Senin, 30 November 2020

PERKEMBANGAN POB AN-NUR DI SEMARANG

 PERKEMBANGAN  POB AN-NUR DI SEMARANG



Pengkajian Olah Batin (POB) An-Nur di semarang di perkenalkan oleh Bapak Mohamad Sofi Noer Alsa dengan di tandai Pembukaan kepada 6 peserta/anggota pada Tanggal 19 November 1994 oleh Pembina Muda Bapak Suharyadi. Pada saat itu kepengurusan dilaksankan secara tunggal oleh Bapak Mohamad Sofi Noer Alsa sendiri.


Perjalanan perkembangan organisasi tidak begitu berjalan lancar. Hal ini antara lain disebabkan dari anggota POB AN-NUR yang sebagian besar kalangan mahasiswa berdomisili tidak tetap dan setelah lulus pindah tempat tinggal.


Pada bulan Mei Tahun 1999, Sdr Nur Said Abdullah selaku pengelola Pondok Pesantren Hidayatullah memperkenalkan kepada para ”tokoh agama” Gedawang tentang Kajian olah batin AN-NUR. Hadir pada acara perkenalan tersebut Bapak Mohamad Sofi Noer Alsa selaku pengurus Semarang,  pengurus pusat Bapak Suharyadi, Bapak Drs. Haryanto, Bapak Husein Dahlan, Bapak Abdul Muluk dan beberapa teman yang lain. Pertemuan tersebut di lakukan di Masjid Ponpes Hidayatullah, Gedawang, Kec. Banyumanik, Kota Semarang Ba’da Maghrib. Setelah isya’ dilanjutkan dengan latihan yang diikuti oleh 14 orang. Selanjutnya latihan berpindah di kantor koperasi Sakinah, jalan Wonodri baru 41 Kecamatan Semarang Selatan.


Adapun kepengurusan POB AN-NUR Cabang Semarang baru terbentuk dan di kukuhkan pada Tanggal 20 Mei 2000 di Mushola SMP Negeri 26 Banyumanik, Semarang oleh Ketua Pusat POB AN-NUR Bapak  Drs. HM Husein Dahlan dengan sekretariat Gedawang Permai I-7, Banyumanik, Semarang. Susunan Kepengurusan inti sebagai berikut: Ketua oleh Drs. Sugeng Maryanto, Sekretaris oleh Suwarno SH, sedangkan Bendahara di percayakan oleh Harsoyo Wiyoso, BA.


Pusat latihan mengalami berpindah-pindah sejak dari gedung Sakinah. Pusat latihan pernah dilakukan di Gedung Tri Lomba Juang, Kantor Kelurahan Wonodri, Aula SMA Negeri 9, dan terakhir di serambi Masjid Assalam Gedawang Permai.

 

Program latihan selanjutnya diadakan setiap hari minggu pagi jam 06.00 wib di ruang LPQ Masjid As Salam Gedawang permai. Dengan dibimbing pelatih, bapak Suwarno, SH. Karena kesibukan masing-masing anggota An Nur, sekarang latihan bersama belum dijalankan, hanya dianjurkan tetap berlatih secara pribadi di rumah masing-masing

SEJARAH POB AN-NUR

 SEJARAH POB AN-NUR


Pengkajian Olah Batin An-nur merupakan perkembangan dari ilmu tenaga dalam yang bernama MARGA LUYU berasal dari daerah Jawa Barat, tepatnya dari desa Cicalengka yang dipimpin oleh Bapak ANDA (Ma’af nama lengkapnya tidak tahu).


Pada Tahun 1964, saya (Drs.H. Sumitro) di-ajak oleh Bapak Dan Suwarjono untuk ikut latihan Silat Batin (istilah waktu itu) di Kota Wates Kulon Progo, Yogyakarta. Selama beberapa minggu, setiap malam datang ke kota wates untuk latihan sampai selesai sepuluh langkah gerak jurus dengan Bapak Saleh (pak Aleh) sebagai pelatih. Latihan dimulai jam 20.00 sampai dengan jam 03.00 dini hari.


Untuk pembukaan, sebagai langkah awal masuk pada Silat batin harus melakukan puasa tiga (3) hari dan membawa bermacam-macam syarat antara lain: Uang keping, Kembang Setaman, dan syarat-syarat lainnya. Prosesi pembukaan selesai dilanjutkan dengan latihan seperti biasanya untuk memperkuat tenaga. Untuk kenaikan kejenjang tingkat yang lebih tinggi sangat sulit ditempuh, karena banyak syarat yang harus dipenuhi. Kami (Bpk. Drs. Sumitro) tidak sanggup melaksanakan.


Begitu sulitnya untuk kenaikan tingkat, maka Bapak Dan Suwarjono mencari sumber ilmu ini, yang kemudian diketahui berasal dari Cicalengka, Jawa Barat. Maka beliau datang kesana dan diterima sebagai murid Bapak Anda. Selain itu juga di dapat keterangan bahwa pak Aleh itu belum mendapat ijin untuk membuka.


Selama kurang lebih tiga bulan bapak Dan Suwarjono tinggal di Cicalengka untuk menyelesaikan latihan. Latihan dilanjutkan di Jogyakarta dan masih harus bolak-balik ke Cicalengka. Setelah dianggap sempurna maka Bapak Anda memberikan ijin (sertifikat) untuk melatih dan membuka di Yogyakarta dan Jawa Tengah.


Bapak Dan Suwarjono memberikan tawaran kepada saya (Pak Mitro), orang pertama untuk ikut bergabung, namun dengan syarat harus mulai dari awal. Latihan dimulai dari gerak satu dengan ketentuan harus mencapai 24 (dua puluh empat) langkah dalam satu nafas dan harus sempurna. Demikian seterusnya setiap gerakan harus selesai 24 langkah dalam satu nafas. Dan akhirnya dapat selesai dan di buka. Jadi sayalah (pak Mitro) murid pertama Bapak Dan Suwarjono.


Setelah itu banyak murid-murid baru yang bergabung seperti: Prof. DR. Ace Partadireja , Drs. Abdul Kadir, MA (mantan Rektor ASRI), Drs. Amri Yahya (Pelukis), dan Abdul Aziz (Seniman), serta banyak murid kemudian.


Untuk mengikuti Silat Batin itu disyaratkan harus seorang muslim yang aktif. Ada orang bali yang kemudian masuk islam. Pada saat saya diangkat sebagai pelatih, banyak Pibu (tanding) kami lakukan, seperti aliran Kuntau, Taichi, Silat Setrum, murid pak Tino Sidin (Pelukis), Alhamdulillah pada waktu itu selalu di atas angin (menang). Bahkan ada di antara orang yang pibu lalu ingin ikut latihan yang kebetulan seorang Tionghoa, beragama non muslim. Kami (Pak Mitro) bolehkan dengan syarat harus masuk islam dulu, dan dia mau. Akan tetapi dia mengajukan syarat tetap di bolehkan makan daging Babi. Karena hal itu bertentangan dengan ajaran islam maka kami tolak.


Pada saat melakukan kegiatan latihan banyak bacaan atau do’a bercampur bahasa Jawa dan Sunda, yang kadang kala kurang saya mengerti maknanya, sehingga lebih tepat kalau itu disebut sebagai Mantera.Tenaga yang ada dapat disimpan pada benda tertentu sempai pada batas waktu tertentu dengan menggunakan mantera tersebut.


Seiring dengan perjalanan waktu pengikut latihan semakin banyak, dan kami sering melakukan demonstrasi di depan orang lain, bahkan dihadapan para Tokoh Ulama pada saat itu bertempat di Gedung Jogya Kembali dan di Pinulon. Tanggapan para ulama adalah syirik dan ada kadhamnya/Jin penolongnya. Hal ini terjadi sekitar Tahun 1966 – 1967, dan pada tahun tersebut telah terbentuk Silat Batin ini dengan nama PERANA SAKTI yang di ketuai oleh Bapak Dan Suwarjono. Kegiatan latihan semakin aktif apa lagi banyak pengalaman dengan pertarungan melawan eks PKI dan golongan GMN yang mengarah PKI juga. Alhamdulillah kami senantiasa dalam lindungan Allah SWT, bahkan dengan kelompok tenaga dalam TEGOPATI (Salatiga), salah seorang muridnya adalah Aspanudin Panjaitan (sekarang guru besar Perana Sakti) bahkan akhirnya belajar pada saya.


Dengan perkembangan ke ilmuan tersebut saya merasa senang dan juga takut. Senang karena saya selalu menang dalam pibu, sedang takut karena bertanya-tanya: Apakah ini islam atau berbajukan islam saja. Maka tahun itu saya lebih memilih non aktif dan memikirkan akan kebenaran ilmu ini. Apakah sesuai dengan ajaran islam? Keadaan ini juga diketahui oleh oleh Bapak Dan Suwarjono dan waktu itu (1967) saya dipanggil oleh Bapak Dan Suwarjono di berikan penjelasan bahwa ilmu di dasarkan dari ajaran islam. Alasan pokok yang saya pahami adalah:


a.    Di atas telah kami jelaskan ada orang Bali masuk islam. Setelah selesai study di Yogyakarta, ia kembali ke kampung halamannya. Di kampung halamannya dia tidak menjalankan ajaran islam seperti halnya sholat. Suatu saat dia jatuh sakit yang cukup parah. Berbagi pengobatan di lakukan sampai dengan petunjuk anggota keluarganya untuk berobat ke Pedanda di Pura. Selanjutnya dia mendatangi Pedanda yang di-anggap paling tua. Dihadapan Pedanda dia di-obati, Pedanda mengetahui bahwa dia punya ilmu yang baik, namun dia tidak mengakui karena takut kalau dijauhkan dari keluarga. Pedanda memberikan nasehat, dia akan sembuh apabila mengamalkan ilmunya dengan baik, namun dia tetap tidak mau mengaku. Pedanda tersebut membuka rahasia ilmunya, bahwa ilmunya tersebut didasarkan atas ajaran islm dengan kalimat .............(Pedanda diam, tak dapat bicara seperti orang bisu) sehingga ia takut. Sesampai di rumah dia mengaku bahwa dia telah memeluk agama islam, beruntung keluarganya tidak marah, dan demi kesembuhannya dianjurkan untuk melaksanakan seperti keyakinannya. Kemudian penyakitnya berangsur-angsur hilang dan sembuh.

Setelah mendapat cerita itu kami berfikir, berdasarkan islam mengapa masih mensyaratkan kembang segala? Perlu kiranya dilakukan permunian kembali. Hal itu saya sampaikan kepada Bapak Dan Suwarjono yang saat itu baru mempelajari tasawuf, beliau menyatakan setuju.


b.    Dari pengalaman ternyata hampir semua yang mempelajari tenaga dalam pada umumnya mendasarkan diri pada agama. Taichi pada agama Khong Hucu, Aikido pada Shinto, Yoga pada agama Hindu, maka Islam sebagai agam yang sempurna pasti ada juga ha yang demikian itu. Pada saat itu kebetulan saya sedang membaca buku shahih Muslim jilid II, tentang pemuda perkasa yang pada intinya juga masalah kemampuan supernatural itu.


Berdasarkan hal tersebut di atas, saya memutuskan untuk mendalami ilmu ini dan keinginan tahu makin menggebu pada diri saya. Lalu tak kenal lelah dan waktu itu saya latihan melebihi batas. Sampai suatu saat saya mengalami hal yang belum di-alami orang lain yaitu: Saya tidak bisa bergerak dan tidak bisa latihan lagi. Maka oleh Bapak Dan Suwarjono dicari jalan keluarnya, latihan halusan sekitar Tahun 1970. Ternyata baik dan bisa, bahkan tenaganya lebih hebat. Setelah itu di bawa ke Cicalengka. Penemuan itu di-akui dan dikembangkan oleh Bapak Anda sebagi tingkat lanjutan.


Apabila ilmu ini islam, bagaimana bisa datang ke Jawa khusunya Indonesia umumnya? Kami mengadakan penelitian berdasarkan cerita bahwa di Keraton Yogyakarta ilmu ini dimiliki oleh para Raja dan tokoh-tokoh penting.


Hasil penelitian dari beberapa orang yang dapat dipercaya terutama para tokoh keraton dan dari hasil demonstrasi pada para ahli kebatinan di Yogyakarta, maka didapatkan kisah dari mulut sebagai berikut:


”Ada dua orang sakti mandraguna yang tidak mampu dikalahkan oleh para tokoh sakti di jawa. Dua orang tersebut bernama SYAHBANDAR dan ALMAHDI, maka atas perintah Raja Mataram, diutuslah dua Abdi Dalemnya yang setia untuk mempelajari ilmu itu pada orang tersebut samapi tuntas. Setelah tamat sua abdi dalem itu kembali ke Keraton dan memberi pelajaran pada Raja beserta keluarganya. Ilmu ini tidak boleh keluar dari Keraton. Tokoh yang paling terkenal adalah Sultan Agung. Namun tidak berarti sultan lain tidak bisa.


Pada saat Mataram melawan Belanda di Batavia, Mataram mengirim para perwira sakti untuk memimpin perlawanan. Namun serangan itu mengalami kegagalan, dan para manggala tersebut malu kembali ke Mataram dan takut kepada Raja Mataram. Mereka banyak menetap di daerah Jawa Barat dan mengembangkan ilmu kadigdayaannya. Maka tak heran bacaan/doa tersebut bercampur antara arab, jawa dan sunda”.

           

Hal ini juga sama seperti yang di-ajarkan oleh Bapak ANDA yang kemudian diturunkan kepada Bapak Dan Suwarjono, seterusnya disampaikan kepada saya sebagaian kecil, yang mana membuat ragu pada diri saya waktu itu.


Sumber keilmuan kami dapat temukan, maka saya bersama Bapak Dan Sawarjono bersepakat memurnikan ilmu ini. Mantera yang tidak jelas sumbernya kami buang. Kegiatan yang kami lakukan kami konsultasikan kepada Bapak ANDA di Cicalengka. Beliau tidak setuju dan tetap menjalankan seperti yang telah dipraktekkan selama ini sampai sekarang, yaitu membuat jimat,  dan memberikan sabuk bagi murid yang diberi hak membuka, termasuk kepada Bapak Dan Suwarjono. Setelah kami yakin bahwa ilmu yang telah kami murnikan dengan membuang hal-hal yang bertentangan ternyata mempunyai kekuatan yang lebih (dilihat dari para ahli kebatinan: kami tidak mempunyai ilmu, akan tetapi kalau dilawan dia tidak bisa berbuat apa-apa). Maka Sabuk yang diberikan dari Bapak ANDA kami bakar dengan sebotol minyak tanah, namun tidak berhasil. Maka berdo’a kepada Allah ta’ala, apabila sabuk itu pertanda syirik mohon dapat terbakar. Alhamdulillah sabuk itu dapat terbakar dengan sebotol minyak tanah yang ke dua dan sebelumnya tidak ada kekuatan yang menandingi terhadap sabuk itu. Alhamdulillah tanda syirik telah tiada dan saya tidak mau menitipkan tenaga kepada benda atau orang lain.


Keraguan terhadap ilmu hilang dan kegiatan berlatih semakin giat. Tahun 1970 latihan dilaksanakan di Gedung Jogya Kembali yang sebelumnya berlatih di gedung STO yang saat ini dibangun dan digunakan Fak. Geografi UGM. Pada Tahun 1971 latihan di Pangti (istilah tempat latihan di Jl. Kh. Ahmad Dahlan atau Jogya Kembali). Yang bisa berlatih adalah Bapak Abd. Kadir (Rektor ASRI), Abdul Aziz Hartono, SH (Notaris), Dr Harman dan yang lain kurang aktif. Saya tetap sebagai pembantu pelatih bapak Dan Suwarjono.


Pada tahun ini ada murid baru yaitu Abd Kadir dan Aspanudin Panjaitan.  Ada kejadian lucu, Bapak Abd Kadir harus berwudhu dahulu sebelum latihan, sedangkan Aspanudin harus bermandi janabat. Ke-esokan harinya saya melapor kepada Bapak Dan Suwarjono bahwa ada murid baru yang mau ikut latihan. Pak Dan tidak keberatan dan saya yang harus melatihnya. Setelah selesai Bapak Dan Suwarjono tidak mau membuka Aspanudin, tetapi saya yang disuruh membuka, pada hal saya belum merasa bisa, naum akhirnya di buka di rumah Amri Yahya, bersamaan dengan Hamzah Teuku dan Ridwan (Karateka Dan I). Dari ketiga murid itu hanya Ridwan yang mendapat perhatian khusus dari Bapak Dan Suwarjono. Sedangkan Aspanudin dianggap murid saya.


Pada Tahun 1971 ini Bapak Dan Suwarjono tidak aktif lagi karena kesehatannya mulai terganggu. Namun demikian sekitar Tahun 1977 masih ada juga beberapa orang belajar pada beliau yang pada akhirnya semua diserahkan kepada saya. Setiap selesai latihan saya selalu melapor untuk dilakukan pembukaan, akan tetapi Bapak Dan Suwarjono selalu memberikan kepada saya untuk membuka, pada hal saya merasa belum bisa. Pak Dan akan memberi petunjuk dan akan membantu, maka saya lakukan sesuai arahan beliau terhadap Fauzi, Aspanudin yang saat itu telah mendirikan Perana Sakti tanpa seijin Bapak Dan Suwarjono, dan beliau Marah Sekali, termasuk kepada saya. Saya diminta untuk membubarkannya. Aspanudin tidak mau membubarkan, akhirnya aku serahkan semuanya segala akibatnya.


Saat Bapak Dan Suwarjono menderita sakit di rawat di Rumah Sakit, saya mengirimkan banyak buku agama kepada beliau, antara lain: Hidup sesudah mati karangan Bay Arifin, Samudra Alfatikhah, Keajaiban Hati karangan Imam Ghozali. Beliau senang dan minta dicarikan yang lain sejenis. Beliau juga membaca Al-Hikam.


Sejak saat itu penghayatan agama semakin mendalam dan setiap malam selalu berdzikir sampai di dengar tetangga sebelah. Pada saat di Rumah Sakit Panti Rapih Beliau menilai muridnya dari alam ghaib, hanya ada tujuh (7) murid yang baik sesuai dengan ajaran islam termasuk saya. Dari tujuh orang itu ada yang keluar jalur dan ada yang berhenti.


Setelah sembuh beliau mutasi ke Jakarta menjadi dosen di FKJ dan juga menjadi wartawan untuk Harian Berita melanjutkan  dari Yogyakarta. Pada saat itu saya sering dipanggil hanya untuk melatih temannya angkatan laut yang bernama Kapten Supriadi dari Deplu bersama teman-temannya. Pada Tahun 1983 kesehatan beliau mulai menurun, dan saya sering dipanggil ke Jakarta. Kami berdua mendiskusikan tentang ilmu ini, kemudian beliau menanyakan kemajuan serta pengalaman batin saya. Pada tahun 1984 beliau berpesan pada saya untuk lebih giat berlatih sebab ilmunya akan diturunkan kepada saya, dengan syarat saya harus puasa sunnah selama sepuluh (10) hari. Setelah selesai saya berangkat ke Jakarta jam 10 pagi, saya di-ajak ke sebuah Masjid di Depok. Saya sholat Tahiyatul masjid, kemudian shalat hajad, lalu pada saat itu diserahkan kepada saya kunci pembuka. Sejak saat itu kondisi kesehatan beliau terus menurun dan akhirnya menghadap sang Kaliq. Begitu saya mendapatkan kuncinya teman-teman yang dahulu saya buka, aku buka kembali dengan kunci yang diberikan saya.


Sesuai ijin dari beliau yang diberikan kepada saya saja untuk daerah Yogyakarta. Kepada murid-murid tahun 1977-1978 saya buka kembali. Peserta latihan semakin banyak, ada kejadian di Palembang yang mengakibatkan urusan kepolisian, ada ketegangan di gedung KAMI-KAPI Beskalan. Namun dari situ ada hikmahnya, saya dianjurkan oleh DANDIM setempat untuk membentuk kelompok yang lebih tertib dan teratur serta meminta ijin kepada kepolisian dan yang terkait. Atas kesepakatan dengan teman-teman latihan maka dibentuklah suatu kepengurusan walupun belum ada namanya. Kebetulan saya mempunyai anak yang baru lahir pada Tanggal 6 April 1979 dan diberikan nama Muhammad Annuur Wijaya Kesuma, maka pada Tanggal 6 Mei 1979 saya beri nama kelompok tersebut: KELOMPOK PENGAJIAN AN-NUUR, dengan niat akan mengisinya dengan ceramah agama dan masalah pendidikan. Namun setelah meminta ijin sampai beberapa lama tidak juga keluar, maka nama tersebut atas kesepakan teman-teman kita ganti dengan Pusat Latihan Tenaga Dalam An-Nuur, Yogyakarta. Ternyata masih tetap sulit mendapatkan ijin dari IPSI, karena tenaga dalam tidak termasuk dalam katagori silat yang tidak mempunyai jurus yang dipertandingkan. Ke PDK juga ditolak karena tidak mempunyai kurikulum. Atas anjuran beberapa teman yang tahu tentang seluk beluk perizinan di Kejaksaan, maka nama itu dirubah lagi pada Tahun 1985 menjadi PENGKAJIAN OLAH BATIN AN-NUUR YOGYAKARTA. Dikarenakan olah batin termasuk bidang PAKEM, maka Kejaksaan Yogyakarta mengeluarkan izin dengan nama yang dipakai sampai sekarang. Tujuan Kajian olah Batin ini tetap untuk MEDIA DAKWAH  dan untuk menunjang penghayatan dalam bidang agama harus ada pengajian atau ceramah agama yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. (di ketik ulang dari Drs. H. Sumitro)

PENGANTAR POB "AN NUUR"

 PENGANTAR POB "AN NUUR"



Pengkajian Olah Batin “AN NUUR” yang disingkat dengan POB “AN NUUR” adalah suatu organisasi yang mempunyai kegiatan memadukan antara gerak jurus, nafas dengan dzikir.  Didirikan oleh Bapak Drs. Sumitro pada tanggal 26 Mei 1979, bertempat di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pusatnya dan daerah – daerah lain di seluruh Indonesia sebagai cabangnya.

Nama An-Nuur dalam Pengkajian Olah Batin itu diambil dari nama anak pendiri (Drs. H. Sumitro NS) yang bernama Muhamad An-Nuur Wijaya Kesuma. Menurut bahasa kata An Nuur mempunyai arti cahaya, sedangkan menurut istilah kata An-Nuur dapat diartikan sebagai penerangan di dalam kegelapan

            Adapun didirikannya POB “AN NUUR” mempunyai tujuan untuk :

1.      Mengolah fisik dan mental / olah batin dalam bentuk tenaga dalam.

2.      Menjunjung tinggi serta mengamalkan ajaran agama islam.

3.      Melestarikan, menggali dan menumbuhkankembangkan kebudayaan bangsa yang tidak bertentangan syariat Islam.

Dari sudat pandang keilmuan maka kajian olah batin An-nuur ini berdasar pada firman Allah Qs. An-nuur (24);35:

۞ ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ


Artinya : Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Sedangkan dari sudut pandang gerakan jurus maka kajian olah batin ini berdasar pada firman Allah Qs Al-Zukruf (43); 36-37:

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ ٱلسَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُون

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَنَا قَالَ يَٰلَيْتَ بَيْنِى وَبَيْنَكَ بُعْدَ ٱلْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ ٱلْقَرِينُ


Artinya : Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.


Dari segi tauhid maka kajian olah batin berdasar pada firman Allah :

Qs. Al-Anam (6); 162:


قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Artinya :”Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”

Qs. Al-A’raaf (7); 172:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

3.      Qs. Az Zumar (39); 2:

إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ فَٱعْبُدِ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ


Artinya : Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya.

Kamis, 22 Oktober 2020

Tafsir Surah At Taubah Ayat 128 - 129

 



Hari ahad subuh dinihari , tanggal 18 oktober 2020 penulis di minta takmir Masjid Jabal Nur, Perumahan Gedawang Permai 3 untuk menyampaikan materi tafsir. Karena bulan ini bertepatan juga dengan bulan rabi’ul awwal, dimana kita mengenang kembali lahirnya manusia mulia, suri tauladan ummat sepanjang zaman, Nabi Muhammad saw. Maka materi kajian yang penulis sampaikan adalah tafsir surat at-Taubah ayat 128-129 berdasar pada ringkasan tafsir Ibnu Katsir.


“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keamanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka Berpaling (dari keimanan) maka katakanlah ‘Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arasy yang agung.’” (At-Taubah ayat 128-129)

Allah Swt. menyebutkan limpahan nikmat yang telah diberikan-Nya kepada orang-orang mukmin melalui seorang rasul yang diutus olehNya dari kalangan mereka sendiri, yakni dari bangsa mereka dan sebahasa dengan mereka. Hal ini telah didoakan oleh Nabi Ibrahim a.s., seperti yang disitir oleh firman-Nya:

{رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ}

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri. (Al-Baqarah: 129)

Dan firman Allah Swt.:

{لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ}

Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri. (Ali Imran: 164)

Adapun firman Allah Swt.:

{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ}

Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. (At-Taubah: 128)

Yakni dari kalangan kalian sendiri dan sebahasa dengan kalian. Ja’far ibnu Abu Talib r.a. berkata kepada Raja Najasyi, dan Al-Mugirah ibnu Syu’bah berkata kepada Kaisar Romawi, “Sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kami seorang rasul dari kalangan kami sendiri. Kami mengenal nasab (keturunan)nya, sifatnya, tempat keluar dan tempat masuknya, serta kebenaran (kejujuran) dan amanatnya, hingga akhir hadis.”

Sufyan ibnu Uyaynah telah meriwayatkan dari Ja’far ibnu Muhammad, dari ayahnya, sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. (At-Taubah: 128) Bahwa tiada sesuatu pun dari perkawinan Jahiliah yang menyentuhnya.

Nabi Saw. pernah bersabda:

“خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ، وَلَمْ أَخْرُجْ مِنْ سِفاح”.

Aku dilahirkan dari hasil pernikahan, dan bukan dilahirkan dari sifah(perkawinan ala Jahiliah).

Melalui jalur lain secara mausul disebutkan oleh Al-Hafiz Abu Muhammad Al-Hasan ibnu Abdur Rahman Ar-Ramharmuzi di dalam kitabnya yang berjudul Al-Fasil Bainar Rawi wal Wa’i. Disebutkan bahwa:telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Yusuf ibnu Harun ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far ibnu Muhammad yang mengatakan bahwa ia bersumpah bahwa ayahnya pernah menceritakan hadis berikut dari kakeknya, dari Ali yang mengatakan, “Rasulullah Saw. pernah bersabda: ‘Aku dilahirkan dari hasil pernikahan dan bukan dilahirkan dari sifah, sejak Adam hingga ayah dan ibuku melahirkan diriku. Dan tiada sesuatupun dari sifat Jahiliah yang menyentuhku’.”

*******

Firman Allah Swt.:

{عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ}

berat terasa olehnya penderitaan kalian. (At-Taubah: 128)

Yakni terasa berat olehnya sesuatu yang membuat umatnya menderita karenanya. Karena itu, di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur disebutkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:

“بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ”

Aku diutus dengan membawa agama Islam yang hanif lagi penuh dengan toleransi.

Di dalam hadis sahih disebutkan:

“إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ” وَشَرِيعَتَهُ كُلَّهَا سَهْلَةٌ سَمْحَةٌ كَامِلَةٌ، يَسِيرَةٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهَا اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ.

Sesungguhnya agama ini mudah, semua syariatnya mudah, penuh dengan toleransi lagi sempurna. Ia mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah dalam mengerjakannya.

*******

Firman Allah Swt.:

{حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ}

sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian. (At-Taubah: 128)

Artinya, sangat menginginkan kalian beroleh hidayah dan menghantarkan manfaat dunia dan akhirat buat kalian.

قَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ المقرئ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ فِطْر، عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ. تَرَكَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا طَائِرٌ يُقَلِّبُ جَنَاحَيْهِ فِي الْهَوَاءِ إِلَّا وَهُوَ يُذَكِّرُنَا مِنْهُ عِلْمًا -قَالَ: وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقرب مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلَّا وَقَدْ بُيِّنَ لكم”.

Imam Tabrani mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Hadrami, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Qutn, dari Abut Tufail, dari Abu Zar yang mengatakan, “Rasulullah Saw. meninggalkan kami tanpa ada seekor burung pun yang mengepakkan sayapnya di langit melainkan beliau menyebutkan kepada kami ilmu mengenainya.” Rasulullah Saw. telah bersabda: Tiada sesuatu pun yang tersisa dari apa yang mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka, melainkan semuanya telah dijelaskan kepada kalian.

وقال الإمام أحمد: حدثنا [أبو] فَطَن، حدثنا السعودي، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَبْدَةَ النَّهدي، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن اللَّهَ لَمْ يُحَرِّمْ حُرمة إِلَّا وَقَدْ عَلِمَ أَنَّهُ سَيَطَّلِعُهَا مِنْكُمْ مُطَّلَع، أَلَا وَإِنِّي آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ أَنْ تَهَافَتُوا فِي النَّارِ، كَتَهَافُتِ الْفِرَاشِ، أَوِ الذُّبَابِ”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qatn, telah menceritakan kepada kami Al-Mas’udi, dari Al-Hasan ibnu Sa’d, dari Abdah Al-Huzali, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali mengharamkan sesuatu melainkan Dia telah mengetahui bahwa kelak akan ada dari kalian yang melanggarnya. Ingatlah, sesungguhnya akulah yang menghalang-halangi kalian agar jangan sampai kalian berhamburan terjun ke neraka sebagaimana berhamburannya laron atau lalat.

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid ibnu Jad’an, dari Yusuf ibnu Mahran, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW dalam mimpinya kedatangan dua malaikat, salah seorangnya duduk di dekat kedua kakinya, sedangkan yang lain duduk di dekat kepalanya. Maka malaikat yang ada di dekat kedua kakinya berkata kepada malaikat yang ada di dekat kepalanya, “Buatlah perumpamaan orang ini dan perumpamaan umatnya.” Malaikat yang satunya lagi menjawab, “Sesungguhnya perumpamaan dia dan perumpamaan umatnya sama dengan suatu kaum yang musafir, lalu mereka sampai di tepi Padang Sahara. Saat itu mereka tidak mempunyai bekal lagi untuk menempuh Padang Sahara di hadapan mereka, tidak pula memiliki bekal untuk pulang. Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah kepada mereka seorang lelaki yang memakai pakaian kain Hibarah, lalu ia berkata, ‘Bagaimanakah pendapat kalian jika aku bawa kalian ke taman yang subur dan telaga yang berlimpah airnya serta menyegarkan. Apakah kalian mau mengikutiku?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Maka lelaki itu berangkat bersama mereka hingga membawa mereka sampai di taman yang subur dan telaga yang berlimpah airnya lagi menyegarkan. Lalu mereka makan dan minum hingga menjadi gemuk. Kemudian lelaki itu berkata kepada mereka, ‘Bukankah aku menjumpai kalian dalam keadaan yang sengsara, lalu kalian berserah diri kepadaku; bahwa jika aku membawa kalian ke taman yang subur dan telaga yang berlimpah airnya, maka kalian akan mengikutiku?’ Mereka menjawab, ‘Memang benar.’ Lelaki itu berkata, ‘Sesungguhnya di hadapan kalian terdapat taman lain yang lebih subur daripada taman ini, dan terdapat pula telaga yang lebih berlimpah airnya daripada ini. Maka mengikutlah kalian kepadaku.’ Segolongan dari mereka berkata, ‘Demi Allah, lelaki ini berkata benar, kami sungguh akan mengikutinya.’ Golongan yang lainnya mengatakan, ‘Kami rela dengan orang ini dan kami akan tetap mengikutinya’.

Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Salamah ibnu Syabib dan Ahmad ibnu Mansur. Keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Hakam ibnu Aban, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Ikrimah, dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa pernah seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah Saw. untuk meminta tolong kepadanya tentang sesuatu yang menyangkut masalah diat (kata Ikrimah). Maka Rasulullah Saw. memberinya sesuatu seraya bersabda, “Aku berbuat baik kepadamu.” Tetapi lelaki Badui itu menjawab, “Tidak, engkau belum berbuat baik.” Maka sebagian dari kalangan kaum muslim yang ada pada waktu itu marah dan hampir bangkit menghajar lelaki Badui itu, tetapi Rasulullah Saw. memberikan isyarat kepada mereka untuk menahan dirinya. Ketika Rasulullah Saw. bangkit meninggalkan majelisnya dan sampai di rumahnya, maka beliau mengundang lelaki Badui itu untuk datang ke rumahnya. Lalu beliau bersabda (kepada lelaki Badui itu).”Sesungguhnya engkau datang kepada kami hanyalah untuk meminta dari kami, lalu kami memberimu, tetapi engkau mengatakan apa yang telah engkau katakan tadi.” Lalu Rasulullah Saw. memberi tambahan pemberian kepada lelaki Badui itu seraya bersabda, “Bukankah aku telah berbuat baik kepadamu?” Lelaki Badui itu menjawab, “Ya, semoga Allah memberikan balasan yang baik kepadamu atas perbuatan baikmu kepada ahli dan famili(mu).” Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya engkau datang kepada kami, lalu kami memberimu dan engkau mengatakan apa yang telah engkau katakan tadi, maka karena perkataanmu itu dalam diri sahabat-sahabatku terdapat ganjalan terhadap dirimu. Karena itu, apabila engkau menemui mereka, katakanlah di hadapan mereka apa yang tadi baru kamu katakan, agar ganjalan itu lenyap dari dada mereka.” Lelaki Badui itu menjawab, “Ya.” Setelah lelaki Badui itu datang, maka Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya teman kalian ini pada awal mulanya datang kepada kita. lalu ia meminta kepada kita dan kita memberinya, tetapi ia mengatakan apa yang telah dikatakannya tadi. Lalu aku memanggilnya dan aku beri lagi dia, dan ternyata dia mengungkapkan pengakuannya bahwa dirinya telah puas dengan pemberian itu. Bukankah demikian, hai orang Badui?” Lelaki Badui itu menjawab, “Ya, semoga Allah membalasmu atas kebaikanmu kepada ahli dan famili(mu) dengan balasan yang baik.” Maka Nabi Saw. bersabda: Sesungguhnya perumpamaanku dengan orang Arab Badui ini sama dengan perumpamaan seorang lelaki yang memiliki seekor unta, lalu untanya itu larat dan kabur. Kemudian orang-orang mengejarnya, tetapi unta itu justru makin bertambah larat. Maka lelaki pemilik unta itu berkata kepada mereka, “Biarkanlah aku sendirian dengan unta itu, karena aku lebih sayang kepadanya dan lebih mengenalnya.” Maka lelaki itu menuju ke arah untanya dan mengambil rerumputan tanah untuknya serta memanggilnya, hingga akhirnya unta itu datang dan memenuhi seruan tuannya, lalu si lelaki itu mengikatkan pelananya di atas punggung untanya itu. Dan sesungguhnya aku jika menuruti kemauan kalian karena apa yang telah dikatakannya tadi, niscaya dia akan masuk neraka.

Hadis ini merupakan riwayat Al-Bazzar, kemudian Al-Bazzar mengatakan bahwa ia tidak mengetahui si perawi meriwayatkan hadis ini melainkan hanya dari jalur tersebut.

Menurut kami, hadis ini daif karena keadaan Ibrahim ibnul Hakam ibnu Aban.

Firman Allah Swt.:

{بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ}

amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (At-Taubah: 128)

Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ. فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ. وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ}

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu. maka katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian kerjakan.” Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.(Asy-Syu’ara: 215-217)

Hal yang sama diperintahkan oleh Allah dalam ayat yang mulia ini, yaitu firman-Nya:

{فَإِنْ تَوَلَّوْا}

Jika mereka berpaling. (At-Taubah: 129)

Maksudnya, berpaling dari apa yang engkau sampaikan kepada mereka, yakni dari syariat yang agung, suci, sempurna lagi global yang engkau datangkan kepada mereka.

{فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ}

maka katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia.(At-Taubah: 129)

Yakni Allah-lah yang memberikan kecukupan kepadaku. Tidak ada Tuhan selain Dia, dan hanya kepada-Nya aku bertawakal.

{رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلا}

(Dialah) Tuhan masyriq dan magrib, tidak ada Tuhan melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. (Al-Muzzammil:9)

Adapun firman Allah Swt.:

{وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ}

Dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arasy yang agung.” (At-Taubah: 129)

Dialah yang memiliki segala sesuatu, dan Dia pulalah yang menciptakannya, karena Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arasy yang agung yang merupakan atap dari semua makhluk. Semua makhluk —mulai dari langit, bumi, dan segala sesuatu yang ada pada keduanya serta segala sesuatu yang ada di antara keduanya— berada di bawah ‘Arasy dan tunduk patuh di bawah kekuasaan Allah Swt. Pengetahuan (ilmu) Allah meliputi segala sesuatu, kekuasaan-Nya menjangkau segala sesuatu, dan Dialah yang melindungi segala sesuatu.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Ali ibnu Zaid, dari Yusuf ibnu Mahran, dari Ibnu Abbas r.a., dari Ubay ibnu Ka’b yang mengatakan bahwa ayat Al-Qur’an yang paling akhir penurunannya ialah firman Allah Swt.: Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. (At-Taubah: 128), hingga akhir surat.

Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Abdul Mu’min, telah menceritakan kepada kami Umar ibny Syaqiq, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ar-Razi, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka’b r.a., bahwa mereka menghimpunkan Al-Qur’an di dalam mushaf-mushaf di masa pemerintahan Abu Bakar r.a. Dan tersebutlah orang-orang menulisnya, sedangkan yang mengimlakannya kepada mereka adalah Ubay ibnu Ka’b. Ketika tulisan mereka sampai pada ayat surat At-Taubah ini, yaitu firman-Nya: Sesudah itu mereka pun pergi, Allah telah memalingkan hati mereka (At-Taubah: 127), hingga akhir ayat. Maka mereka menduga bahwa ayat ini merupakan ayat yang paling akhir penurunannya. Maka Ubay ibnu Ka’b berkata kepada mereka, “Sesungguhnya sesudah ayat ini Rasulullah Saw. membacakan dua ayat lainnya kepadaku,” yaitu firman Allah Swt.:Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. (At-Taubah: 128), hingga akhir ayat berikutnya. Lalu Ubay ibnu Ka’b berkata bahwa ayat Al-Qur’an inilah yang paling akhir penurunannya, kemudian dia mengakhirinya dengan apa yang biasa dipakai sebagai pembukaan oleh Allah Swt., yaitu dengan firman-Nya:

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ}

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah oleh kalian akan Aku.” (Al-Anbiya: 25)

Hadist ini berpredikat garib pula.

Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Bahr, :eiah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad ibnu Salamah, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Yahya ibnu Abbad, dari ayahnya (yaitu Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair) yang menceritakan bahwa Al-Haris ibnu Khuzaimah datang kepada Khalifah Umar ibnul Khattab dengan membawa kedua ayat dari surat At-Taubah ini, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. (At-Taubah: 128) Maka Umar ibnul Khattab berkata, “Siapakah yang menemanimu membawakan ayat ini?” Al-Haris menjawab, “Saya tidak tahu. Demi Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwa aku benar-benar mendengarnya dari Rasulullah, lalu aku resapi dan aku hafalkan dengan baik.” Umar berkata, “Aku bersaksi, aku sendiri benar-benar mendengarnya dari Rasulullah Saw.” Selanjutnya Umar berkata, “Seandainya semuanya ada tiga ayat, niscaya aku akan menjadikannya dalam suatu surat tersendiri. Maka perhatikanlah oleh kalian surat Al-Qur’an mana yang pantas untuknya, lalu letakkanlah ia padanya.” Dan mereka meletakkannya di akhir surat At-Taubah.

Dalam-pembahasan terdahulu telah disebutkan bahwa Umar ibnul Khattablah yang memberikan saran kepada Abu Bakar As-Siddiq r.a. untuk menghimpun Al-Qur’an. Lalu Khalifah Abu Bakar memerintahkan kepada Zaid ibnu Sabit untuk menghimpunnya, sedangkan Umar saat itu ikut hadir bersama mereka di saat mereka menulis hal tersebut.

Di dalam asar yang sahih disebutkan bahwa Zaid berkata, “Maka aku menjumpai akhir surat Bara’ah berada pada Khuzaimah ibnu Sabit atau Abu Khuzaimah.”

Dalam pembahasan terdahulu disebutkan bahwa sejumlah sahabat ingat akan hal tersebut di saat mereka berada di hadapan Rasulullah Saw., yakni seperti yang dikatakan oleh Khuzaimah ibnu Sabit di saat ia mengutarakan ayat-ayat itu kepada mereka.

Abu Daud telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Muhammad ibnu Abdur Razza ibnu Umar (salah seorang yang siqah lagi ahli ibadah), dari Mudrik ibnu Sa’d yang mengatakan bahwa Yazid seorang syekh yang siqah telah meriwayatkan dari Yunus ibnu Maisarah. dari Ummu Darda, dari Abu Darda yang mengatakan, “Barang siapa yang mengucapkan kalimat berikut di saat pagi dan petang hari sebanyak tujuh kali, niscaya Allah akan memberinya kecukupan dari apa yang menyusahkannya,” yaitu: Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arasy yang agung.

Ibnu Asakir di dalam biografi Abdur Razzaq telah meriwayatkannya dari Umar melalui riwayat Abu Zar’ah Ad-Dimasyqi, dari Abdur Razzaq, dari Abu Sa’d Mudrik ibnu Abu Sa’d Al-Fazzari, dari Yunus ibnu Maisarah ibnu Hulais, dari Ummu Darda; ia pernah mendengar Abu Darda berkata bahwa tidak sekali-kali seorang hamba mengucapkan: Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arasy yang agung. sebanyak tujuh kali —baik ia membenarkannya ataupun berdusta— melainkan Allah memberinya kecukupan dari apa yang menyusahkannya. Tambahan ini dinilai gharib.

Kemudian ia meriwayatkannya pula dalam biografi Abdur Razzaq (yakni Abu Muhammad), dari Ahmad ibnu Abdullah ibnu Abdur Razzaq. dari kakeknya (yaitu Abdur Razzaq ibnu Umar) berikut sanadnya sehingga menjadi marfu’, lalu ia menyebutkan hal yang semisal berikut tambahannya. Tetapi riwayat ini berpredikat mung-kar.

Demikianlah akhir tafsir surat Bara’ah (At-Taubah). Segala puji dan anugerah hanyalah milik Allah.

Kamis, 15 Oktober 2020

Muraqabah benteng dari Maksiat, Pemicu Taat

 Muraqabah benteng dari Maksiat, Pemicu Taat

Persiapan ngisi materi kajian habis subuh, perlu kiranya saya tulis disini materi yang sesuai dengan kondisi saat ini. Saya awali dari kisah sahabat Abdullah bin Dinar namanya,a pernah menceritakan, “Kami keluar bersama Umar bin Khaththab menuju Makkah, kami melewati suatu jalan, lalu berpapasan dengan seorang penggembala yang baru turun dari perbukitan, Umar menyapanya, “Wahai penggembala, juallah seekor kambingmu kepada kami!” Penggembala itu menjawab bahwa dia hanyalah seorang budak yang menggembalakan kambing majikannya. Umar berkata (menguji), “Katakan saja kepada majikanmu bahwa kambing itu telah dimakan srigala!” Dengan spontan sang penggembala menjawab, “(Kalau demikian) lantas di manakah Allah?” Sungguh jawaban yang cerdas. Jawaban yang muncul dari ketulusan jiwa dan kepekaannya akan pengawasan Allah. Seandainya dia mau berbohong, mungkin saja majikannya percaya dengan laporan palsunya, tetapi Allah Mahatahu. Jawaban ini membuat Umar trenyuh hingga beliau meneteskan air matanya. Keesokan harinya beliau mendatangi majikan budak tersebut untuk membelinya dan memerdekakannya.

Hari ini berita tentang perselingkuhan dan perzinaan berjejal begitu banyak. Korupsi dan kolusi merajalela di setiap lini dan tempat kerja. Koruptor pun santai saja selagi petugas audit tak mencium bau busuknya. Padahal bisa saja mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tak akan mampu bersembunyi dari Allah.


 َ يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّـهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّـهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا﴿١٠٨﴾ 


“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka.” (QS. an-Nisa’: 108)


Maksiat terjadi karena adanya kemauan atau terbukanya peluang melakukannya. Namun, keduanya bisa dicegah dengan muraqabatullah, merasa diawasi oleh Allah. Muraqabatullah menjadikan seseorang sadar bahwa setiap gerak-gerik dan kerlingan matanya selalu diawasi oleh Dzat yang akan memberikan sangsi kepadanya ketika berdosa. Tak ada tempat dan kesempatan yang memungkinkan seseorang berbuat dosa tanpa sepengetahuan-Nya. Dengan begitu hilanglah kemauannya untuk berbuat dosa, meskipun tak ada orang lain bersamanya.

Muraqabah juga menumbuhkan rasa malu untuk berbuat dosa. Manusia yang ber-muraqabah menyadari bahwa Allah yang memberikan segala nikmat kepadanya, juga memantau setiap gerak-geriknya. Tak ada tempat bersembunyi dari-Nya agar dia bebas berbuat dosa. Malaikat yang menjaga di setiap bumi yang dia pijak akan menjadi saksi atas segala yang dilakukannya. Maka bagaimana dia akan durhaka kepadaNya di hadapan pengawasan-Nya.

Yang dia lakukan bahkan sebaliknya, dia ingin agar Dzat yang memberikan nikmat kepadanya melihat dirinya selalu dalam ketaatan kepada-Nya, sehingga Dia akan merasa ridha. Untuk itulah Ibnu Atha’ berkata: “Sebaik-baik ketaatan adalah muraqabatullah, merasa diawasi oleh Allah di setiap waktu.” Kesempurnaan muraqabatullah diraih manakala seseorang juga menyadari bahwa setiap gerak, nafas dan detik perbuatannya direkam dalam catatan malaikat. Kelak catatan itu akan diperlihatkan kepadanya. Terbuktilah bahwa tak ada yang terlewat dari perbuatannya, semua tercatat detail di dalamnya. Tidakkah kita malu jika catatan perbuatan kita dibuka di hari Kiamat sementara di sana terdapat rekaman dosa yang kita kerjakan di saat sembunyi?

Muraqabatullah membuat orang tidak hanya semangat berbuat baik di saat ramai namun loyo di saat sepi. Ia menyadari bahwa Dzat yang mengawasinya selalu memantau dirinya di saat ia berada di tengah banyak orang maupun saat sendirian.


أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّـهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ﴿٧٧﴾


“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka lakukan dengan terang-terangan?” (QS. al-Baqarah: 77)

Dia juga sadar bahwa malaikat yang mencatatnya takkan pernah pula bosan untuk menyertai dan mencatat perbuatannya: 

إِذْ يَتَلَقَّى ٱلْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ ٱلْيَمِينِ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ قَعِيدٌ

“(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf: 17)

Catatan yang terdapat dalam kitab itupun detail tak ada sedikitpun yang tercecer, hingga orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka akan berkata:


وَوُضِعَ ٱلْكِتَٰبُ فَتَرَى ٱلْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَٰوَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلْكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحْصَىٰهَا ۚ وَوَجَدُوا۟ مَا عَمِلُوا۟ حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا


“Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.” (QS. al-Kahfi: 49)

Muraqabatullah menyebabkan seseorang beramal ketika sendirian sama bagusnya dengan apa yang dia lakukan ketika bersama banyak orang. Alangkah bagusnya seorang muslim tatkala menyendiri, lalu dia merasakan bahwa malaikat tidak akan berpisah darinya, diutus untuk menulis kebaikannya. Maka dia berkata kepada malaikat, “Tulislah (kebaikanku wahai malaikat), semoga Allah merahmati anda”, sehingga dia memenuhi lembaran kitabnya dengan kebaikan dan apa-apa yang bisa memperberat timbangannya: “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya, ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh,” (QS. Ali Imran : 30).

Untuk itu, para ulama tak membedakan amal antara yang lahir dan yang batin. Amalan tersembunyi mereka tidak menyelisihi apa yang mereka kerjakan secara terang-terangan, seperti Hasan al-Bashri yang disifatkan seorang tetangga sekaligus muridnya ‘amalan beliau di saat sendiri sama dengan amal beliau ketika di tengah orang banyak.’ Sebagian ada yang taqarrub mereka kepada Allah tatkala sendirian lebih banyak porsinya dari pada ketika terang-terangan karena khawatir timbul riya’ dan sum’ah. Seperti Ali bin Husain bin Ali, setiap kali kegelapan telah merayap, beliau mengusung sekarung gandum di punggungnya untuk diberikan kepada fakir miskin di Madinah, beliau mengetuk pintu, meletakkan gandum tersebut lalu pergi tanpa diketahui oleh orang yang beruntung mendapatkan bantuannya.

Sudah selayaknya hamba yang cerdas tidak coba-coba menjamah wilayah dosa yang dilarang sang Pencipta karena Allah takkan sedikitpun terlena dalam mengawasinya. Setiap saat tenggelamkan diri kita di dalam pengawasan Allah SWT.  Dan inilah yang di sebut dengan muraqabatullah. Apabila  sifat ini sudah terpatri pada diri pribadi kita , bahagialah kita insyaAllah.

.


HIMPUNAN AYAT RUQYAH

 HIMPUNAN AYAT RUQYAH

I. AYAT SESUAI SPESIALISASI KEBUTUHAN

1. MENGHIDUPKAN

a. QS: Al-Baqarah: 164


إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.


b. QS: ARRUM  AYAT 19


يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ


Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)


c. QS: AZZUKHRUF AYAT 11


وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚكَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ


Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).

 

2. MENORMALKAN / MENSTABILKAN


a. QS: YASIN 40


لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ, وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ 


Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.


b. QS: AL’AN’AM AYAT 13


وَمَا لِيَ لا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakankudan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan


c. QS: YASIN AYAT 36 SD 40


سُبْحَنَ الَّذِئ خَلَقَ اْلَازْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْبِتُ اْلَاْرضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ وَءَايَةٌ لَهُمُ الَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُظْلِمُوْنَ وَالشَّمْسُ تَجْرِئ لِمُسْتَقَرٍّلَهَا ذَلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ اْلعَلِيْمِ وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَهُ مَنَازِلَ حَتَّئ عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِئ لَهَا اَنْ تُدْرِكَ اْلقَمَرَ وَلاَ الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِئ فَلَكِ يَسْبَحُوْنَ


Maha Suci Zat yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang tidak mereka ketahui. Dan suatu tanda bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu,"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya.Demikianlah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua."Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan," dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya."


3. STROK/GELISAH/TAKUT


Al-Anbiya’ ayat 30


 أَوَلَمْ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَٰهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ


Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (Al-Anbiya 21:30)


4. GANGGUAN MENSTRUASI

Al-Fathir ayat 41


إِنَّ الَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا ۚوَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ۚإِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا


Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Hud ayat 44


وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ 

Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim". 


5.  KETENANGAN

a. Attaubah ayat 36


ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ 


Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang 


AL-Fath ayat 4-5


هُوَ الَّذِي أَنزلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (4) لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَكَانَ ذَلِكَ عِنْدَ اللَّهِ فَوْزًا عَظِيمًا (5(


Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, supaya Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah


6.  ANAK NAKAL


QS: HUD AYAT 56


إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم مَّا مِن دَآبَّةٍ إِلاَّ هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ


Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus".


QS: Ali Imran ayat 83


أَفَغَيْرَ دِينِ ٱللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُۥٓ أَسْلَمَ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.


7.  BATU GINJAL/KENCING BATU/ MEMBANTU MELAHIRKAN


Al-Insyiqaq ayat  1 SD 5


إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ (١) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (٢) وَإِذَا الأرْضُ مُدَّتْ (٣) وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ (٤) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ  (٥(

1.  Apabila langit terbelah,

2. dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh

3. dan apabila bumi diratakan

4. dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong


8.  AYAT GURAH

 

a. Mata


QS: Qaf ayat 22


لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ

 

Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam


QS: Yusuf  ayat 96;


فَلَمَّآ أَن جَآءَ ٱلْبَشِيرُ أَلْقَىٰهُ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ فَٱرْتَدَّ بَصِيرًا قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qub, lalu kembalilah dia dapat melihat. Berkata Ya’qub: “Tidakkah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya”.


b. Hidung


QS: Ayat Assaba’ ayat 10


وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُدَ مِنَّا فَضْلا يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ


Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari kami (Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud,” dan Kami telah melunakkan besi untuknya


c. Telinga


اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah! Selamatkan tubuhku (dari penyakit dan yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan penglihatanku, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau.” (Dibaca tiga kali di waktu pagi dan petang). 


9. NAFAS SESAK


QS: Insyirah ayat 1-2


أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ (1) وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ (2 ) 


“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,(1) Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu,(2) 


QS: Al-‘Araf ayat 43;


وَنزعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ 


Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka, mengalir di bawah mereka sungai-sungai, dan mereka berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk 


10.  PERUT


QS: AZZALZALAH AYAT 1-2


إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2 (


“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,


QS: Assoffat ayat 47

لَا فِيۡهَا غَوۡلٌ وَّلَا هُمۡ عَنۡهَا يُنۡزَفُوۡنَ

Tidak ada di dalamnya (unsur) yang memabukkan dan mereka tidak mabuk karenanya.


11.  GATAL


ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ كِتَٰبًا مُّتَشَٰبِهًا مَّثَانِىَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنْ هَادٍ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.


12. MOTIVASI


Motivasi selayaknya menjurus pada hal hal yang baik, tidak sesuai jika mencari motivasi untuk hal yang tidak di ridhoi Allah, karena motivasi berarti “bergerak”, gerakan tersebut harus berupa perbaikan diri dan mencapai kualitas yang lebih baik sebagai hamba Allah.

Allah senantiasa dekat dengan para hamba Nya, Allah memberi petunjuk bagi hamba Nya yang beriman pada Nya, Allah juga memerintahkan hamba Nya untuk senantiasa yakin dalam menjalani hidup dan yakin akan kehdupan di akherat nanti, berikut 17 Ayat Al Qur’an tentang motivasi :

1. QS At Taubah : 40


لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ


”Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita””. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah selalu bersama kita”. Ketika menghadapi suatu ujian, tak perlu bersedih hati, kebahagiaan dan kesedihan kadang datang silih berganti tergantung bagaimana kita menghadapinya dan mengambil pelajaran darinya. Kembalikan segalanya pada sang pencipta bahwa segala yang terjadi adalah ketetapan yang terbaik dari Nya.

2. QS Al Baqarah : 155 – 156

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)


'‘Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,”(Al-Baqarah [2]: 155-156)

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

3. QS Yusuf : 87

وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ 

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus dari rahmat Allah melainkan orang orang yang kufur”.  Harapan selalu ada bagi orang yang percaya, hadapi setiap tantangan dalam hidup dengan niat mencari ridho Nya, lakukan usaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan disertai dengan doa. bahaya putus asa dalam islam sudah jelas di dalam Al Quran, berarti ia bukan termasuk golongan orang beriman.

5. QS Al Mukmin : 60


 وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Berdoalah kepada ku pastilah aku kabulkan untukmu”. Setiap kali memiliki hajat atau menginginkan sesuatu hendaknya mengusahakan dengan sungguh sungguh dan meminta pada Allah untuk mengabulkan hajat anda. Allah senang pada hamba Nya yang senantiasa berdoa, karena doa menghubungkan langsung antara seorang hamba dengan Allah.

6. QS Al Imran : 139

وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (١٣٩) إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ (١٤٠)

“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman”. 

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa

Tidak diperkenankan senantiasa memandang diri sebagai orang yang buruk atau penuh kekurangan, setiap manusia mendapat anugrah dari Allah berupa kelebihan dan kelemahan masing masing. Berfikir negatif terhadap diri sendiri menandakan kurang nya rasa syukur. Maksimalkan kelebihan yang anda punya untuk kebaikan dan jadikan kekurangan sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas diri.

8. QS Al Baqarah : 286

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya”. Jelas sekali dalam firmah tersebut Allah senantiasa mengasihi hamba Nya, tidak akan diberikan ujian jika hamba Nya tidak sanggup melewati. Karena itu tidak selayaknya kita berputus asa dalam menghadapi segala tantangan hidup.

9. QS. Al Imraan : 200

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bersabarlah kamu dan kuatkkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu menang”. Allah memerintahkan kepada orang orang beriman untuk senantiasa berusaha dalam kesabaran dan keyakinan. keutamaan sabar dalam islam memang sangat dianjurkan.

11. QS. Ath Thalaq : 3

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (۳) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah ﷻ maka Dia ﷻ akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak tidak disangka-sangka” (Q.S Ats\h-Thalaq 2-3).

“Sesungguhnya Allah bebas melaksanakan kehendak Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu menurut takarannya”. Kembali lagi bahwa manusia adalah milik Allah, maka Allah yang memiliku kuasa untuk mengatur hamba Nya, sebagai orang mukmin wajib untuk percaya bahwa segala sesuatu yang kita miliki sudah sesuai takaran sesuai dengan apa apa yang kita butuhkan.

12. QS Al Baqarah : 216


وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 

 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”. Ketika memiliki hajat akan sesuatu dan belum tercapai hajat tersebut kadang manusia merasa tidak mendapat keadilan dari Allah lalu membandingkan hidup nya dengan orang lain yang menurutnya lebih beruntung dari dirinya. Seperti firman Allah di atas bahwa setiap yang kita kehendaki belum tentu menjadi hal yang baik untuk kita, Allah pasti telah memberi yang terbaik, memberi segala sesuatu sesuai porsi dan indah pada waktunya

13. QS At Taubah : 129


فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ 

“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada Nya aku bertawakal”. Hanya kepada Allah kita berserah diri, bukan pada beratnya ujian hidup, pada rasa cemas atau rasa takut, apalagi pada orang lain. Allah lah yang memberikan kekuatan dan yang paling pantas untuk disembah. Tak perlu takut dalam menghadapi tantangan hidup jika senantiasa berpegang teguh pada Allah dan syariat Nya.

14. QS Al Fajr : 27 – 30

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي 

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Allah dengan hati yang puas, maka masuklah ke dalam rombongan hamba hamba Ku dan kemudian masuklah ke surga Ku”. Betapa Allah maha pengasih, setiap hamba yang taat diberikan imbalan berupa surga. Hal ini harus menjadi motivasi bagi semua umat muslim untuk berlomba lomba dalam kebaikan agar dapat menggapai ridho Nya.

.


I. AYAT RUQYAH.SESUAI AREA


1. KEPALA


A. AYAT:


(لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ)

[Surat Al-Hasyr 21]


B. AYAT:


(وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَىٰ ۗ بَلْ لِلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا ۗ 

[Surat Ar-Ra'd 31]


2. AREA DADA DAN PUNGGUNG


A. AYAT:

  

(بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ)

[Surat Al-Insyirah 1]

(وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ)

[Surat Al-Insyirah 2]


B.AYAT:


(قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي)

[Surat Tha-Ha 25]


C. AYAT:


(وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ)

[Surat Al-Baqarah 250]


3.AREA PERUT

e

Al-ZALZALAH...


4. AREA PAHA DAN KAKI.


A. AYAT:


(وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا اللَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الْأَسْفَلِينَ)

[Surat Fushilat 29]


(وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ)

[Surat Shad 41]


(وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ)

[Surat Shad 43]


Written by : Divruq PP.JRA (Khozinatul Asro)

Aneka Tipe Anak dalam al-Qur'an

 Aneka Tipe Anak dalam al-Qur'an



Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna dan unik. Tidak ada satu pun manusia yang sama persis. Sekalipun saudara kembar, pasti memiliki perbedaan. Akan tetapi, Allah telah mengategorikan berdasarkan kesamaan tipe yang dimiliki. Tulisan ini mengetengahkan tipologi anak yang didasarkan pada hasil penelusuran terhadap ayat-ayat al-Qur'an yang memuat tema anak dan derivasinya. Ada lima tipe anak dalam al-Qur'an, berdasarkan relasi dan kebersamaannya dengan orangtua mereka. Penulis akan berusaha menjelaskan semampunya agar pembaca mudah memahaminya. 

Tipe Lima Anak tersebut adalah : 

Pertama, anak yang menjadi musuh bagi orangtuanya, sehingga membuat repot bahkan resah bagi kedua  orang tuanya. Dalam kesehariaanya orang tua mengajarkan kebaikan kepada orang lain, justru anak sendiri yang melanggarnya. Atau orang tua melarang orang lain agar tidak maksiat, anak sendiri yang menjalankan maksiat tersebut. Contoh anak tipe pertama (musuh orangtua) adalah Kan’an yang memusuhi dakwah orangtuanya (Nabi Nuh AS). 

Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia (Kan’an) bukan termasuk keluargamu, sesungguhnya (perbuatan)nya itu perbuatan yang tidak baik. Oleh sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku, sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya. (Q.S. Hud [11]: 49).

Ayat yang mendasari tipe pertama ini adalah ;Q.S. al Taghabun : 14



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ


Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu, ada yang menjadi musuh bagimu; maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S. al-Taghabun [64]: 14).



Kedua, anak yang menjadi fitnah atau ujian keimanan bagi orangtuanya. Kita telah mengetahui semakin bertambah iman seseorang maka akan semakin bertambah ujian dalam hidupnya. Contoh anak tipe kedua (fitnah bagi orangtua) adalah anak kecil yang dibunuh oleh Nabi Khidhr AS.


Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan anak kecil, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, padahal dia tidak membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar" (Q.S. al-Kahfi[18]:74).

Dan adapun anak kecil (yang saya bunuh) itu, maka kedua orangtuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa anak itu akan mendorong kedua orangtuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran (Q.S. al-Kahfi [18]: 80).


Tipe kedua ini di gambarkan oleh Allah Swt. Dalam surat al anfal ayat 28 dan surat at Taghabun ayat 15 , yang keduanya saling melengkapi dan menguatkan. Dan ini menjadi saling menguatkan   sebagai dalil. Untuk memperkuat keyakinan bila menjadi orang tua. 


وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ


Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan (fitnah) dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang agung (Q.S. al-Anfal [8]: 28). 



إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ


Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah), dan di sisi Allah-lah pahala yang agung (Q.S. al-Taghabun [64]: 15).



Ketiga, anak yang menjadi objek kompetisi atau persaingan antar orangtua. 

Contoh anak tipe ketiga (objek kompetisi atau persaingan antar orangtua) adalah kisah dua pemilik kebun yang termaktub dalam Surat al-Kahfi. Salah seorang pemilik kebun yang sombong berkomentar bahwa keluarganya lebih mulia dibandingkan keluarga pemilik kebun yang shalih: Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan anak-anakku lebih perkasa (kuat)" (Q.S. al-Kahfi [18]: 24).

Menurut Ibn ‘Asyur, ayat di atas berkenaan dengan kebanggaan terkait “anak-anak atau keturunan”, berdasarkan jawaban balik yang dikemukakan oleh pemilik kebun yang shalih, terhadap pernyataan di atas, yaitu Q.S. al-Kahfi [18]: 39 


اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ



Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan saling berbangga antara kamu serta saling memperbanyak harta dan anak sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan anak-anak (keturunan) (Q.S. al-Kahfi [18]: 39).



Keempat, anak yang menjadi perhiasan atau kebanggaan orangtua. Contoh anak tipe keempat (perhiasan atau kebanggaan orangtua) adalah anak laki-laki yang lebih dibanggakan oleh orangtua pada zaman Rasulullah SAW dibandingkan anak wanita; mengingat saat itu (bahkan bisa jadi hingga kini), anak laki-laki dipandang sebagai simbol kekuatan, sedangkan anak wanita dipandang sebagai simbol kelemahan.


Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak wanita. Mahasuci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak wanita, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Dia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu (Q.S. al-Nahl [16]: 57-59).



الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا



Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia; sedangkan amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan (Q.S. al-Kahfi [18]: 46). 



زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ



Dijadikan indah pada (pandangan) manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan lahan pertanian. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 14).



Kelima, anak yang menjadi penentram jiwa orangtuanya (qurrata a’yun). Contoh anak tipe kelima (penentram jiwa orangtua) adalah Habil bagi Nabi Adam AS; Nabi Isma’il AS dan Nabi Ishaq bagi Nabi Ibrahim AS; Nabi Yusuf AS bagi Nabi Ya’qub AS; Nabi Sulaiman AS bagi Nabi Dawud AS; Nabi Yahya AS bagi Nabi Zakariya AS; Sayyidah Maryam bagi Keluarga Imran; Nabi ‘Isa AS bagi Sayyidah Maryam. Semua contoh diatas menjadi bukti bahwa anak yang sholih itu bisa diwujudkan di muka bumi ini, walaupun tantangan zaman yang berbeda.

Allah Swt, berfirman , menjelaskan anak yang diidamkan setiap orang tua setiap masa : 


وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا


Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, mohon anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penentram jiwa (qurrata a’yun), dan mohon jadikanlah kami (sebagai) imam bagi orang-orang yang bertakwa (Q.S. al-Furqan [25]: 74)



وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ



Dan berkatalah istri Fir'aun: "(bayi Nabi Musa ini) adalah penentram jiwa bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita ambil dia menjadi anak", sedang mereka tiada menyadari (Q.S. al-Qashash [28]: 9).



فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ



Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya dia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya (Q.S. al-Qashash [28]: 13).


يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآَتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا (12) وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا وَزَكَاةً وَكَانَ تَقِيًّا (13) وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا (14)



Hai Yahya, ambillah al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh; dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak. Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa); dan ia adalah seorang yang bertakwa. Dan seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dan dia bukanlah orang yang sombong lagi durhaka (Q.S. Maryam [19]: 12-14).