi bahwa manusia adalah milik Allah, maka Allah yang memiliku kuasa untuk mengatur hamba Nya, sebagai orang mukmin wajib untuk percaya bahwa segala sesuatu yang kita miliki sudah sesuai takaran sesuai dengan apa apa yang kita butuhkan.

12. QS Al Baqarah : 216


وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 

 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”. Ketika memiliki hajat akan sesuatu dan belum tercapai hajat tersebut kadang manusia merasa tidak mendapat keadilan dari Allah lalu membandingkan hidup nya dengan orang lain yang menurutnya lebih beruntung dari dirinya. Seperti firman Allah di atas bahwa setiap yang kita kehendaki belum tentu menjadi hal yang baik untuk kita, Allah pasti telah memberi yang terbaik, memberi segala sesuatu sesuai porsi dan indah pada waktunya

13. QS At Taubah : 129


فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ 

“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada Nya aku bertawakal”. Hanya kepada Allah kita berserah diri, bukan pada beratnya ujian hidup, pada rasa cemas atau rasa takut, apalagi pada orang lain. Allah lah yang memberikan kekuatan dan yang paling pantas untuk disembah. Tak perlu takut dalam menghadapi tantangan hidup jika senantiasa berpegang teguh pada Allah dan syariat Nya.

14. QS Al Fajr : 27 – 30

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي 

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Allah dengan hati yang puas, maka masuklah ke dalam rombongan hamba hamba Ku dan kemudian masuklah ke surga Ku”. Betapa Allah maha pengasih, setiap hamba yang taat diberikan imbalan berupa surga. Hal ini harus menjadi motivasi bagi semua umat muslim untuk berlomba lomba dalam kebaikan agar dapat menggapai ridho Nya.

.


I. AYAT RUQYAH.SESUAI AREA


1. KEPALA


A. AYAT:


(لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ)

[Surat Al-Hasyr 21]


B. AYAT:


(وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَىٰ ۗ بَلْ لِلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا ۗ 

[Surat Ar-Ra'd 31]


2. AREA DADA DAN PUNGGUNG


A. AYAT:

  

(بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ)

[Surat Al-Insyirah 1]

(وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ)

[Surat Al-Insyirah 2]


B.AYAT:


(قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي)

[Surat Tha-Ha 25]


C. AYAT:


(وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ)

[Surat Al-Baqarah 250]


3.AREA PERUT

e

Al-ZALZALAH...


4. AREA PAHA DAN KAKI.


A. AYAT:


(وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا اللَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الْأَسْفَلِينَ)

[Surat Fushilat 29]


(وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ)

[Surat Shad 41]


(وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ)

[Surat Shad 43]


Written by : Divruq PP.JRA (Khozinatul Asro)

Aneka Tipe Anak dalam al-Qur'an

 Aneka Tipe Anak dalam al-Qur'an



Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna dan unik. Tidak ada satu pun manusia yang sama persis. Sekalipun saudara kembar, pasti memiliki perbedaan. Akan tetapi, Allah telah mengategorikan berdasarkan kesamaan tipe yang dimiliki. Tulisan ini mengetengahkan tipologi anak yang didasarkan pada hasil penelusuran terhadap ayat-ayat al-Qur'an yang memuat tema anak dan derivasinya. Ada lima tipe anak dalam al-Qur'an, berdasarkan relasi dan kebersamaannya dengan orangtua mereka. Penulis akan berusaha menjelaskan semampunya agar pembaca mudah memahaminya. 

Tipe Lima Anak tersebut adalah : 

Pertama, anak yang menjadi musuh bagi orangtuanya, sehingga membuat repot bahkan resah bagi kedua  orang tuanya. Dalam kesehariaanya orang tua mengajarkan kebaikan kepada orang lain, justru anak sendiri yang melanggarnya. Atau orang tua melarang orang lain agar tidak maksiat, anak sendiri yang menjalankan maksiat tersebut. Contoh anak tipe pertama (musuh orangtua) adalah Kan’an yang memusuhi dakwah orangtuanya (Nabi Nuh AS). 

Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia (Kan’an) bukan termasuk keluargamu, sesungguhnya (perbuatan)nya itu perbuatan yang tidak baik. Oleh sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku, sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya. (Q.S. Hud [11]: 49).

Ayat yang mendasari tipe pertama ini adalah ;Q.S. al Taghabun : 14



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ


Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu, ada yang menjadi musuh bagimu; maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S. al-Taghabun [64]: 14).



Kedua, anak yang menjadi fitnah atau ujian keimanan bagi orangtuanya. Kita telah mengetahui semakin bertambah iman seseorang maka akan semakin bertambah ujian dalam hidupnya. Contoh anak tipe kedua (fitnah bagi orangtua) adalah anak kecil yang dibunuh oleh Nabi Khidhr AS.


Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan anak kecil, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, padahal dia tidak membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar" (Q.S. al-Kahfi[18]:74).

Dan adapun anak kecil (yang saya bunuh) itu, maka kedua orangtuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa anak itu akan mendorong kedua orangtuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran (Q.S. al-Kahfi [18]: 80).


Tipe kedua ini di gambarkan oleh Allah Swt. Dalam surat al anfal ayat 28 dan surat at Taghabun ayat 15 , yang keduanya saling melengkapi dan menguatkan. Dan ini menjadi saling menguatkan   sebagai dalil. Untuk memperkuat keyakinan bila menjadi orang tua. 


وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ


Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan (fitnah) dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang agung (Q.S. al-Anfal [8]: 28). 



إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ


Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah), dan di sisi Allah-lah pahala yang agung (Q.S. al-Taghabun [64]: 15).



Ketiga, anak yang menjadi objek kompetisi atau persaingan antar orangtua. 

Contoh anak tipe ketiga (objek kompetisi atau persaingan antar orangtua) adalah kisah dua pemilik kebun yang termaktub dalam Surat al-Kahfi. Salah seorang pemilik kebun yang sombong berkomentar bahwa keluarganya lebih mulia dibandingkan keluarga pemilik kebun yang shalih: Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan anak-anakku lebih perkasa (kuat)" (Q.S. al-Kahfi [18]: 24).

Menurut Ibn ‘Asyur, ayat di atas berkenaan dengan kebanggaan terkait “anak-anak atau keturunan”, berdasarkan jawaban balik yang dikemukakan oleh pemilik kebun yang shalih, terhadap pernyataan di atas, yaitu Q.S. al-Kahfi [18]: 39 


اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ



Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan saling berbangga antara kamu serta saling memperbanyak harta dan anak sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan anak-anak (keturunan) (Q.S. al-Kahfi [18]: 39).



Keempat, anak yang menjadi perhiasan atau kebanggaan orangtua. Contoh anak tipe keempat (perhiasan atau kebanggaan orangtua) adalah anak laki-laki yang lebih dibanggakan oleh orangtua pada zaman Rasulullah SAW dibandingkan anak wanita; mengingat saat itu (bahkan bisa jadi hingga kini), anak laki-laki dipandang sebagai simbol kekuatan, sedangkan anak wanita dipandang sebagai simbol kelemahan.


Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak wanita. Mahasuci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak wanita, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Dia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu (Q.S. al-Nahl [16]: 57-59).



الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا



Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia; sedangkan amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan (Q.S. al-Kahfi [18]: 46). 



زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ



Dijadikan indah pada (pandangan) manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan lahan pertanian. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 14).



Kelima, anak yang menjadi penentram jiwa orangtuanya (qurrata a’yun). Contoh anak tipe kelima (penentram jiwa orangtua) adalah Habil bagi Nabi Adam AS; Nabi Isma’il AS dan Nabi Ishaq bagi Nabi Ibrahim AS; Nabi Yusuf AS bagi Nabi Ya’qub AS; Nabi Sulaiman AS bagi Nabi Dawud AS; Nabi Yahya AS bagi Nabi Zakariya AS; Sayyidah Maryam bagi Keluarga Imran; Nabi ‘Isa AS bagi Sayyidah Maryam. Semua contoh diatas menjadi bukti bahwa anak yang sholih itu bisa diwujudkan di muka bumi ini, walaupun tantangan zaman yang berbeda.

Allah Swt, berfirman , menjelaskan anak yang diidamkan setiap orang tua setiap masa : 


وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا


Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, mohon anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penentram jiwa (qurrata a’yun), dan mohon jadikanlah kami (sebagai) imam bagi orang-orang yang bertakwa (Q.S. al-Furqan [25]: 74)



وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ



Dan berkatalah istri Fir'aun: "(bayi Nabi Musa ini) adalah penentram jiwa bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita ambil dia menjadi anak", sedang mereka tiada menyadari (Q.S. al-Qashash [28]: 9).



فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ



Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya dia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya (Q.S. al-Qashash [28]: 13).


يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآَتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا (12) وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا وَزَكَاةً وَكَانَ تَقِيًّا (13) وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا (14)



Hai Yahya, ambillah al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh; dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak. Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa); dan ia adalah seorang yang bertakwa. Dan seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dan dia bukanlah orang yang sombong lagi durhaka (Q.S. Maryam [19]: 12-14).


Senin, 12 Oktober 2020

Masa Lapang ingatlah Allah, Allah Akan Ingat di Waktu Sempit

 Masa Lapang ingatlah Allah, Allah Akan Ingat di Waktu Sempit

Mengajari anak  untuk mengenal  Allah harus mempunyai banyak metode, tapi Nabi kita Muhammad saw. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, pernah berpesan kepada sahabat mulia Abdullah bin Abbas, saat itu Abdullah bin Abbas masih belia. Rasul membonceng Abdullah bin Abbas diatas kendaraannya sembari menyampaikan beberapa pesan. Salah satu pesan Rasulullah adalah;


تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ


“Kenali Allah saat lapang, niscaya Allah akan mengenalimu di waktu sempit”


Ini adalah wasiat penting nan berharga. Jika kita ingin Allah mengenali, dalam arti menjaga kita pada saat ujian dan kesusahan menimpa, maka konsukwensinya kita juga harus mengingat Allah pada saat kita berada dalam kondisi yang lapang.


Kata ar-Raha’ yang dimaksud dalam hadits adalah situasi dimana kita dalam keadaan aman, umur panjang, badan sehat dan masih dimampukan untuk melakukan berbagai macam keta’atan. Sedangkan as-Syiddah, maksudnya; kondisi sulit saat kita sudah hampir putus harapan karena kelemahan dan ketidakmampuan kita menyelesaikan problematika yang ada.


Sebagai seorang makhluk bernama manusia, fikiran kita tak akan bisa menjangkau masa depan yang belum terjadi. Termasuk memprediksi apakah esok kita dalam kondisi lapang dan bahagia atau sebaliknya, susah dan sengsara.


Tapi seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, masa depan kini bisa diprediksi. Dengan mengunakan teori atau alat-alat teknologi modern yang mutakhir, kita bisa berspekulasi tentang hari esok. Termasuk mencari penjelasan-penjelasan ilmiah yang mungkin bisa membuat kita sedikit lega.


Meski begitu, perlu kita sadari; masih terlalu banyak yang tidak kita tahu, terlalu kecil kita sebagai manusia untuk memasukkan begitu banyak rahasia dan keagungan dan kebesaran-kebesaran Allah ke dalam kepala kita. Sehebat apapun manusia berfikir bisa menjawab semua persoalan melalui sains dan teknologi, tetap masih banyak hal-hal yang tak bisa kita cerna dengan akal dan tak bisa kita buktikan dengan sains.


Seperti Covid-19 yang kita rasakan hari ini, virus yang menyebar ke hampir seluruh penjuru dunia ini kian hari kian jadi misteri, belum ada titik terang pasti kapan akan berakhir. Perdebatan di kalangan paramedis, politikus, aparatur negara dan para tokoh seakan belum bisa memberikan solusi dan dampak siginifikan. Akumulasi dari semua ini akhirnya membuat rakyat jelata bingung, paranoid, bosan, masa bodoh, bahkan putus asa. Yang perlu kita renungkan baik-baik, fenomena ini sebelumnya tak pernah ada yang memprediksi, bahkan terfikir saja mungkin tidak. Ini hanya salah satu contoh.


Karena itulah, karena ketidakmampuan rasio kita untuk memprediksi hal-hal yang terkait dengan masa depan, kita diminta untuk mempersiapkannya. Termasuk masa sulit yang bisa saja terjadi pada kita esok atau lusa.


Dalam hal ini kita dituntut untuk sujud bersimpuh kepada Allah, mengakui bahwa kita manusia yang lemah, fakir dan butuh petunjuk. Kita diminta untuk kembali kepada petunjuk yang telah ditetapkan, petunjuk yang kita yakini tak ada sedikitpun keraguan di dalamnya yakni al-Qur’an dan hadits Rasulullah.


al-Qur’an telah memberikan kita petunjuk agar umat Islam selalu mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah kondisi sulit diluar prediksi. Pelajaran dari kisah Nabi Yunus yang Allah ceritakan dalam al-Qur’an adalah salah satunya. Ketika Nabi Yunus berada dalam kegelapan  perut ikan Paus, beliau berdo’a;


لا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ


“ Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat dzalim” (al-Anbiya’: 87)


Setelah 40 hari dalam kegelapan dalam perut ikan Paus tersebut, Allah menyelamatkan Nabi Yunus, padahal secara logika normal manusia, Nabi Yunus tak mungkin bisa selamat dalam kondisi yang sudah demikian rupa.


Pertanyaannya, apakah kita berfikir bahwa selamatnya Nabi Yunus dari perut ikan Paus itu karena doa tersebut?, Ternyata bukan, itu bukan satu-satunya sebab. Terkait sebab terkabulnya dijelaskan Allah di ayat lain;


فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ، لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ


“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah. Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit” (as-Shaffat: 143-144)


Maknanya; kalau bukan karena tasbih, banyaknya do’a, dzikir dan keta’atan yang dilakukan Nabi Yunus pada saat lapangnya beliau tidak akan ditolong Allah pada masa sulit (syiddah-nya).           


Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi Rasulullah bersabda:


(مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ (رواه الترمذي


“Siapa yang ingin dikabulkan oleh Allah ketika tertimpa kesulitan dan kesusahan, hendaknya memperbanyak doa ketika senang.”


Tidak ada yang instant dalam hidup ini, semua ada persiapannya. Begitu juga dengan kehidupan yang dijalani oleh seorang muslim, kemampuannya dalam mengatasi krisis dan melewati masa-masa sulit sangat bargantung pada apa yang dia lakukan pada masa lapangnya.


Orang mukmin tidak sama dengan orang kafir dalam mengingat Allah. Idealnya orang mukmin ingat kepada Allah baik dalam kondisi susah maupun lapang. Tapi tidak demikian dengan orang kafir yang ingat kepada Allah pada masa sulit saja, sehingga Allah mengabaikan permohonannya.


Demikianlah yang terjadi pada Fir’aun saat jalan laut yang dilaluinya mengejar Nabi Musa kembali menutup menjadi lautan.


وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ


“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun ketika hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS Yunus: 90).


Tapi permohonan Fir’aun ini diabaikan oleh Allah, apa sebab?, Allah berfirman di ayat selanjutnya;


آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ


“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan” (Surat Yunus: 91).


Maka, dari kisah Nabi Yunus dan Fir’aun, sesungguhnya kita bisa melihat bahwa perbuatan yang kita lakukan di masa lapang kita sangat berpengaruh pada keadaan pada masa sulit. Sebab Nabi Yunus di tolong Allah karena beliau selalu menjaga ketaatan kepada Allah di masa lapang.


Sedangkan sebab diabaikannya doa Fir’aun karena perbuatan buruk dan zalim yang dilakukan pada masa lapang. Padahal mereka berdua dalam kondisi sulit yang sama, sama-sama berpasrah dan mengiba pertolongan dari Allah. Yang membedakannya adalah perbuatan yang mereka lakukan jauh sebelum kesulitan itu hadir dalam kehidupan keduanya. Yang satu ditolong, yang satu lagi diabaikan oleh Allah.




Sumber : annursolo.com

Abdullah bin al-Mubarak

 Abdullah bin al-Mubarak

Sengaja saya ingin sampaikan, suri tauladan bagi kita semua,kisah ulama ternama, yaitu  Abdullah bin al-Mubarak. Diantaranya keteladanan proses mencari pasangan hidup, sehingga lahir seorang anak yang sholih. Bahkan akhirnya menjadi seorang ulama besar pada zamannya.

NAMA lengkapnya adalah Abdullah bin al-Mubarak bin Wadhih, Abu Abdurrahman al-Handzali. Beliau lebih dikenal dengan Ibn al-Mubarak.

Ayahnya berasal dari Turki dan ibunya berkebangsaan Arab. Beliau dilahirkan pada tahun 118 H.

Ayahnya, al-Mubarak, dulunya hanyalah seorang mawla (pelayan) dari seorang saudagar besar. Ia lama bekerja di perkebunan saudagar itu. Pada suatu hari, datanglah saudagar tersebut ke perkebunannya. Ia menyuruh al-Mubarak mengambilkan buah delima yang manis dari kebunnya. Al-Mubarak pun bergegas mencari pohon delima dan memetik buahnya, kemudian menyerahkan buah itu kepada tuannya.

Setelah tuannya membelah dan memakan delima itu, ternyata rasanya kecut. Tuannya kesal sambil berkata, “Aku minta yang manis. Kamu malah ngasih yang kecut. Ambilkan yang manis!”

Al-Mubarak segera bergegas kembali dan memetik delima dari pohon yang lain. Buah delima itu lalu diberikan kepada tuannya.

Namun, lagi-lagi buah itu rasanya kecut. Tuannya makin kesal kepada al-Mubarak. Hal itu berlangsung sampai tiga kali.

Akhirnya, tuannya bertanya, “Sekian lama kamu merawat kebun ini, kamu tidak bisa membedakan yang manis dan yang kecut?” Al-Mubarak menjawab, “Tidak, Tuan.”

Tuannya bertanya lagi, “Mengapa?” Al-Mubarak menjawab, “Karena saya belum pernah sekalipun mencoba mencicipi buah yang ada di kebun ini. ”Tuannya bertanya lagi, “Mengapa bisa begitu?”

Al-Mubarak menjawab, “Karena selama saya bekerja di sini, Tuan belum pernah mengizinkan saya untuk mencicipi buah di kebun ini.”

Mendengar jawaban itu, tuannya merasa takjub. Ia takjub atas sikap amanah al-Mubarak. Al-Mubarak pun mendapat tempat di hati tuannya. Tuannya lalu menikahkan al-Mubarak dengan putrinya.

Dari perkawinan keduanya lalu lahir seorang bayi laki-laki yang diberi nama Abdullah. Dialah yang kelak kemudian menjadi ulama besar: Abdullah ibn al-Mubarak.

(Lihat: Wafayat al-A’yan, 3/32).

*

Ibn al-Mubarak dijuluki dengan banyak julukan. Di antaranya: Al-Hafizh, Syaikh al-Islam, Fakhr al-Mujahidin, dan Pemimpin Para Ahli Zuhud. Masih banyak gelar lainnya.

Beliau menghabiskan usianya untuk melakukan banyak safar dalam rangka mencari ilmu, berhaji, berjihad, dan berdagang. Karena itu beliau dikenal dengan “As-Sâffar” (orang yang rajin melakukan perjalanan).

Adz-Dzahabi menuturkan, Ibnul Mubarak mulai mencari ilmu sejak umur 20 tahun di daerahnya, Marwa. Pada tahun 141 H ia melanjutkan perjalanannya ke wilayah lain dan berguru kepada para tâbi’in.

Beberapa wilayah Islam yang pernah ia kunjungi dalam rangka menuntut ilmu antara lain: Yaman, Mesir, Suriah, Bashrah, dan Kufah. Karena begitu banyaknya ulama yang beliau kunjungi untuk berguru menuntut ilmu.

Ibrahim bin Ishaq al-Bunani menuturkan bahwa Ibnul Mubarak pernah berkisah, “Aku telah belajar dari 4.000 guru dan meriwayatkan hadits dari 1.000 ulama.”

Al-Abbas bin Mush’ab juga berkata, “Aku pernah meneliti guru-gurunya dalam periwayatan hadits. Ternyata aku menjumpai gurunya ada 800 ahli hadits.”

*

Salah satu akhlak beliau yang menonjol adalah selalu berusaha menyembunyikan amal kebaikannya dari penglihatan manusia. Al-Marwazi berkata: Aku pernah mendengar Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal berkata, “Ibnu al-Mubarak tidak diangkat derajatnya oleh Allah kecuali karena dia telah banyak melakukan kebaikan yang tidak diketahui banyak orang.” (Ibn ‘Asakir, Târîkh Dimasyqi,38/240).

Terkait itu, Muhammad bin Isa berkata, suatu hari Ibnu al-Mubarak pernah berjumpa dengan seorang pemuda. Beliau lalu menyampaikan hadits. Setelah itu beliau pergi.

Setelah beberapa hari, Ibnu al-Mubarak hendak menjumpai pemuda itu untuk kedua kalinya. Namun, beliau sudah tidak melihat anak muda itu. Ibnu al-Mubarak bertanya perihal anak muda tersebut kepada seseorang. Orang itu berkata kepada beliau bahwa pemuda itu terlilit utang sebesar 10 ribu dirham (kira-kira Rp 700 juta).

Lalu Ibnu al-Mubarak meminta dipertemukan dengan orang yang telah memberi pinjaman kepada pemuda tersebut. Setelah bertemu, segera Ibnu al-Mubarak membayarkan utang pemuda tersebut sebesar 10 ribu dirham kepada orang tersebut. Beliau berpesan agar orang itu tidak perlu bercerita kepada siapapun tentang hal ini selama beliau masih hidup.

Setelah beberapa hari Ibnu al-Mubarak menemui anak muda itu dan bertanya kepada dia, “Anak muda, dari mana saja engkau? Beberapa hari ini aku tidak melihatmu?”

Dia menjawab, “Abu Abdurrahman, saya terlilit utang hingga saya dipenjara. Namun, seseorang telah datang membayarkan utangku hingga aku bebas dari penjara. Saya tidak tahu siapa orang itu.”

Al-Mubarak berkata,”Alhamdulillah.” Anak muda itu baru mengetahui orang yang telah membayar utangnya setelah Ibn al-Mubarak meninggal (Ibn’ Asakir, Târikh Dimasyqi, 38/350).

Ibn al-Mubarak juga terkenal karena kemuliaan akhlaknya. Hasan bin ‘Arafah pernah mendengar Ibnu al-Mubarak berkata, “Aku pernah meminjam sebuah pena dari penduduk Syam. Setelah selesai, aku bermaksud pergi ke Syam untuk mengembalikan pena tersebut kepada pemiliknya. Namun, saat aku sampai di Marwa, tiba-tiba orang yang aku pinjam penanya itu telah berada di sampingku. Aku tidak segera memberikan pena itu hingga ia kembali ke Syam. Setelah ia kembali ke Syam, aku pun segera pergi menyusul dia ke Syam untuk untuk mengembalikan pena itu.” (Ahmad bin Ali Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi, Târikh Baghdâd, 10/160).

Ibn al-Mubarak juga seorang yang wara’. Ali bin al-Hasan bin Syaqiq pernah mendengar Ibn al-Mubarak berkata, “Sesungguhnya mengembalikan satu dirham dari sesuatu yang syubhat lebih baik bagiku daripada aku bersedekah 100 ribu sampai 600 ribu dirham.” (Ahmad bin Ali Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 10/139).

Ibn al-Mubarak pun terkenal karena kedermawanannya. Fudhail bin Iyadh berkata, “Ibn al-Mubarak biasa berinfak kepada orang-orang fakir setiap tahun sebanyak 100.000 dirham (kira-kira Rp 7 miliar).”

Karena keagungan dan kemuliaan Ibn al-Mubarak, tidak aneh jika adz-Dzahabi pernah berkata, “Sungguh aku menyukai Ibnu al-Mubarak karena Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan mencintai dia karena Allah Subhanahu Wata’ala, aku berharap Allah Subhanahu Wata’ala juga memberi aku sebagian kebaikan yang telah diberikan kepada dia seperti ketakwaan, kerajinan dalam beribadah, keikhlasan, kegemaran untuk berjihad, mempunyai ilmu yang luas, kepandaian, kesederhanaan, bijak dalam memberikan fatwa dan sifat-sifat terpuji.” (Abu al-Hajaj, Tahdzîb al-Kamâl, 16/15-16).

Ibn al-Mubarak wafat pada bulan Ramadhan saat kembali dari medan perang pada tahun 181 H dalam usia 63 tahun. * Arief B. Iskandar

(Khadim Ma’had Wakaf Darun Nahdhah al-Islamiyah)

Hidayatullah.com

Kamis, 08 Oktober 2020

Pondok Pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang

Sejarah Pondok Pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang

Sejarah berdirinya pondok pesantren Al-Burhan Hidayatullah Semarang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang perkembangan pesantren Hidayatullah Nasional. Pada mulanya Hidayatullah didirikan pada tanggal 7 Januari 1973 bertepatan pada tanggal 2 Dzulhijah 1972 di Balikpapan dalam bentuk pesantren oleh ustadz Abdullah Said (almarhum). Pesantren ini kemudian berkembang ke berbagai daerah hingga mencapai 120 buah cabang pada tahun 2000

Pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang sendiri baru dirintis pada tahun 1991 oleh beberapa anak muda yang sebagian merupakan santri dari pesantren Hidayatullah Balikpapan dan Surabaya yang memang mendapatkan tugas untuk mendirikan cabang di Semarang. Achmad Basunie, Umar Tauchid, Abdul Muhaimin dan Kusnadi adalah empat serangkai yang dengan gigih merintis cikal bakal pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang.

Sebagai langkah awal untuk menangani kegiatan pesantren Al Burhan Hidayatullah, dibentuklah sebuah yayasan yang diberi nama yayasan al-Burhan . Yayasan al-Burhan merupakan amal usaha Hidayatullah yang menangani empat bidang kegiatan, meliputi bidang dakwah, pendidikan, sosial dan ekonomi.

Di bidang sosial, pesantren Al Burhan Hidayatullah telah mendirikan panti asuhan yang menampung anak-anak tidak mampu dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seluruh biaya hidup harian hingga biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh panti. Dengan demikian seluruh santri-santri pesantren Hidayatullah tidak dipungut biaya karena mereka memang berasal dari kalangan dhuafa.

Untuk menghidupi santri-santrinya kegiatan usaha yang mula-mula dirintis oleh pesantren Al Burhan Hidayatullah adalah mendistribusikan majalah suara Hidayatullah dan membuka toko kecil yang menjual aneka kebutuhan pokok yang pada awalnya dilakukan dengan sistem delivery service atau diantar langsung ke pelanggan.

Di bidang pendidikan,  disamping  melaksanakan model pendidikan non formal diniyah ala pesantren, Hidayatullah sejak tahun 1999 telah merintis jenjang pendidikan formal setingkat SLTA berupa Madrasah Aliyah. Kemudian pada tahun 2004 kembali dirintis jenjang pendidikan formal setingkat SLTP berupa Madrasah Tsanawiyah (MTs). Mayoritas siswa di dua jenjang pendidikan  formal tersebut  merupakan snatri-santri mukim pesantren Al Burhan Hidayatullah sedangkan sebagian kecil lainnya merupakan santri kalong atau santri yang tidak berasrama mengingat tempat tinggal mereka adalah disekitar lokasi pesantren.

Di bidang dakwah, pesantren Al Burhan Hidayatullah aktif berkecimpung dalam aktivitas pembinaan spiritual ummat. Dai-dai pesantren Al Burhan Hidayatullah yang terdiri dari para pengasuh, ustadz, bahkan santri seniornya sejak awal telah memberikan pelayanan dakwah di masjid-masjid sebagai khatib, di kampus perguruan tinggi, di majelis taklim maupun di berbagai instansi swasta atau pemerintah.

Perkembangan Fisik Pesantren Hidayatullah

Membicarakan pesantren Al Burhan Hidayatullah maka identik dengan membicarakan pesantren kontraktor  atau pesantren yang melakukan aktivitasnya dibangunan sewa atau kontrakan , bahkan dari kasus-kasus yang ada di berbagai daerah tidak jarang menggunakan tempat atau rumah pinjaman dari simpatisan. Demikian pula halnya dengan pesantren Al Burhan Hidayatullah di Semarang, aktivitas awalnya dilakukan di sebuah rumah kontrakan di daerah Genuk Kaligawe pada tahun 1990-an.

Hingga sampai tahun 1995 pesantren Al Burhan Hidayatullah masih menempatkan aktivitasnya di rumah kontrakan yang setiap saat kadang berpindah-pindah. Bermula dari daerah Genuk Kaligawe pada tahun 1991 pesantren Al Burhan  Hidayatullah memboyong santrinya ke sebuah rumah yang dekat dengan pusat kota di jl. Singosari Timur nomor 8. Kemudian pada tahun 1994 pesantren menyewa sebuah rumah di jl. Wonodri Baru nomor 35 yang dijadikan sebagai kantor atau secretariat pesantren, sementara asrama pesantren tetap di jalan Singosari Timur.

Pada tahun 1993 pesantren Al Burhan Hidayatullah berhasil membebaskan tanah seluas 3.000 meter persegi di kelurahan Gedawang Kecamatan Banyumanik yang merupakan cikal bakal kampus pesantren Al Burhan Hidayatullah Semarang. Kemudian mulai tahun 1994 sebagian santri mulai diboyong ke lokasi tanah baru tersebut dengan menempati barak seadanya. Mulai tahun itu pula mulai dibangun kantor, ruang belajar, dan asrama yang semuanya semi permanent di tanah yang belum lama dibebaskan tersebut.

Pada tahun 1995 pesantren Al Burhan Hidayatullah membebaskan sebuah rumah di jalan Wonodri Baru nomor 41 yang kemudian digunakan sebagai secretariat pesantren di Semarang bawah sekaligus sebagai tempat kegiatan ekonomi berupa toko kelontong. Dengan demikian aktivitas kesekertariatan yang semula di lakukan di jalan Wonodri Baru nomor 35 di pindahkan ke jalan Wonodri Baru nomor 41, jaraknya hanya sekitar 50 meter.

Pada tahun 1996 merupakan tahun yang sangat bersejarah karena pada tahun tersebut pesantren dengan dukungan umat Islam di Semarang yang menjadi simpatisannya, membangun sebuah masjid yang cukup representative di lokasi kampus Gedawang. Sejak tahun itu pula seluruh santri diboyong ke lokasi kampus pesantren di Gedawang. Demikian seterusnya hingga tahun 1997 pesantren Al Burhan Hidayatullah terus gencar melakukan proyek pembangunan fasilitas fisiknya berupa asrama anak asuh dan ustadz.

Hingga tahun 2006 berbagai fasilitas fisik pesantren telah berdiri di Gedawang walaupun relative masih sederhana bahkan dirasa kurang memadai untuk menampung seluruh kegiatan pesantren yang semakin meningkat. Fasilitas fisik dimaksud terdiri dari bangunan masjid, kantor pesantren, bangunan sekolah/kelas, asrama santri laki-laki, asrama santri perempuan, rumah pengasuh dan dapur umum. Karena fasilitas fisik tersebut masih jauh dari memadai, maka sampai saat ini pihak pesantren masih terus berupaya mencari dukungan ummat untuk membangun dan melengkapi fasilitas fisik yang dibutuhkan. 

Metode Pendidikan

Sekolah milik pesantren Al Burhan Hidayatullah tidak selalu harus menggunakan nama Hidayatullah . Tetapi kurikulum disamakan, dengan kurikulum yang bersifat integral. Istilah integral menunjukkan satu kesatuan dari seluruh unsur pendidikan yang ada, baik imtaq maupun iptek, sekolah dan masyarakat, formal dan non formal, dsb. Karena itu sekolah yang dikelola Hidayatullah Semarang baik yang SLTP maupun SLTA bersifat full day (pagi sampai sore) bahkan bersifat pengasrama-an.

Sebagaimana disebut di muka, sekolah milik pesantren Al Burhan Hidayatullah tidak selalu menggunakan embel-embel Hidayatullah, demikian pula dengan yang di Semarang dimana nama yang digunakan adalah sama dengan nama  yayasan al-Burhan, MTs dan MA al-Burhan.

Seluruh santri akan menghabiskan harinya dari pagi sampai sore dijenjang pendidikan formal, sementara sore hingga malam adalah saatnya pelajaran diniyah kepesantrenan dan belajar secara pribadi (belajar mandiri).

Kurikulum yang digunakan di jenjang pendidikan formal merupakan perpaduan dari kurikulum yang di tetapkan oleh Diknas, Depag, dan diperkaya dengan muatan local berupa diniyah kepesantrenan. Kurikulum diniyah yang menjadi prioritas adalah, untuk santri putra bagaimana mempunyai kompetensi lulusan yang mampu berdakwah di masyarakat dengan bekal agama yang mumpuni, menguasai bahasa arab dan materi diniyah yang aplikatif. Sedangkan untuk santri putri, diprioritaskan untuk menguasai bahasa arab dan program tahfidz al quran. Dengan demikian diharapkan seluruh santri akan memiliki basis keilmuan yang komprehensif, disamping mempelajari ilmu-ilmu umum juga secara mendalam memperoleh pelajaran agama yang memadai.

Khusus untuk santri yang menempuh pendidikan formal setingkat SLTA, maka setelah lulus mereka tidak langsung keluar begitu saja dari pesantren karena mereka masih terikat kontrak selama 1 tahun masa pengabdian. Masa pengabdian tersebut di gagas untuk lebih menggembleng mental dan bekal para santri yang baru lulus jenjang pendidikan SLTA agar pada saatnya nanti hidup bermasyarakat sudah memiliki kepercayan diri yang tinggi.

Karena itu selama masa pengabdian para santri diharapkan mampu menjalaninya dengan baik. Beberapa aktivitas selama masa pengabdian dirancang sepenuhnya oleh pesantren Al Burhan Hidayatullah untuk meng-up grade kualitas para santri yang baru lulus tingkat SLTA tersebut. Sebagian dari mereka ada yang ditugaskan sebagai staf pengasuh pesantren dan asrama, ada yang ditugaskan menghidupkan masjid-masjid, menjadi staf amal-amal usaha pesantren, bahkan ada pula yang di tugaskan di daerah perintisan pesantren yang baru.

Pada dasarnya keseluruhan model dan sistem pendidikan di pesantren Al Burhan Hidayatullah memang dirancang agar santri tidak sekedar menguasai ilmu agama, namun juga memiliki sikap mental yang tidak pantang menyerah, kreatif, sekaligus mampu memberikan kontribusi bagi proses pembangunan dan pemberdayaan umat Islam

Kegiatan Pemberdayaan Santri

Konsep pemberdayaan bagi pesantren Al Burhan Hidayatullah tidak semata-mata mengacu pada pengertian pemberdayan secara ekonomi, namun lebih jauh dari itu diarahkan kepada pemberdayaan yang lebih komprehensif, meliputi pemberdayaan intelektual, mental, dan material.

Keseluruhan model pemberdayaan tersebut pada dasarnya secara langsung maupun tidak langsung telah diperkenalkan bahkan di praktikkan langsung sejak seorang santri masih duduk dibangku SLTP, proses itu kemudian semakin berkembang dan matang  menginjak mereka duduk di bangku SLTA, dimana pada saat itu mereka mulai dilibatkan secara langsung untuk mengembangkan tiga program pemberdayaan tersebut.

Pemberdayaan intelektual salah satunya dilakukan dengan cara menjadikan fokus penguasaan dua bahasa (Arab dan Inggris) sebagai mainstream bahasa yang mewarnai komunikasi keseharian. Mereka dibudayakan untuk membiasakan menggunakan dua bahasa tersebut bukan hanya dalam percakapan lisan saja, tapi juga dalam bentuk bahasa-bahasa tulis lewat majalah dinding, papan-papan petunjuk, dan pidato maupun khotbah yang di berikan.

Sementara itu, proses pemberdayaan mental seluruh santri, Hidayatullah tidak main-main, karena boleh jadi keunikan dan ciri khas sistem pendidikan Hidayatullah justru terletak pada adanya proses tersebut. Santri dengan berbagai latar belakang yang beragam harus siap mendapatkan bimbingan mental yang ketat sebagai bagian dari proses pendidikan yang integral. Santri-santri yang notabennya berasal dari kaum dhuafa dibangkitkan semangat dan motivasi hidupnya, sehingga mereka memiliki pandangan akan masa depannya dengan penuh percaya diri. Bukan sekedar rasa percaya diri saja yang dikembangkan, namun juga perasaan rendah hati juga ditanamkan agar santri tidak over acting dalam perilaku keseharian.

Beragam aktivitas untuk menggelontor rasa sombong dan menumbuhkan rasa rendah hati diberikan kepada seluruh santri. Tidak hanya tugas belajar saja, seluruh santri juga mendapatkan tugas tambahan seperti tugas masak, tugas bersih-bersih, tugas jaga, tugas mengasuh adik-adik santri, atau tugas mencuci piring. Semua tugas tersebut diberikan di bawah control dan penilaian pengasuh.

Program pemberdayaan ekonomi santri juga mendapatkan porsi yang besar di pesantren Al Burhan Hidayatullah dan tetap merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dari dua program pemberdayaan sebelumnya. Disebut tidak terpisahkan karena ketiga program pemberdayaan tersebut merupakan satu kesatuan yang saling memberi daya dukung. Intelektual yang terbangun di tambah dengan sikap mental yang kuat akan memberikan daya dukung luar biasa bagi proses pengembangan pemberdayaan ekonomi atau kemandirian mereka kelak.

Program atau kegiatan pemberdayaan untuk santri di orientasikan kepada lebih memberikan jalan atau peluang dan pengetahuan kepada mereka, bukan memberikan ikan atau uang sebagai modal kerja. Dengan ilmu yang dimiliki ditambah sikap mental yang kuat dan positif, sebagian dari mereka menjadi agen majalah dan buku-buku Islam, mengajar les privat di keluarga-keluarga muslim, atau ikut terlibat menangani amal usaha pesantren yang lainnya. Tidak sedikit diantar mereka yang karena ketekunannya akhirnya memiliki sumber pendapatan yang cukup memadai untuk ukuran mereka. bahkan banyak diantara mereka mampu melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi.

Selasa, 06 Oktober 2020

Pilih Janji Allah SWT. atau Seruan Setan?

Pada hari ahad, tanggal 4 Oktober 2020 saya diminta untuk ngisi kajian habis subuh di Masjid An Nur Gedawang Pesona Asri. Maka saya ambilkan tema khotbah jumat di www.arrisalah.net yang sesuai dengan kebutuhan jamaah pada saat itu. Karena materi khotbah, maka saya rubah redaksinya, agar mudah dipahami sebagai bahasa tulisan.

Silahkan di baca !

Imam Hasan al-Bashri menyebutkan, sekitar sembilan puluh tempat di dalam al-Qur’an menegaskan bahwa Allah telah menetapkan kadar rezeki dan menjaminnya untuk makhluk-Nya. Dan hanya pada satu ayat Allah menyebutkan ancaman setan, “asy-syaithaanu ya’idukumul faqra, “Setan menjanjikanmu dengan kefakiran.”

Akan tetapi, betapa anehnya manusia, mereka takut dengan satu kali ancaman setan yang hobi berdusta, lalu melupakan 90 kali janji Allah yang Mahabenar dan tak mungkin dusta.

Rasa takut manusia terhadap ancaman setan tersebut diindikasikan dengan beberapa keadaan;

Pertama, ketika manusia takut miskin, kekhawatirannya yang berlebihan menyebabkan ia kurang selektif dalam mencari penghasilan. Berlaku korup, menipu, transaksi riba, pergi ke dukun dan cara lain yang diharamkan.

Seperti slogan yang populer kita dengar “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal!” Ia lupa bahwa justru dengan mencukupkan yang halal niscaya rezki menjadi mudah. Sebaliknya, perbuatan dosa menjadi penghalang datangnya rezki atau menghilangkan keberkahannya. Nabi ﷺ bersabda,


إنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ


“Sesungguhnya seseorang bisa terhalang dari rezeki dikarenakan dosa yang ia perbuat” (HR Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim)

Jikalau pun seseorang mendapatkan rezeki dengan kemaksiatan, keberkahan akan dicabut. Harta tak membuat hidupnya bahagia, bahkan menjerumuskan ia ke dalam penderitaan dan kesengsaraan yang datang tak terkira. Belum lagi efek tertampiknya doa, tertolaknya amal shalih dan hisab yang berat di akhirat.

Kedua, ketika seseorang mengkhawatirkan dirinya fakir, lalu ia tenggelam dengan kesibukan mencari penghasilan, hingga menelantarkan kewajiban dan ketaatan kepada Allah.

Ketika itu, berarti ia telah mentaati setan dan mempercayai ancaman setan. Padahal, karakter setan itu ‘kadzuub’, pendusta. Berapa banyak dari kita yang menghabiskan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memikirkan dan memburu harta. Di hari-hari biasa mereka sibuk belajar ilmu duniawi, yang lain lagi hanya fokus dengan bisnis duniawi, sementara hari libur dipergunakan untuk rekreasi. Lantas kapan mereka sempatkan belajar ilmu syar’I, kapan pula mereka pikirkan nasib ukhrawi. Bagaimana masuk akal ketika seseorang menyiapkan bekal untuk hidup selama 60 atau 70 tahun dengan bekerja seharian, namun mereka siapkan bekal untuk akhirat yang lamanya tak berujung justru hanya dengan waktu sisa dan tenaga sisa?

Padahal, rejeki itu mutlak dalam kekuasaan Allah. Dia memberi atau menahan rejeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan mencegah siapapun yang Dia kehendaki. Meski dengan ‘cash flow’ yang meyakinkan, rencana yang jitu, peluang yang menjanjikan, tetap saja Allah yang menjadi Penentu,


أَمَّنْ هَـٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ بَل لَّجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ ﴿٢١﴾


“Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?” (QS. al-Mulk: 21)

Bagaimana seseorang akan mendapatkan bagian cukup dari karunia-Nya, sementara ia berpaling dari ketaatan kepada-Nya? Logika yang sehat justru menunjukkan, bahwa dengan amal shalih, menjalankan ketaatan, menjauhi maksiat dan mendatangkan keridhaan Allah akan mengundang hadirnya kemurahan Allah. Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,


إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِى أَمْلأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ


“Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Anak Adam, luangkanlah olehmu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan, dan aku tutup kefakiranmu. Jika tidak, niscaya Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan tidak Aku tutup kefakiranmu.” (HR Tirmidzi, al-Albani mengatakan “shahih”)

Tanda ketiga, bahwa seseorang telah terkena hasutan setan yang menakut-nakuti dengan kefakiran adalah tatkala manusia bakhil dan enggan berbagi.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan firman Allah,


الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّـهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٦٨﴾


“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui” (QS. al-Baqarah: 268)

Yakni setan menakut-nakutimu dengan membisikkan, “Jika kamu menginfakkan hartamu, kamu akan menjadi fakir” dan menyuruhmu berbuat fahsya’ yakni bakhil. Muqatil dan al-Kulabi mengatakan, “Semua kata fahsya’ dalam al-Qur’an maknanya adalah zina kecuali pada ayat ini, makna fahsya’ di sini adalah bakhil.”

Orang yang termakan oleh hasutan setan, pada akhirnya hanya mengenal hitungan matematis belaka. Bahwa uang akan berkurang nilainya ketika sebagian disedekahkan. Harta juga akan berkurang kadarnya jika dizakatkan sebagiannya. Mereka lupa bahwa harta yang di tangan mereka adalah pemberian dari Allah. Dan Allah menghendaki penambahan nikmat itu dengan cara sedekah, dan tercabutnya nikmat itu dengan maksiat dan menolak sedekah. Bahkan setiap datang pagi hari, dua malaikat turun untuk berdoa. Satu malaikat berdoa,


اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا


“Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) bagi yang bersedekah” (HR Bukhari)


Sedangkan malaikat satunya berdoa,


اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا


“Ya Allah, berilah kebangkrutan bagi orang yang menahan sedekah.” (HR Bukhari)


Lantas dimanakah letak cerdasnya akal bagi orang yang memilih doa kebangkrutan? Dimanakah pula keimanan seseorang yang lebih percaya satu kali janji setan pendusta katimbang 90 kali janji Allah SWT.? Adapun seorang mukmin, sepenuhnya yakin meski diingatkan dengan satu ayat saja,


وَاللَّـهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ


“Sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” (QS al-Baqarah 268)


Kalimat Syahadat Adalah Kalimat Yang Paling Agung

Seiring dengan perjalanan sejarah, masih terlintas dibenak kita sebuah peristiwa memilukan hati dan sangat mengguncangkan jiwa. Peristiwa yang syarat dengan kesedihan dan kegundahan mendalam yang menuntut ketegaran sang pengemban risalah, bahkan eksistensinya ikut dipertaruhkan. Inilah peristiwa yang menimpa Rasululullah Saw, Tepatnya pada bulan Rajab tahun kesepuluh dari keNabian, ketika beliau mendatangi Pamannya Abu Tholib, dipenghujung hayatnya. Sementara itu Abu Jahal sudah berada disisinya.

Kemudian beliau berkata,

يَا عَمْ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا الَله كَلِمَةٌ أَشْهَدٌ لَكَ بِهَا عِنْد الله


“Paman, katakan la ilaha illallah, suatu kalimat yang dapat saya jadikan sebagai hujah disisi Allah. Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah berkata, “Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Mutholib? “keduanya terus berbicara kepada Abu Thalib, sehingga pada akhirnya Abu Thalib mengucapkan bahwa dia berada diatas agama Abdul Muthalib. Kemudian Nabi Saw berkata, “Aku akan memohonkan ampunan untuk anda selama tidak dilarang.” (Mutafaqun ‘alaihi). Lalu, turunlah ayat yang menegur beliau, “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahim. (QS. 9:113)


Termaktub di dalam kisah di atas, harapan dan usaha yang maksimal dari Rasulullah meyakinkan pamannya, supaya mengucapkan kalimat syahadat tauhid la ilahaillallah. Meskipun akhirnya pamannya meninggal dalam kekafiran dan berujung dengan kesedihan. Ada dua faktor yang melatar-belakangi kesedihan beliau. Pertama: Pamannya adalah satu-satunya orang yang mampu melindungi, membela Rasulullah saw, ikut berpatisipasi memajukan dakwahnya dan telah memberi kontribusi yang sangat bernilai bagi keberlangsungan dakwahnya ketika itu. Kedua: Ketika dipenghujung hayatnya, pamannya enggan mengucapkan kalimat syahadat la ilaha illallah. Dan faktor kedua inilah yang sangat disayangkan oleh beliau dan yang membuat beliau sedih dengan kesedihan yang mendalam.

Sekarang timbul pertanyaan yang mengganjal dibenak kita. Mengapa Rasulullah sangat sedih, lantaran pamannya meninggal tanpa mengikrarkan syahadat la ilaha illallah? Apa sebenarnya muatan hikmah yang tersirat didalamnya? Hal inilah yang melatarbelakangi pembahasan ini.

Kisah di atas merupakan contoh yang riil, yang dicontohkan baginda Nabi saw.  akan pentingnya syahadat. Beliau telah berusaha dengan sekuat tenaga mendakwahkan kalimat syahadat ini, meninggikan dan memegangnya dengan erat serta konsisten diatas jalannya. Bahkan tidak ada seorang pun, yang dapat menggoyahkan prinsip dan pendirian beliau. Kemudian setelah diamati dan ditelaah dari literatur yang ada, ternyata ada beberapa hikmah atau rahasia yang termuat didalamnya yaitu; Syahadat merupakan asas dari aqidah islam, hal ini dilihat dari esensi syahadatain. Disaat seseorang mengikrarkannya dua kalimat syahadat berarti ia berjanji, bersumpah dan siap untuk hanya beribadah kepada Allah saja, tunduk, taat dan patuh kepadanya, serta ada kesanggupan dari hati untuk menjauhi dan meninggalkan segala bentuk kekafiran dan kemusyrikin. Kemudian ia berjanji, bersumpah dan siap hanya meneladani Muhamad saw. dalam beribadah kepada Allah SWT, serta ada kesanggupan hati pula untuk menjauhi dan meninggalkan segala bentuk kebid’ahan. Ahlus Sunnah wal Jamaah telah sepakat bahwa mengucapkan syahadatain merupakan syarat syahnya iman seseorang. Rasulullah bersabda;


أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوْا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَه وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ، فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَصَمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى الله 


“Aku disuruh supaya memerangi manusia sehingga mereka bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, beriman kepadaku dan kepada apa yang aku bawa. Jika mereka telah melakukan semua itu, maka darah dan harta mereka telah terjaga dariku kecuali dengan haknya, dan hisab mereka terserah kepada Allah.”(Diriwayatkan oleh Muslim).


Imam Nawawi berkata, “Hadits diatas menjelaskan tentang syarat syah diterimanya iman yaitu dengan mengikrarkan syahadatain dan meyakininya dengan sepenuh hati. Dan dia juga harus mengimani segala sesuatu yang dibawa oleh Rasululullah saw. Kemudian, syahadat merupakan syarat keislaman seseorang, hal ini sebagaimana telah diungkapkan Syaikhul ibnu Taimiyah, beliau berkata, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barangsiapa yang belum mengucapkan syahadat, maka dia kafir. Padahal ia mampu mengucapkannya, tapi tidak mengikrarkannya. Dan pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Rajab Al-hambali, beliau berkata, “barangsiapa yang meninggalkan syahadatain, maka dia telah keluar dari dienul islam”.

Dari pemaparan para ulama diatas menjadi jelaslah bahwa syahadat merupakan inti bahkan asas dari aqidah islamiyah. Dengannya manusia terpilah menjadi muslim atau kafir. Ringkasnya, Jika seseorang tidak mengikrarkannya, tidak meyakininya dan tidak melaksanakan tuntutan yang ada didalamnya, maka tidak dikatagorikan sebagai seorang muslim bahkan dilarang untuk memberikan loyalitas kepadanya sampai hari kiamat.

Dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda,”

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

“Dzikir yang paling utama (diucapkan oleh seseorang) adalah lailahaillallah.”(Diriwayatkan oleh Thirmidzi, hadits hasan shahih). 

Kalimat tauhid merupakan kalimat yang paling utama untuk diucapkan, karena didalamnya mengandung penetapan pada keEsaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penafian (peniadaan) dari segala bentuk kemusyrikan. Kalimat tersebut juga merupakan kalimat yang paling utama diucapkan oleh para Nabi, karenanya mereka diutus, dibawah panjinya mereka berperang, dengan menegakkannya mereka mendapatkan kesyahidan, dan kalimat tersebut adalah kunci pembuka syurga serta penyelamat dari neraka. Didalam tafsir Al-jami’liahkaml qur’an juga dijelaskan bahwa, kalimat Lailahaillallah lebih afdhol dari pada kalimat al-hamdu. Karena didalamnya mengandung pencegahan terhadap segala bentuk kekufuran dan kesyirikan, dan karenanya manusia diperangi. Dan pendapat inilah yang diambil oleh Ibnu ‘Atiyah dan Al-Hakim mereka berdalil dengan hadist;


أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُوْنَ مِنْ قَبْلِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ


“Kalimat yang utama saya ucapkan dan para Nabi sebelum saya, adalah la ilahaillallah wahdah laasyarikalah (tiada tuhan yang berhak  disembah kecuali Allah,  yang tiada sekutu baginya).