Senin, 30 November 2020

PERKEMBANGAN POB AN-NUR DI SEMARANG

 PERKEMBANGAN  POB AN-NUR DI SEMARANG



Pengkajian Olah Batin (POB) An-Nur di semarang di perkenalkan oleh Bapak Mohamad Sofi Noer Alsa dengan di tandai Pembukaan kepada 6 peserta/anggota pada Tanggal 19 November 1994 oleh Pembina Muda Bapak Suharyadi. Pada saat itu kepengurusan dilaksankan secara tunggal oleh Bapak Mohamad Sofi Noer Alsa sendiri.


Perjalanan perkembangan organisasi tidak begitu berjalan lancar. Hal ini antara lain disebabkan dari anggota POB AN-NUR yang sebagian besar kalangan mahasiswa berdomisili tidak tetap dan setelah lulus pindah tempat tinggal.


Pada bulan Mei Tahun 1999, Sdr Nur Said Abdullah selaku pengelola Pondok Pesantren Hidayatullah memperkenalkan kepada para ”tokoh agama” Gedawang tentang Kajian olah batin AN-NUR. Hadir pada acara perkenalan tersebut Bapak Mohamad Sofi Noer Alsa selaku pengurus Semarang,  pengurus pusat Bapak Suharyadi, Bapak Drs. Haryanto, Bapak Husein Dahlan, Bapak Abdul Muluk dan beberapa teman yang lain. Pertemuan tersebut di lakukan di Masjid Ponpes Hidayatullah, Gedawang, Kec. Banyumanik, Kota Semarang Ba’da Maghrib. Setelah isya’ dilanjutkan dengan latihan yang diikuti oleh 14 orang. Selanjutnya latihan berpindah di kantor koperasi Sakinah, jalan Wonodri baru 41 Kecamatan Semarang Selatan.


Adapun kepengurusan POB AN-NUR Cabang Semarang baru terbentuk dan di kukuhkan pada Tanggal 20 Mei 2000 di Mushola SMP Negeri 26 Banyumanik, Semarang oleh Ketua Pusat POB AN-NUR Bapak  Drs. HM Husein Dahlan dengan sekretariat Gedawang Permai I-7, Banyumanik, Semarang. Susunan Kepengurusan inti sebagai berikut: Ketua oleh Drs. Sugeng Maryanto, Sekretaris oleh Suwarno SH, sedangkan Bendahara di percayakan oleh Harsoyo Wiyoso, BA.


Pusat latihan mengalami berpindah-pindah sejak dari gedung Sakinah. Pusat latihan pernah dilakukan di Gedung Tri Lomba Juang, Kantor Kelurahan Wonodri, Aula SMA Negeri 9, dan terakhir di serambi Masjid Assalam Gedawang Permai.

 

Program latihan selanjutnya diadakan setiap hari minggu pagi jam 06.00 wib di ruang LPQ Masjid As Salam Gedawang permai. Dengan dibimbing pelatih, bapak Suwarno, SH. Karena kesibukan masing-masing anggota An Nur, sekarang latihan bersama belum dijalankan, hanya dianjurkan tetap berlatih secara pribadi di rumah masing-masing

SEJARAH POB AN-NUR

 SEJARAH POB AN-NUR


Pengkajian Olah Batin An-nur merupakan perkembangan dari ilmu tenaga dalam yang bernama MARGA LUYU berasal dari daerah Jawa Barat, tepatnya dari desa Cicalengka yang dipimpin oleh Bapak ANDA (Ma’af nama lengkapnya tidak tahu).


Pada Tahun 1964, saya (Drs.H. Sumitro) di-ajak oleh Bapak Dan Suwarjono untuk ikut latihan Silat Batin (istilah waktu itu) di Kota Wates Kulon Progo, Yogyakarta. Selama beberapa minggu, setiap malam datang ke kota wates untuk latihan sampai selesai sepuluh langkah gerak jurus dengan Bapak Saleh (pak Aleh) sebagai pelatih. Latihan dimulai jam 20.00 sampai dengan jam 03.00 dini hari.


Untuk pembukaan, sebagai langkah awal masuk pada Silat batin harus melakukan puasa tiga (3) hari dan membawa bermacam-macam syarat antara lain: Uang keping, Kembang Setaman, dan syarat-syarat lainnya. Prosesi pembukaan selesai dilanjutkan dengan latihan seperti biasanya untuk memperkuat tenaga. Untuk kenaikan kejenjang tingkat yang lebih tinggi sangat sulit ditempuh, karena banyak syarat yang harus dipenuhi. Kami (Bpk. Drs. Sumitro) tidak sanggup melaksanakan.


Begitu sulitnya untuk kenaikan tingkat, maka Bapak Dan Suwarjono mencari sumber ilmu ini, yang kemudian diketahui berasal dari Cicalengka, Jawa Barat. Maka beliau datang kesana dan diterima sebagai murid Bapak Anda. Selain itu juga di dapat keterangan bahwa pak Aleh itu belum mendapat ijin untuk membuka.


Selama kurang lebih tiga bulan bapak Dan Suwarjono tinggal di Cicalengka untuk menyelesaikan latihan. Latihan dilanjutkan di Jogyakarta dan masih harus bolak-balik ke Cicalengka. Setelah dianggap sempurna maka Bapak Anda memberikan ijin (sertifikat) untuk melatih dan membuka di Yogyakarta dan Jawa Tengah.


Bapak Dan Suwarjono memberikan tawaran kepada saya (Pak Mitro), orang pertama untuk ikut bergabung, namun dengan syarat harus mulai dari awal. Latihan dimulai dari gerak satu dengan ketentuan harus mencapai 24 (dua puluh empat) langkah dalam satu nafas dan harus sempurna. Demikian seterusnya setiap gerakan harus selesai 24 langkah dalam satu nafas. Dan akhirnya dapat selesai dan di buka. Jadi sayalah (pak Mitro) murid pertama Bapak Dan Suwarjono.


Setelah itu banyak murid-murid baru yang bergabung seperti: Prof. DR. Ace Partadireja , Drs. Abdul Kadir, MA (mantan Rektor ASRI), Drs. Amri Yahya (Pelukis), dan Abdul Aziz (Seniman), serta banyak murid kemudian.


Untuk mengikuti Silat Batin itu disyaratkan harus seorang muslim yang aktif. Ada orang bali yang kemudian masuk islam. Pada saat saya diangkat sebagai pelatih, banyak Pibu (tanding) kami lakukan, seperti aliran Kuntau, Taichi, Silat Setrum, murid pak Tino Sidin (Pelukis), Alhamdulillah pada waktu itu selalu di atas angin (menang). Bahkan ada di antara orang yang pibu lalu ingin ikut latihan yang kebetulan seorang Tionghoa, beragama non muslim. Kami (Pak Mitro) bolehkan dengan syarat harus masuk islam dulu, dan dia mau. Akan tetapi dia mengajukan syarat tetap di bolehkan makan daging Babi. Karena hal itu bertentangan dengan ajaran islam maka kami tolak.


Pada saat melakukan kegiatan latihan banyak bacaan atau do’a bercampur bahasa Jawa dan Sunda, yang kadang kala kurang saya mengerti maknanya, sehingga lebih tepat kalau itu disebut sebagai Mantera.Tenaga yang ada dapat disimpan pada benda tertentu sempai pada batas waktu tertentu dengan menggunakan mantera tersebut.


Seiring dengan perjalanan waktu pengikut latihan semakin banyak, dan kami sering melakukan demonstrasi di depan orang lain, bahkan dihadapan para Tokoh Ulama pada saat itu bertempat di Gedung Jogya Kembali dan di Pinulon. Tanggapan para ulama adalah syirik dan ada kadhamnya/Jin penolongnya. Hal ini terjadi sekitar Tahun 1966 – 1967, dan pada tahun tersebut telah terbentuk Silat Batin ini dengan nama PERANA SAKTI yang di ketuai oleh Bapak Dan Suwarjono. Kegiatan latihan semakin aktif apa lagi banyak pengalaman dengan pertarungan melawan eks PKI dan golongan GMN yang mengarah PKI juga. Alhamdulillah kami senantiasa dalam lindungan Allah SWT, bahkan dengan kelompok tenaga dalam TEGOPATI (Salatiga), salah seorang muridnya adalah Aspanudin Panjaitan (sekarang guru besar Perana Sakti) bahkan akhirnya belajar pada saya.


Dengan perkembangan ke ilmuan tersebut saya merasa senang dan juga takut. Senang karena saya selalu menang dalam pibu, sedang takut karena bertanya-tanya: Apakah ini islam atau berbajukan islam saja. Maka tahun itu saya lebih memilih non aktif dan memikirkan akan kebenaran ilmu ini. Apakah sesuai dengan ajaran islam? Keadaan ini juga diketahui oleh oleh Bapak Dan Suwarjono dan waktu itu (1967) saya dipanggil oleh Bapak Dan Suwarjono di berikan penjelasan bahwa ilmu di dasarkan dari ajaran islam. Alasan pokok yang saya pahami adalah:


a.    Di atas telah kami jelaskan ada orang Bali masuk islam. Setelah selesai study di Yogyakarta, ia kembali ke kampung halamannya. Di kampung halamannya dia tidak menjalankan ajaran islam seperti halnya sholat. Suatu saat dia jatuh sakit yang cukup parah. Berbagi pengobatan di lakukan sampai dengan petunjuk anggota keluarganya untuk berobat ke Pedanda di Pura. Selanjutnya dia mendatangi Pedanda yang di-anggap paling tua. Dihadapan Pedanda dia di-obati, Pedanda mengetahui bahwa dia punya ilmu yang baik, namun dia tidak mengakui karena takut kalau dijauhkan dari keluarga. Pedanda memberikan nasehat, dia akan sembuh apabila mengamalkan ilmunya dengan baik, namun dia tetap tidak mau mengaku. Pedanda tersebut membuka rahasia ilmunya, bahwa ilmunya tersebut didasarkan atas ajaran islm dengan kalimat .............(Pedanda diam, tak dapat bicara seperti orang bisu) sehingga ia takut. Sesampai di rumah dia mengaku bahwa dia telah memeluk agama islam, beruntung keluarganya tidak marah, dan demi kesembuhannya dianjurkan untuk melaksanakan seperti keyakinannya. Kemudian penyakitnya berangsur-angsur hilang dan sembuh.

Setelah mendapat cerita itu kami berfikir, berdasarkan islam mengapa masih mensyaratkan kembang segala? Perlu kiranya dilakukan permunian kembali. Hal itu saya sampaikan kepada Bapak Dan Suwarjono yang saat itu baru mempelajari tasawuf, beliau menyatakan setuju.


b.    Dari pengalaman ternyata hampir semua yang mempelajari tenaga dalam pada umumnya mendasarkan diri pada agama. Taichi pada agama Khong Hucu, Aikido pada Shinto, Yoga pada agama Hindu, maka Islam sebagai agam yang sempurna pasti ada juga ha yang demikian itu. Pada saat itu kebetulan saya sedang membaca buku shahih Muslim jilid II, tentang pemuda perkasa yang pada intinya juga masalah kemampuan supernatural itu.


Berdasarkan hal tersebut di atas, saya memutuskan untuk mendalami ilmu ini dan keinginan tahu makin menggebu pada diri saya. Lalu tak kenal lelah dan waktu itu saya latihan melebihi batas. Sampai suatu saat saya mengalami hal yang belum di-alami orang lain yaitu: Saya tidak bisa bergerak dan tidak bisa latihan lagi. Maka oleh Bapak Dan Suwarjono dicari jalan keluarnya, latihan halusan sekitar Tahun 1970. Ternyata baik dan bisa, bahkan tenaganya lebih hebat. Setelah itu di bawa ke Cicalengka. Penemuan itu di-akui dan dikembangkan oleh Bapak Anda sebagi tingkat lanjutan.


Apabila ilmu ini islam, bagaimana bisa datang ke Jawa khusunya Indonesia umumnya? Kami mengadakan penelitian berdasarkan cerita bahwa di Keraton Yogyakarta ilmu ini dimiliki oleh para Raja dan tokoh-tokoh penting.


Hasil penelitian dari beberapa orang yang dapat dipercaya terutama para tokoh keraton dan dari hasil demonstrasi pada para ahli kebatinan di Yogyakarta, maka didapatkan kisah dari mulut sebagai berikut:


”Ada dua orang sakti mandraguna yang tidak mampu dikalahkan oleh para tokoh sakti di jawa. Dua orang tersebut bernama SYAHBANDAR dan ALMAHDI, maka atas perintah Raja Mataram, diutuslah dua Abdi Dalemnya yang setia untuk mempelajari ilmu itu pada orang tersebut samapi tuntas. Setelah tamat sua abdi dalem itu kembali ke Keraton dan memberi pelajaran pada Raja beserta keluarganya. Ilmu ini tidak boleh keluar dari Keraton. Tokoh yang paling terkenal adalah Sultan Agung. Namun tidak berarti sultan lain tidak bisa.


Pada saat Mataram melawan Belanda di Batavia, Mataram mengirim para perwira sakti untuk memimpin perlawanan. Namun serangan itu mengalami kegagalan, dan para manggala tersebut malu kembali ke Mataram dan takut kepada Raja Mataram. Mereka banyak menetap di daerah Jawa Barat dan mengembangkan ilmu kadigdayaannya. Maka tak heran bacaan/doa tersebut bercampur antara arab, jawa dan sunda”.

           

Hal ini juga sama seperti yang di-ajarkan oleh Bapak ANDA yang kemudian diturunkan kepada Bapak Dan Suwarjono, seterusnya disampaikan kepada saya sebagaian kecil, yang mana membuat ragu pada diri saya waktu itu.


Sumber keilmuan kami dapat temukan, maka saya bersama Bapak Dan Sawarjono bersepakat memurnikan ilmu ini. Mantera yang tidak jelas sumbernya kami buang. Kegiatan yang kami lakukan kami konsultasikan kepada Bapak ANDA di Cicalengka. Beliau tidak setuju dan tetap menjalankan seperti yang telah dipraktekkan selama ini sampai sekarang, yaitu membuat jimat,  dan memberikan sabuk bagi murid yang diberi hak membuka, termasuk kepada Bapak Dan Suwarjono. Setelah kami yakin bahwa ilmu yang telah kami murnikan dengan membuang hal-hal yang bertentangan ternyata mempunyai kekuatan yang lebih (dilihat dari para ahli kebatinan: kami tidak mempunyai ilmu, akan tetapi kalau dilawan dia tidak bisa berbuat apa-apa). Maka Sabuk yang diberikan dari Bapak ANDA kami bakar dengan sebotol minyak tanah, namun tidak berhasil. Maka berdo’a kepada Allah ta’ala, apabila sabuk itu pertanda syirik mohon dapat terbakar. Alhamdulillah sabuk itu dapat terbakar dengan sebotol minyak tanah yang ke dua dan sebelumnya tidak ada kekuatan yang menandingi terhadap sabuk itu. Alhamdulillah tanda syirik telah tiada dan saya tidak mau menitipkan tenaga kepada benda atau orang lain.


Keraguan terhadap ilmu hilang dan kegiatan berlatih semakin giat. Tahun 1970 latihan dilaksanakan di Gedung Jogya Kembali yang sebelumnya berlatih di gedung STO yang saat ini dibangun dan digunakan Fak. Geografi UGM. Pada Tahun 1971 latihan di Pangti (istilah tempat latihan di Jl. Kh. Ahmad Dahlan atau Jogya Kembali). Yang bisa berlatih adalah Bapak Abd. Kadir (Rektor ASRI), Abdul Aziz Hartono, SH (Notaris), Dr Harman dan yang lain kurang aktif. Saya tetap sebagai pembantu pelatih bapak Dan Suwarjono.


Pada tahun ini ada murid baru yaitu Abd Kadir dan Aspanudin Panjaitan.  Ada kejadian lucu, Bapak Abd Kadir harus berwudhu dahulu sebelum latihan, sedangkan Aspanudin harus bermandi janabat. Ke-esokan harinya saya melapor kepada Bapak Dan Suwarjono bahwa ada murid baru yang mau ikut latihan. Pak Dan tidak keberatan dan saya yang harus melatihnya. Setelah selesai Bapak Dan Suwarjono tidak mau membuka Aspanudin, tetapi saya yang disuruh membuka, pada hal saya belum merasa bisa, naum akhirnya di buka di rumah Amri Yahya, bersamaan dengan Hamzah Teuku dan Ridwan (Karateka Dan I). Dari ketiga murid itu hanya Ridwan yang mendapat perhatian khusus dari Bapak Dan Suwarjono. Sedangkan Aspanudin dianggap murid saya.


Pada Tahun 1971 ini Bapak Dan Suwarjono tidak aktif lagi karena kesehatannya mulai terganggu. Namun demikian sekitar Tahun 1977 masih ada juga beberapa orang belajar pada beliau yang pada akhirnya semua diserahkan kepada saya. Setiap selesai latihan saya selalu melapor untuk dilakukan pembukaan, akan tetapi Bapak Dan Suwarjono selalu memberikan kepada saya untuk membuka, pada hal saya merasa belum bisa. Pak Dan akan memberi petunjuk dan akan membantu, maka saya lakukan sesuai arahan beliau terhadap Fauzi, Aspanudin yang saat itu telah mendirikan Perana Sakti tanpa seijin Bapak Dan Suwarjono, dan beliau Marah Sekali, termasuk kepada saya. Saya diminta untuk membubarkannya. Aspanudin tidak mau membubarkan, akhirnya aku serahkan semuanya segala akibatnya.


Saat Bapak Dan Suwarjono menderita sakit di rawat di Rumah Sakit, saya mengirimkan banyak buku agama kepada beliau, antara lain: Hidup sesudah mati karangan Bay Arifin, Samudra Alfatikhah, Keajaiban Hati karangan Imam Ghozali. Beliau senang dan minta dicarikan yang lain sejenis. Beliau juga membaca Al-Hikam.


Sejak saat itu penghayatan agama semakin mendalam dan setiap malam selalu berdzikir sampai di dengar tetangga sebelah. Pada saat di Rumah Sakit Panti Rapih Beliau menilai muridnya dari alam ghaib, hanya ada tujuh (7) murid yang baik sesuai dengan ajaran islam termasuk saya. Dari tujuh orang itu ada yang keluar jalur dan ada yang berhenti.


Setelah sembuh beliau mutasi ke Jakarta menjadi dosen di FKJ dan juga menjadi wartawan untuk Harian Berita melanjutkan  dari Yogyakarta. Pada saat itu saya sering dipanggil hanya untuk melatih temannya angkatan laut yang bernama Kapten Supriadi dari Deplu bersama teman-temannya. Pada Tahun 1983 kesehatan beliau mulai menurun, dan saya sering dipanggil ke Jakarta. Kami berdua mendiskusikan tentang ilmu ini, kemudian beliau menanyakan kemajuan serta pengalaman batin saya. Pada tahun 1984 beliau berpesan pada saya untuk lebih giat berlatih sebab ilmunya akan diturunkan kepada saya, dengan syarat saya harus puasa sunnah selama sepuluh (10) hari. Setelah selesai saya berangkat ke Jakarta jam 10 pagi, saya di-ajak ke sebuah Masjid di Depok. Saya sholat Tahiyatul masjid, kemudian shalat hajad, lalu pada saat itu diserahkan kepada saya kunci pembuka. Sejak saat itu kondisi kesehatan beliau terus menurun dan akhirnya menghadap sang Kaliq. Begitu saya mendapatkan kuncinya teman-teman yang dahulu saya buka, aku buka kembali dengan kunci yang diberikan saya.


Sesuai ijin dari beliau yang diberikan kepada saya saja untuk daerah Yogyakarta. Kepada murid-murid tahun 1977-1978 saya buka kembali. Peserta latihan semakin banyak, ada kejadian di Palembang yang mengakibatkan urusan kepolisian, ada ketegangan di gedung KAMI-KAPI Beskalan. Namun dari situ ada hikmahnya, saya dianjurkan oleh DANDIM setempat untuk membentuk kelompok yang lebih tertib dan teratur serta meminta ijin kepada kepolisian dan yang terkait. Atas kesepakatan dengan teman-teman latihan maka dibentuklah suatu kepengurusan walupun belum ada namanya. Kebetulan saya mempunyai anak yang baru lahir pada Tanggal 6 April 1979 dan diberikan nama Muhammad Annuur Wijaya Kesuma, maka pada Tanggal 6 Mei 1979 saya beri nama kelompok tersebut: KELOMPOK PENGAJIAN AN-NUUR, dengan niat akan mengisinya dengan ceramah agama dan masalah pendidikan. Namun setelah meminta ijin sampai beberapa lama tidak juga keluar, maka nama tersebut atas kesepakan teman-teman kita ganti dengan Pusat Latihan Tenaga Dalam An-Nuur, Yogyakarta. Ternyata masih tetap sulit mendapatkan ijin dari IPSI, karena tenaga dalam tidak termasuk dalam katagori silat yang tidak mempunyai jurus yang dipertandingkan. Ke PDK juga ditolak karena tidak mempunyai kurikulum. Atas anjuran beberapa teman yang tahu tentang seluk beluk perizinan di Kejaksaan, maka nama itu dirubah lagi pada Tahun 1985 menjadi PENGKAJIAN OLAH BATIN AN-NUUR YOGYAKARTA. Dikarenakan olah batin termasuk bidang PAKEM, maka Kejaksaan Yogyakarta mengeluarkan izin dengan nama yang dipakai sampai sekarang. Tujuan Kajian olah Batin ini tetap untuk MEDIA DAKWAH  dan untuk menunjang penghayatan dalam bidang agama harus ada pengajian atau ceramah agama yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. (di ketik ulang dari Drs. H. Sumitro)

PENGANTAR POB "AN NUUR"

 PENGANTAR POB "AN NUUR"



Pengkajian Olah Batin “AN NUUR” yang disingkat dengan POB “AN NUUR” adalah suatu organisasi yang mempunyai kegiatan memadukan antara gerak jurus, nafas dengan dzikir.  Didirikan oleh Bapak Drs. Sumitro pada tanggal 26 Mei 1979, bertempat di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pusatnya dan daerah – daerah lain di seluruh Indonesia sebagai cabangnya.

Nama An-Nuur dalam Pengkajian Olah Batin itu diambil dari nama anak pendiri (Drs. H. Sumitro NS) yang bernama Muhamad An-Nuur Wijaya Kesuma. Menurut bahasa kata An Nuur mempunyai arti cahaya, sedangkan menurut istilah kata An-Nuur dapat diartikan sebagai penerangan di dalam kegelapan

            Adapun didirikannya POB “AN NUUR” mempunyai tujuan untuk :

1.      Mengolah fisik dan mental / olah batin dalam bentuk tenaga dalam.

2.      Menjunjung tinggi serta mengamalkan ajaran agama islam.

3.      Melestarikan, menggali dan menumbuhkankembangkan kebudayaan bangsa yang tidak bertentangan syariat Islam.

Dari sudat pandang keilmuan maka kajian olah batin An-nuur ini berdasar pada firman Allah Qs. An-nuur (24);35:

۞ ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ


Artinya : Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Sedangkan dari sudut pandang gerakan jurus maka kajian olah batin ini berdasar pada firman Allah Qs Al-Zukruf (43); 36-37:

وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ ٱلسَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُون

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَنَا قَالَ يَٰلَيْتَ بَيْنِى وَبَيْنَكَ بُعْدَ ٱلْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ ٱلْقَرِينُ


Artinya : Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.


Dari segi tauhid maka kajian olah batin berdasar pada firman Allah :

Qs. Al-Anam (6); 162:


قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Artinya :”Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”

Qs. Al-A’raaf (7); 172:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

3.      Qs. Az Zumar (39); 2:

إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ فَٱعْبُدِ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ


Artinya : Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya.